Asro Pun’ Blog

Si Kuncup : (4) Malu?

Posted by asro pada 3 Desember 2008

Mami tersayang,

Kini saya mengerti mengapa Mami begitu bingung.  Mami katakan, Mami malu.  Ketika pertama kali saya menulis kepada Mami bahwa saya ada di sini, Mami tenggelam dalam lautan kebingungan dan kegelisaan.  Semuanya disebabkan karena Mami malu.  Malu karena apa?  Mami katakan bahwa saya datang ke dunia ini melalui jalan yang salah, bahwa saya tidak punya ayah.  Mami katakan juga bahwa semuanya jadi disaat Mami dalam kelemahan, ketika Mami lengah, tatkala  Mami lupa bahwa Mami adalah seorang gadis dari keluarga baik-baik dan terhormat, bahwa hingga saat itu Mami terhitung anak yang terpuji.  Memang Mami tak pernah menyangka bahwa hal itu akan terjadi.  Bahwa Mami tidak tahu pasti apa arti semuanya itu.  Mami hanya sekedar  ingin mendapat  pengalaman tentang apa yang kerap didengar dari kawan-kawan dalam percakapan dan obrolan yang bersifat rahasia, terlarang tetapi nikmat.  Namun yang manis segera berubah menjadi pahit.  Kemurnian, ketenangan dan perasaan damai Mami lenyap.  Tambahan lagi kawan lelaki yang sangat bermulut manis itu menghilang dan akhirnya seperti tidak tahu-menahu tentang keadaan Mami.

Kini Mami malu menceritakan semuanya kepada orang tua Mami.  Apa reaksi oma dan opa?  Apa yang akan mereka katakan?  Apakah mereka akan mengusir Mami?  Apakah mereka masih akan mencintai Mami?  Berapa banyak kali Mami berada dekat oma dan coba meluapkan segala sesuatu kepadanya, tetapi batal.  Mami tidak punya keberanian!  Kata-kata tak dapat keluar dari Mulut Mami;  Mami mencahari langit yang hampa; Mami kembali kedalam diri sendiri dan mulai tenggelam dalam lorong yang gelap menuju tempat di mana Mami dapat sibuk dengan diri sendiri.

“Bagaimanapun juga”,  pikir Mami, “tidak akan jadi apa-apa; saya harus mengatasinya dan melupakannya.”

Tetapi tidak mungkin! Sesudah menerima suratku yang pertama, Mami jadi pasti.  Dan sekarang?  Mami harus sampaikan kepada mereka, Mami tidak bisa lagi menghindar.  Mami tidak tahu apa reaksi mereka, penyelesaian apa yang mereka pilih dan usulkan, apa yang akan terjadi atas diri Mami.  Mami malu karena menodai kehormatan keluarga Mami.  Seandainya Mami sanggup, satu-satunya jalan ialah melarikan diri, lenyap dari pandangan orang, hilang tak berbekas.  Dengan itu mungkin semuanya teratasi.  Namun dapatkah melarikan diri dari diri Mami sendiri?  Dapatkah menjinakkan suara bathin Mami?

Mami tersayang, lupakan masa lalu dan marilah bersama kita berkayuh ke depan.  Kita sama-sama akan berbagi rasa, berbagi kegembiraan dan juga rasa malu;   Mami malu karena menjadi ibu yang tidak syah, saya malu karena menjadi anak yang tidak diakui.  Kita akan saling bercinta.  Kita akan bersama-sama membangun dunia kecil kita.  Jika sesewaktu kita harus menderita, kita akan sembunyikan airmata kita dari dunia ramai karena masyarakat tidak mampu mengerti.  Air mata kita akan berubah menjadi butir-butir mutiara di hadapan Allah.

Mereka katakan kepada Mami bahwa yang terpenting ialah menyelamatkan diri Mami karena  yang paling berharga adalah kehormatan diri dan kehormatan keluarga Mami.  Harus dihindarkan sedapat-dapatnya menjadi malu di depan umum.  Jika berhasil Mami akan menjadi lebih baik, lebih suci, lebih murni, lebih sopan dan menawan.  Seandainya tidak, akan timbul kemunafikan yang sangat hebat dan terbeberlah perbuatan tak adil yang kejam itu.

Saya telah membaca pikiran yang memalukan itu dalam benak Mami.  Saya gemetar.  Tetapi saya lebih suka  tidak percaya.  Tidak, sekali lagi tidak!  Tak mungkin Mamiku tersayang merencanakan kejahatan itu!

KUNCUP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: