Asro Pun’ Blog

Si Kuncup : (6) Dibuang?

Posted by asro pada 31 Desember 2008

Mami tersayang,

Malam ini Mami tak dapat tidur. Saya mendengar keluhan-keluhan Mami. Saya rasakan air mata Mami. Saya juga tak dapat tidur, meskipun di sini selalu malam, selalu gelap. Betapa saya rindu melihat terang, melihat benda-benda, melihat aneka warna, bermain-main dengan barang-barang mainan, mempunyai kawan bermain, berbicara dan bercinta!

Betapa indah tentunya dapat bergerak, merenggangkan tangan dan kaki, berjalan-jalan dan memperhatikan hal yang indah-indah dan benda-benda yang diciptakan Allah untuk kita! Betapa aku rindu meneliti sekian banyak benda-benda ajaib, bersahabat dengan manusia lain, mengenal dunianya dan mencintai mereka! Terlebih -lebih betapa saya rindu melihat wajahmu, matamu, senyummu dan senyum kembali kepadamu, Mami!.

Saya ingin hidup. Pasti indah kehidupan itu! Orang ceritakan bahwa sesudah hidup ini kita akan pergi ke suatu negeri yang indah, jauh ……………………. sangat jauh di atas awan, tempat diam banyak anak kecil.

Mereka bermain-main di bawah sinar matahari yang lembut, di taman-taman yang permai, di antara bunga-bungaan yang beranekawarna. Juga burung-burung sangat jinak dan bernyanyi untuk anak-anak serta bermain-main dengan mereka. Di sana anak-anak dapat memperoleh semua permainan yang mereka suka; di sana berdiamlah seorang Bapa Pengasih yang menjaga dan membahagiakan mereka sebahagia-bahagianya. Mami, saya harap suatu waktu Mami akan menghantar saya ke taman yang indah itu. Di sana Mami menemani saya bermain.

Tetapi mengapa Mami menangis?

Saya mengerti! Mami kebetulan menangkap isi bisikan orang tua Mami. Mereka membicarakan sesuatu yang ngeri. Mereka merencanakan membunuh si Kuncup agar ia tidak lagi menulis surat kepada Mami.

Mereka merencanakan melakukannya sekarang justeru ketika si Kuncup masih sangat kecil, masih belum dikenal oleh dunia, masih tidak dapat dibela dan berteriak kepada seorang pun untuk mengatakan bahwa si Kuncup ingin hidup, si Kuncup punya hak untuk hidup, si Kuncup manusia biasa seperti kalian, seperti mereka, seperti semua orang lain yang merasa hidupnya penting dan perlu dipelihara.

Semula si Kuncup sangka bahwa kakek-nenek si Kuncup akan senang dan menerima kedatangan si Kuncup dengan gembira, bahwa dunia yang akan si Kuncup masuki adalah dunia cinta, dunia persaudaraan, dunia keadilan, suatu dunia manusia. Tetapi kini Kuncup mulai sadar bahwa dunia itu bagaikan hutan rimba, tempat binatang-binatang buas. Kiranya sampaikan kepada orang tua Mami bahwa Kuncup tidak mau mati, bahwa Kuncup mau melihat terang, bahwa Kuncup ingin menjadi besar, kuat, bijaksana dan baik.

Mami, kerahkanlah kekuatanmu dan sampaikan kepada mereka bahwa mereka juga akan menjadi tua, kesepian dan membutuhkan Mami. Mereka akan sakit, tidak berdaya dan lemah ingatan. Mereka akan membutuhkan Mami. Mereka akan membutuhkan cinta dan perawatan yang baik. Mereka pasti tidak akan mau dianggap sebagai beban yang membosankan Mami. Tetapi jika sekarang mereka mengajar Mami dan memaksa Mami membunuh anak Mami karena ia dapat menjadi beban dan memberi malu kepada mereka dan kepada Mami, tanpa sadar mereka mengajar Mami agar suatu saat Mami boleh membunuh mereka juga. Betapa mudah!

Apakah mereka lebih berhak untuk hidup daripada saya?

Apakah Mami lebih mencintai orang-tua daripada anak Mami sendiri? Sekali orang telah menuntut hak mengambil hidup manusia dalam tahap permulaannya, dengan hak apa hidup itu dapat dipertahankan pada tahap-tahap selanjutnya? “Pembunuhan bayi” membuka jalan kepada “Pembunuhan orang-orang dewasa”. Inilah suatu masa depan yang mencemaskan yang Mami ciptakan untuk diri Mami sendiri. Mami menghancurkan cinta dan kepercayaan antara keluarga-keluarga terdekat; Mami mendatangkan kebencian dan kecurigaan yang dalam; Mami melenyapkan kegembiraan dan kebahagiaan.

Ketakutan akan meracuni hidup Mami.

Ketakutan bahwa keluargamu, dokter-dokter, negara boleh merencanakan kematianmu bila hidupmu tidak berguna lagi, bila kalian dianggap telah menjadi beban bagi orang lain. Sekali bila kalian telah membinasakan keluhuran hidup manusia, setiap kehidupan manusia, kalian tidak punya hak lagi untuk dihormati dan dicintai justeru karena kalian adalah manusia. Kalian dihargai hanya kalau dianggap masih berguna, masih menarik atau masih dapat memberikan sesuatu. Kalian dianggap kehilangan hak untuk hidup dan dicintai hanya atas dasar dirimu sendiri. Suatu pendewaan diri sendiri akan disisipkan ke dalam pergaulan antar manusia. Kalian sangka, kalian hanya membinasakan saya tetapi kenyataannya kalian tengah membinasakan diri dan masyarakan kalian sendiri. Izinkan saya mengutip kata-kata seorang pujangga: “Jangan pernah bertanya untuk siapa bunyi lonceng. Lonceng berbunyi untuk anda juga“.

SI KUNCUP.

2 Tanggapan to “Si Kuncup : (6) Dibuang?”

  1. Jason said

    Terimakasih atas tulisan ini.
    Akan saya berikan untuk istri saya.
    Kami ada rencana menggugurkan kandungna, karena istri saya depresi & tidak mau hamil.

    Doakan kami, supaya kami tabah & istri saya bisa menerima janin yang dikandungnya
    Amin

    Jason

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: