Asro Pun’ Blog

Si Kuncup : (7) Saya Akan Menjadi Suara Bathinmu!

Posted by asro pada 6 Februari 2009

Mami tersayang.

Mami agaknya masih sangat bingung. Juga saya. Orang tua Mami baru saja menghantar Mami kembali dari dokter. Bersama-sama, kalian telah menjatuhkan putusan tentang diri saya. Minggu ini saya harus pergi. Memang, Mami tidak bicara sepatah kata pun. Dengan wajah pucat karena malu, Mami menatap lantai. Mereka berdiskusi dan mengambil keputusan seolah-olah pendapat Mami tidak perlu didengarkan. Mami tidak berani membuka mulut untuk membela hak saya.

Tinggal beberapa hari lagi saya akan dihukum mati. Saya hanya akan menulis beberapa surat lagi, lalu suaraku akan membungkem selama-lamanya. Hanya Mami dan beberapa kawan dekat Mami yang akan tahu bahwa saya pernah ada. Saya tidak meratapi nasibku; saya meratapi nasib Mami. Mami, dengarkan baik-baik apa yang kini mau saya sampaikan. Meskipun saya tidak akan menulis surat-surat lagi, suaraku tidak akan lenyap. Suaraku akan terus bergema dalam diri Mami, suaraku akan menjadi suara bathin Mami. Saya tahu siapa-siapa yang akan membunuh si Kuncup; saya tidak pernah akan melihat senyuman mereka lagi. Oh, mereka akan menyesal; penyesalannya akan sangat dalam! Mereka akan pergi ke tempat pengakuan; mereka akan menggunakan waktu berjam-jam berlutut di dalam gereja dan tempat-tempat ibadah, tetapi tidak pernah akan terkikis dari ingatan mereka, fakta bahwa mereka telah membunuh buah kandungan mereka, bahwa mereka adalah pembunuh anak sendiri. Mereka harus mengalaminya. Kain membunuh saudaranya. Sesudah itu tidak ada ketenangan dan damai dalam dirinya. Untuk selama-lamanya ia lari dari Allah sebagai buronan. Tetapi ia tidak dapat melarikan diri dari dirinya sendiri. Karena itu dapatkah seorang ibu yang membunuh anaknya memiliki ketentraman dan damai?

Mendapat gelar “Mami” indah dan sedap. Tetapi setiap kali mendengar panggilan itu hati Mami akan terluka. Mami akan merasa diri bukan sebagai seorang Mami sesungguhnya, melainkan sebagai seekor binatang buas, binatang aneh dari hutan yang kerjanya hanya merusak dan membinasakan.

Sedih dan kesal akan menyayat hati Mami. Mami tidak mampu melupakannya. Hidup Mami akan jadi sebagai neraka. Bukankah hidup tanpa ketentraman bathin adalah neraka?

Coba bayangkan berapa banyak waktu yang kelak Mami gunakan untuk berhadapan dengan diri Mami sendiri dan tenggelam dalam perasaan putus asa. Mami ingin mati saja tetapi Mami takut mati dan takut menghadap Hakim, menghadap kebenaran yang sekian jelas.

Mami katakan, semuanya akan lewat! Perhatikanlah wanita tua yang selalu ada di gereja dan yang selalu mempersembahkan karangan bunga kepada Perawan Tersuci. Semua orang katakan dia sangat saleh dan baik. Memang benar! Tetapi pernahkah Mami melihat dia tersenyum? Pernahkan ia nampak bahagia? Ia tiga kali melakukan pengguguran. Ia coba memperbaikinya dengan harta kekayaannya. Tetapi sekarang meskipun ia berbuat banyak kebaikan dan berdoa, tokh ia tidak dapat menemukan kebahagiaan itu.

Mami, saya sayang Mami, saya masih mencintai Mami!

SI KUNCUP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: