Asro Pun’ Blog

SIS: (6) Risiko

Posted by asro pada 8 Mei 2009

Berbicara tentang SIS tidak bisa lepas dari risiko (risk), karena SIS itu ada untuk menekan adanya risiko.  Untuk itu, serie kali ini akan membahas sedikit mengenai risiko.

Bekerja di kilang minyak jelas mengandung risiko, tapi jangan disangka duduk di rumah nonton TV sambil makan-makan itu tidak berisiko!  Pernah dengar orang  meninggal gara-gara keselek baso saat sedang makan baso? Jadi jelas, risiko ada dimana-mana. Yang membedakan antara satu dengan yang lainnya adalah besarnya, satu mungkin lebih berisiko dari yang lainnya.

Bekerja di kilang minyak jelas lebih berisiko dari hanya sekedar duduk-duduk di rumah, oleh karena itu banyak upaya yang dilakukan untuk menekan tingkat risiko di kilang minyak (atau pabrik-pabrik petro kimia lainnya), termasuk dengan menggunakan SIS.  Tapi pertanyaannya seberapa besar tingkat risiko di kilang minyak yang akan ditekan? Apakah hingga ke tingkat yang sama dengan risiko duduk-duduk di rumah?  Upaya pengurangan risiko membutuhkan biaya, semakin rendah risiko yang dikurangan semakin mahal biayanya.

Apa itu risiko? Banyak kalimat yang dibuat untuk menjelaskan risiko, salah satunya adalah “ risiko merupakan gabungan antara probabilitas dan severitas“. Atau dengan kata lain, seberapa seringkah ia dapat terjadi dan seberapa jelek akibat yang ditimbulkannya? Risiko dapat dievaluasi/diukur dengan cara kualitatif maupun kuantitatif.

Presepsi orang terhadap risiko. Presepsi orang terhadap risiko sangat beragam,  bergantung pada pengetahuan dan kebiasaan mereka terhadap risiko tersebut.  Pada jaman sekarang, orang-orang sudah terbiasa mengendarai mobil/motor, sehingga risiko dalam berkendaraan dianggap rendah.  Bandingkanlah, jika tiba-tiba ada sebuah pabrik petrokimia didirikan di dekat perkampungan.  Karena pengetahuan tentang pabrik petrokimia  umumnya sangat rendah bagi orang kebanyakan, maka mereka langsung mengklaim  pabrik yang dibangun tersebut memiliki risiko yang tinggi, meskipun mungkin perusahaan tersebut sudah mengoperasikan banyak pabrik sejenis dan belum pernah terjadi kecelakaan fatal.

Presepsi orang terhadap risiko juga bergantung pada jumlah kemungkinan yang meninggal pada suatu kejadian.  Misalnya, jumlah orang meninggal akibat kecelakaan di  jalan raya pertahun jauh lebih besar dari kecelakaan di kilang minyak.  Akan tetapi karena satu kecelakaan di jalan raya umumnya hanya menyebabkan satu atau sedikit yang meninggal, maka ia tidak sehebo meledaknya sebuah kilang minyak yang bisa menewaskan puluhan hingga ratusan orang, walaupun itu jarang sekali terjadi.

Umumnya melihat risiko itu sifatnya sangat subyektif dan intuitif, apalagi risiko pribadi.  Sebagai contoh, seorang ibu yang takut pesawat terbang, tidak akan mengijinkan seluruh anggota keluarganya menggunakan satu pesawat saat berpergian.  Padahal ketika berangkat menuju bandara, mereka semua menggunakan satu mobil dan ia tahu bahwa pesawat terbang merupakan sarana transportasi yang lebih aman dibandingkan dengan transportasi darat.  Contoh lainnya, dengan alasan keselamatan seorang kawan selalu menggunakan safety belt saat mengendarai mobilnya.  Tapi di sisi lain kawan ini adalah seorang perokok berat, dan dia tahu bahwa dampak merokok itu cukup tinggi terhadap  kematian.

Voluntary vs involuntary risk.  Risiko bisa dibedakan menjadi voluntary dan involuntary. Contoh risiko voluntary adalah mengendarai mobil, merokok, dsbnya. Sedangkan contoh risiko involuntary adalah perokok pasif. Suatu risiko, bisa bersifat voluntary bagi seseorang, tapi involuntary bagi yang lainnya.  Sebagai contoh pabrik petrokimia yang didirikan di dekat perkampungan.  Bagi sebagian orang yang sudah mendiami perkampungan tersebut sebelum pabrik didirikan, keberadaan pabrik dianggap sebagai risiko voluntary.  Tetapi bagi mereka yang baru saja membeli rumah di perkampungan sesudah adanya pabrik, keberadaan pabrik merupakan risiko involuntary.

Tingkat risiko.  Secara umum ada 3 tingkat risiko. Tingkat paling bawah adalah tingkat risiko yang sangat rendah sehingga bisa diabaikan (neglible risk). Contoh untuk ini adalah tersambar petir, walaupun ada juga yang tersambar petir, namun ini tidak  membuat orang susah tidur hanya karena pikiran takut tersambar petir.  Tingkat risiko berikutnya adalah yang dapat diterima (acceptable/tolerable risk). Suatu risiko bisa diterima apabila potensi keuntungan yang didapat lebih besar dari kerugian. Contoh yang paling jelas adalah mengendara mobil, walaupun sering terjadi kecelakaan, tapi ini tidak membuat orang berhenti mengendarai. Tingkat risiko yang paling atas adalah yang tidak bisa diterima (unacceptable risk). Contoh risiko ini adalah reaktor nuklir di Indonesia saat ini. Sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini masih menolak rencana pembangunan reaktor nuklir baru.

Acceptable risk di industri proses.  Meskipun semua kecelakaan di industri proses tidak boleh terjadi, akan tetapi menghilangkannya seratus persen itu tidak akan mungkin. oleh karena itu perlu ditentukan seberapa banyakkah jumlah kejadian yang masih bisa  diterima.

Konsep tingkat risiko yang dapat diterima (acceptable risk) ini tidak semata-mata merupakan isu teknis tetapi juga menyangkut aspek filosofis dan moral, sehingga sangat sulit untuk ditentukan.

Bagaimana kita harus mengestimasi kejadian yang sangat jarang terjadi?  Katakanlah,  probabilitas terjadinya kecelakaan di sebuah pabrik petrokimia dibatasi 10-6  per-tahun. Bagaimana mengartikan angka statistik ini di dunia nyata?  Apakah kita harus membangun sepuluh ribu pabrik petrokimia, lalu mengoperasikannya selama seratus tahun baru bisa mendapatkan angka ini?

Dari sisi jumlah kematian akibat kecelakaan misalnya, berapa jumlah kematian maksimum yang diijinkan? Apakah 1 orang dalam 1 tahun atau 10 tahun atau a00 tahun?  Katakan 1 orang dalam 10 tahun, apakah perusahaan berani mempublikasikan angka ini?  Karena angka ini oleh masyarakat bisa dipresepsikan sebagai perusahaan mengijinkan untuk membunuh 1 orang dalam 10 tahun.  Jadi acceptable risk tidak sekedar angka statistik, tapi menyangkut aspek moral.

Dengan adanya kesulitan seperti tersebut di atas, maka jarang sekali perusahaan/lembaga yang berani menentukan angka  acceptable risk ini, apalagi mempublikasikannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: