Asro Pun’ Blog

UV Detector

Posted by asro pada 18 Juli 2008

Jika seberkas cahaya mengenai sebuah benda atau material, maka salah satu kemungkinannya adalah sebagian cahaya  akan diserap (absorbe) oleh  material tersebut. Panjang gelombang yang diserap adalah unik untuk setiap material.  Intensitas cahaya yang diserap sebanding dengan kuantitas material yang menyerapnya.  Sehingga, dengan mengetahui intensitas panjang gelombang tertentu yang diserap oleh suatu sample, maka kita dapat mengetahui kuantitas suatu jenis material yang terkandung dalam sample  tersebut. Sifat/fenomena inilah yang mendasari sistem pengukuran kuantitas dengan menggunakan cahaya termasuk sinar ultraviolet (UV).

Misalnya, untuk mengetahui jumlah senyawa dalam suatu sample, dapat dilakukan dengan melewatkan sinar UV dengan panjang gelombang tertentu (panjang gelombang yang dapat diserap oleh senyawa tersebut) ke sample. Intensitas sinar UV yang diserap dapat dihitung dengan membandingkan intensitas sinar UV yang tidak melewati sample (sebagai referensi) dan intensitas yang melewati sample.  Lalu bagaimana mengukur intensitas sinar UV? Untuk mengukur intenstias sinar UV diperlukan suatu peralatan yang disebut detector (UV detector). Ada beberapa jenis UV detector yang ada saat ini, yaitu PhototubePhotomultiplier Tube (PMT) dan Photodiode array (PDA).

Phototube. Phototube terdiri dari anode dan cathode, apabila sinar UV ditembakan ke cathode (-), maka akan terjadi emisi/pergerakan electron dari cathode ke anode sebagai akibat dari efek photoelectric. Pergerakan electron ini akan diukur sebagai arus listrik yang sebanding dengan intensitas UV yang mengenai cathode tersebut.

Photomultiplier Tube (PMT).  Cara kerja PMT mirip Phototube, terdiri dari photocathode dan beberapa buah anode (tidak seperti pada phototube yang hanya terdiri dari satu buah anode) yang disusun secara serie (disebut dynode). Sinar UV (photons) yang ditembakan ke cathode akan menyebabkan emisi electron dari cathode ke anode. Anode yang satu dengan yang lainya diberi beda potensial, sehingga apabila emisi electron dari cathode sampai di dynode pertama, akan ada tambahan electron yang diteruskan ke dynode berikutnya, dan seterusnya sehingga secara akumulasi jumlah electron yang emisi di dynode terakhir semakin banyak (arusnya semakin besar), itu sebabnya mengapa PMT lebih sensitif dibandingkan dengan phototube.


Photodiode array (PDA).  PDA berupa  semiconductor integrated circuit (IC).  Jika sinar mengenai PDA, akan terbentuk pasangan electron-hole dan electron yang terbentuk akan berpindah ke PIN juction terdekat, sehingga terbentuk beda potensial yang jika diberi bias (maksudnya voltage bias) maka akan terjadi arus listrik yang sebanding dengan intensitas sinar yang mengenainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: