Asro Pun’ Blog

Hurdle Rate

Posted by asro pada 22 Mei 2009

Modal (capital) merupakan dana yang disiapkan oleh suatu perusahaan untuk membiayai investasi yang dilaksanakannya. Modal itu memiliki biaya (cost of capital), yang secara umum didefinisikan sebagai tingkat pengembalian (return) yang diharapkan oleh pemiliknya ketika ia berinvestasi dalam suatu investasi yang berisiko.  Suatu investasi menguntungkan apabila rate of return (IRR) investasi tersebut lebih besar dari biaya modal yang digunakannya.  Oleh karena itu, dalam berinvestasi biaya modal ini disebut juga dengan hurdle rate.

Umumnya, modal yang digunakan untuk investasi terdiri dari beberapa  komponen, yaitu hutang/pinjaman, saham preferen, laba ditahan dan saham biasa. Biaya setiap komponen modal berbeda-beda, sehingga biaya modal yang akan digunakan untuk perhitungan hurdle rate adalah nilai rata-rata  tertimbang (WACC : weight average cost of capital) dari komponen modal, yang diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut:

WACC = wdkd(1 – T) + wps kps + ws ks + we ke

  • wd    :  persentase hutang terhadap keseluruhan modal.
  • kd     :  biaya hutang (tingkat bunga hutang sebelum pajak).
  • T       :  pajak.
  • wps  :  persentase saham preferen terhadap keseluruhan modal.
  • kps   :  biaya saham preferen.
  • ws     :  persentase laba ditahan terhadap keseluruhan modal.
  • ks      :  biaya laba ditahan.
  • we     :  persentase saham biasa baru terhadap keseluruhan modal.
  • ke      :  biaya saham biasa baru.

Utang/Pinjaman.  Biaya hutang sebelum pajak kd mapun pajak bisa  diperoleh dengan mudah dari data perusahaan.

Saham Preferen.  Biaya saham preferen kps merupakan tingkat keuntungan yang didapat  pembeli saham preferen, yang dihitung dengan fermula kps = Dp/Pn, dengan Dp adalah dividen saham preferen tahunan dan Pn adalah harga saham preferen bersih yang diterima perusahaan penerbit (setelah dikurangi biaya peluncuran/flotation cost).

Laba Ditahan.  Perusahaan dapat menahan sebagian laba yang diperolehnya untuk modal sendiri.  Apakah laba yang ditahan ini memiliki biaya? Ya, tentu saja, kalau tidak pemegang saham/investor akan rugi.  Lalu berapa biaya untuk laba ditahan kstersebut?  Apabila laba tidak ditahan, maka pemegang saham/investor dapat menginvestasikannya, seperti misalnya membeli saham, obligasi, dan lain sebagainya.  Oleh karena itu, perusahaan harus memberikan keuntungan kepada pemegang saham/investor atas laba yang ditahan tersebut sama dengan jika mereka menginvestasikannya pada investasi lain yang memiliki risiko yang sama  dengan risiko perusahaan.  Keuntungan inilah yang akan diperhitungkan sebagai biaya laba ditahan ks itu.  Biaya laba ditahan dapat dihitung dengan 3 cara/pendekatan, yaitu CAPM (capital asset prising model), DCF (discounted cash flow) dan Bond-Yield-Plus-Risk Premium.

Dengan CAPM, biaya laba ditahan dihitung dengan rumus berikut:

ks = krf + (km – krf)b

  • krf : risk free rate
  • km  : market portofolio rate.
  • b     : beta factor

Dengan DCF, biaya laba ditahan dihitung dengan formula berikut:

P0 = Div1/(1+ks)1 + Div2/(1+ks)2 + … + (Divh + Ph)/(1+ks)h

Apabila pertumbuhan dividen konstan, maka bisa menggunakan Gordon model berikut:

P0 = Div0 (1 + g)/ks – g.

  • P0   : harga jual saham.
  • Div : dividen saham.
  • h     : tahun.
  • g     : dividen growth.

Cara perhitungan biaya laba ditahan lainnya adalah dengan menggunakan metode Bond-Yield-Plus-Risk Premium.  Metode ini didasari dari kenyataan bahwa membeli saham lebih berisiko dari membeli obligasi yang memberikan penghasilan relatif tetap dan pasti.  Oleh karena itu, investor yang membeli saham akan mengharapkan premi risiko di atas keuntungan obligasi.  Sehingga dengan pendekatan ini biaya laba ditahan dihitung dengan rumus  berikut:

ks = Tingkat keuntungan obligasi perusahaan + premi risiko.

Saham Biasa.  Perusahaan juga dapat memperoleh modal sendiri dari penjualan saham biasa.  Akan tetapi hanya perusahaan yang sudah matang (mature) yang menerbitkan saham biasa, karena biaya flotationnya yang tinggi.  Perhitungan biaya saham biasa ke dapat menggunakan Gordon model berikut.

ke = (Div0 / P0 (1 – F)) + g

  • P0       : harga jual saham.
  • F         : flotation cost.
  • Div0 : dividen saham pada t = 0.
  • g         : dividen growth.

Contoh Investasi di PT. Yoas.  PT. Yoas  adalah suatu perusahaan dalam negeri yang bergerak di sektor hulu perminyakan (exploration & production). Saat ini, dalam membiayai investasi, PT. Yoas menggunakan dua jenis modal, yaitu modal sendiri (equitas) dan hutang jangka panjang.

Biaya hutang jangka panjang dan pajak bisa diperoleh dari data perusahaan. Sedangkan biaya ekuitas dihitung dengan menggunakan metode CAPM, dengan rumus seperti yang dijelaskan diatas, yaitu:

ks = krf + (km – krf)b

Akan tetapi, karena saham PT. Yoas belum diperdagangkan di pasar saham, maka km yang relefan tidak tersedia, sehingga rumus yang dipakai sedikit dimodifikasi menjadi sbb:

ks = krf + (RPM)b

Dengan RPM : Risk Premium = Country Risk Premium + Equity Market Risk Premium.

Dengan asumsi bahwa Country Risk Premium mempunyai dampak yang sama terhadap semua dunia usaha di Indonesia maka persamaan diatas dimodifikasi lagi menjadi:

ks = krf + Country Risk Premium + (Equity Market Risk Premium)b.

Risk Free Rate (krf) menggunakan referensi US T-Bond selama 10 tahun.

Country Risk Premium Indonesia diperoleh dengan membandingkan yield spread antara Global bon Indonesia dan US Treasury Note. Informasi ini bisa diperoleh dari Laporan Bank Indonesia. Yield spread ini merupakan spread dalam pasar obligasi sehingga diperlukan penyesuaian ke dalam equity market, dengan cara mengalikannya dengan relative equity market volatility (std dev in country equity market/std dev in country bond).

Equity Market Rsk Premium menggunakan referensi dari mature market yaitu US average premium.

Beta Coefficient menggunakan referensi data industri di emerging market. Beta coefficient emerging market yang relefan dengan bisnis PT. Yoas adalah Oil Company (E&P) dengan nilai sebesar 1.45.

WACC menggambarkan risiko rata-rata keseluruhan investasi yang dijalankan oleh PT. Yoas, sehingga WACC hanya bisa digunakan sebagai hurdle rate untuk investasi yang tingkat risikonya sama dengan rata-rata keseluruhan investasi perusahaan.  Karena setiap investasi memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda maka hurdle rate untuk setiap kelompok investasi juga akan berbeda. Untuk memperoleh hurdle rate suatu kelompok investasi dibutuhkan penyesuaian dari WACC yang relefan dengan besaran Specific Property Risk Premium.  Specific Property Risk Premium pada dasarnya membandingkan volatilitas return satu jenis investasi dengan volatilitas return portofolio seluruh investasi.

Berikut adalah contoh perhitungan hurdle rate PT Yoas

Hurdle Rate 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: