Asro Pun’ Blog

Overlook

Posted by asro pada 7 Mei 2008

Overlook, sesuai Kamus Inggris Indonesia terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama (Oleh John M. Echols dan Hassan Shadily), berarti:

  1. Pemandangan kebawah.
  2. Melupakan, pangling atau memaafkan atau memandang kebawah atau mengabaikan

Sedangkan, menurut Kamus Lengkap Inggeris – Indonesia, Indonesia – Inggeris , terbitan HASTA Bandung (Oleh Prof Drs S Wojowasito dan Drs Tito Wasito W.,), arti kata ini adalah:

  1. Melihat dari atas.
  2. Tidak melihat.

Jadi, salah satu arti kata overlook adalah lupa, pangling, tidak melihat (tidak terlihat), mengabaikan (terabaikan).

Dalam melaksanakan pekerjaan di Kantor, kita sering kali mengalami overlook ini, baik itu pekerjaan yang sifatnya rutin maupun tidak rutin.

Ada beberapa sebab kita sering overlook, diantaranya:

  1. Kurang serius dalam melakukan pekerjaan karena menganggap pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang mudah dan sering dilakukan.
  2. Kurang memahami pekerjaan yang dilakukan.
  3. Kondisi (fisik & psikis) kita yang sedang lemah/lelah.
  4. Waktu yang diberikan untuk melaksanakan pekerjaan sangat terbatas, sehingga banyak aktivitas pekerjaan yang tidak dilakukan/terlewatkan.

Seorang kawan menceritakan bahwa ia juga pernah mengalami overlook dalam salah satu proyek yang ia kelolah. Ceritera-nya,  Kontraktor pelaksana proyek tersebut menolak mengerjakan salah satu lingkup kerja dengan alasan pekerjaan tersebut tidak termasuk dalam penawaran mereka.

Dari hasil pengecekan dokumen proyek, diperoleh data sbb:

  1. Scope of Work yang dibuat kawan saya (bersama tim-nya) tidak menjelaskan secara gamblang mengenai pekerjaan ini.
  2. Gambar-gambar engineering yang diberikan ke Kontraktor menunjukan bahwa pekerjaan tersebut juga merupakan bagian dari Proyek tersebut.
  3. Dalam Dokumen Penawaran-nya, Kontraktor menyatakan bahwa pekerjaan tersebut tidak termasuk dalam penawaran.

Apabila tidak overlook, maka seharusnya yang dilakukan oleh kawan tersebut bersama tim-nya adalah:

  1. Menjelaskan secara jelas dalam Dokumen Scope of Work semua lingkup kerja sehingga tidak terjadi perbedaan presepsi.
  2. Melakukan klarifikasi terhadap   Dokumen Penawaran Kontraktor perihal pernyataan bahwa pekerjaan tersebut tidak masuk lingkup penawaran.

Menurut kawan tersebut, overlook ini terjadi karena:

  1. Scope of work dibuat oleh orang yang tidak tepat (bukan bidangnya).
  2. Waktu yang tersedia untuk melakukan evaluasi terhadap Dokumen penawaran Kontraktor sangat terbatas sehingga mereka tidak sempat membaca seluruh Dokumen tersebut.

Bebapa hal yang bisa dipetik dari kasus overlook kawan saya ini:

  1. Scope of work sebaiknya (baca: harusnya) dibuat oleh orang yang kompeten/sesuai bidangnya, misalnya lingkup instrument harus dibuat oleh orang instrument (baca: Instrument Engineer), lingkup mekanik oleh orang mekanik, lingkup sipil oleh orang sipil, lingkup IT oleh orang IT, dstnya.
  2. Proposal Penawaran agar dibaca seluruhnya, setiap pernyataan bersifat exception agar diklarifikasi.
  3. Pelaksanaan evaluasi  merupakan tahapan yang penting dalam proses pelelangan, oleh karena itu sebaiknya masalah waktu jangan terlalu dibatasi. Dengan demikian diharapkan tim evaluator memiliki waktu yang cukup untuk meng-explore Proposal yang diajukan.

 Semoga hal ini tidak terulang lagi pada proyek yang akan datang.

Semoga.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: