Asro Pun’ Blog

SIS : (8) Developing The Safety Requirement Specification

Posted by asro pada 21 Juli 2009

Dalam safety design life cycle, setelah diputuskan untuk menggunakan SIS dan penentuan SIL, langkah selanjutnya adalah membuat/mengembangkan safety requirement specification (SRS). SRS terdiri dari 2 bagian, yaitu: 1) functional requirement specification, dan 2) integrity requirement specification. Functional requirement specification menggambarkan proses terjadinya interlock atau apa yang akan dilakukan oleh SIS. Sebagai contoh, apabila terjadi penurunan tekanan (low pressure) di vessel A, maka valve B akan menutup secara otomatis. Integrity requirement specification menggambarkan kemungkinan valve B benar-benar menutup saat terjadinya penurunan tekanan di vessel A. Jadi ia menggambarkan kemampuan atau seberapa baik SIS bekerja.

Dalam membangun sebuah pabrik (plant), yang paling baik adalah merancang pabrik seaman mungkin, dimana tidak ada sama sekali potensi terjadinya bahaya. Akan tetapi hal ini tidak akan mungkin, pasti selalu ada potensi bahaya. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mencegah terjadinya bahaya adalah menggunakan peralatan instrument untuk memonitor kondisi proses dan menggerakan peralatan ke kondisi yang benar, dimana bahaya dapat dicegah. Menentukan variabel proses mana yang akan dimonitor, aksi apa yang akan dilakukan oleh safety control dan sebaik apa system tersebut beroperasi merupakan isi dari SRS (functional requirement specification dan integrity requirement specification).

Secara umum, informasi yang harus ada dalam SRS adalah:

1.    Documentation and Input Requirement:

  • P&IDs.
  • Cause-and-effect diagram.
  • Logic diagrams.
  • Process data sheets.
  • Process information (Incident cause, dynamics, final elements, etc) of each potential hazardous event that requires an SIS.
  • Process common cause failure considerations such as corrosion, plugging, coating, etc.
  • Regulatory requirements inpacting the SIS.
  • Other.

2.    Functional Requirement:

  • The definition of the safe state of the process, for each of the identified events.
  • The process inputs to the SIS and their trip points.
  • The normal operating range of the process variables and their operating limits.
  • The process output from the SIS and their actions.
  • The functional relationship between process inputs and outputs, including logic, math functions, and any required permissives.
  • Selection of deenergized to trip or energized to trip.
  • Consideration for manual shutdown.
  • Action(s) to be taken on the loss of energy souce(s) to the SIS.
  • Response time requirement for the SIS to bring the process to a safe state.
  • Response action to any overt fault.
  • Human-machine interfaces requirements.
  • Reset function(s).
  • Other.

3.    Safety Integrity Requirement.

  • A list of the safety function(s) required and the SIL of each safety function.
  • Requirements for diagnostics to achieve the required SIL.
  • Requirements for maintenance and testing to achieve the required SIL.
  • Reliability requirements if spurious trips may be hazardous.
  • Failure mode of each control valve.
  • Failure mode of all sensors and transmitters.
  • Other.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: