Asro Pun’ Blog

Be one in a million, not one of a million

Posted by asro pada 29 April 2008

Judul tulisan ini sama dengan tulisannya Mba Jennie S. Bev di  http://asiablogging.com/blog/196/be-one-in-a-million-not-one-of-a-million/. Kok sama? Ya, sama karena tulisan ini memang terinspirasi dari tulisan di blog tersebut, dan ditujukan khusus kepada seorang Sobat.  

Sobat… , sepintas kedua frasa “Be one in a million” dan ”Be one of a million”  kedengarannya hampir sama terutama bagi orang seperti saya (dan mungkin juga seperti Sobat) yang mempunyai kemampuan Bahasa Inggris yang pas-pas-an. Namum sebenarnya keduanya memiliki arti yang sangat berbeda, bahkan berlawanan. 

Be one in a million” secara bebas dapat diartikan sebagai “menjadi pribadi yang spesial, unggul, diperhitungkan dalam sebuah komunitas atau lingkungan”. Sedangkan “Be one of a million” berarti “menjadi pribadi yang biasa-biasa saja, tidak (pernah) diperhitungkan dalam sebuah komuninas, bahkan mungkin hanya menjadi beban dari komunitas tersebut”.

Menurut Howard Gardner, dalam  diri setiap orang setidaknya terdapat 11 tipe kecerdasan yang membentuk kepribadian orang tersebut, yaitu:

·         Linguistic intelligence

·         Logical-mathematical intelligence

·         Spatial intelligence

·         Bodily-kinesthetic intelligence

·         Musical intelligence

·         Naturalistic intelligence

·         Interpersonal intelligence

·         Intrapersonal intelligence

·         Spiritual intelligence

·         Existential intelligence

·         Moral intelligence

Kadar (persentase) setiap jenis kecerdasan dalam diri masing-masing orang berbeda, tidak akan sama walaupun mungkin keduanya terlahir sebagai anak kembar dan dibesarkan dalam lingkunagn yang sama. Campuran/komposisi masing-masing kecerdasan pada setiap orang adalah unik, hal inilah yang menyebabkan mengapa setiap pribadi itu unik. Sobat …, ada satu hal yang ingin saya katakan disini adalah “keunikan pribadi tersebut tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai seorang pribadi lebih unggul dari pribadi yang lain”, bahkan sebaliknya keunikan tersebuat justru menunjukan keunggulan masing-masing pribadi. Oleh karena itu Sobat …, sadarlah bahwa anda adalah orang yang unggul, spesial dan pasti diperhitungkan oleh komunitas anda.

.

Internal – External Personality Mapping.

Sering kita mendengar atau melihat, Si A yang biasa-biasa saja, kok cepat naik golongan; atau Si B yang kerjanya bagus, rajin, tapi kok tidak dipromosikan oleh atasannya, oleh manajemen-nya. Penilaian seperti ini terjadi karena kita hanya melihat dari satu aspek, pada hal seperti dijelaskan diatas bahwa keunggulan seseorang dibentuk oleh sebelas aspek kecerdasan. Lalu timbul pertanyaan, kan setiap pribadi itu unggul, tapi mengapa si A yang dipilih, bukan si B?  Jawabannya ialah, sama dengan hukum pasar, sesuatu  itu laku jika sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasar. Seorang pribadi (yang unggul) itu akan diterima/dipakai oleh atasannya, oleh Kepala Bagiannya, oleh Manajernya atau oleh General Manajernya  jika pribadinya (yang unggul) tersebut sesuai atau matching dengan karakteristik kepemimpinan (mungkin juga selera) mereka.

Oleh karena itu, Sobat…., mungkin ada baiknya kita perlu melakukan evaluasi diri. Sama seperti dalam dunia bisnis, kita perlu melakukan analisa SWOT pada diri kita, seperti apa komposisi/kadar masing-masing aspek kecerdasan yang kita miliki. Setelah itu kita juga menganalisa komposisi kecerdasan seperti apa yang dikehendaki oleh petingi kita. Lalu kita melakukan mapping antara komposisi yang kita miliki (internal) dan komposisi yang dimaui petinggi kita (external). Hasil  mapping adalah berupa deviasi/gap komposisi kecerdasan. Selanjutnya mau diapakan? Tersera kita Sobat …. Bisa saja kita mengambil langkah untuk memperkecil deviasi tersebut yang tentunya membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak ringan,  apalagi jika hal tersebut terkadang tidak sesuai dengan karakter pribadi kita, tidak sesuai dengan hati nurani kita. Atau  barang kali kita  mengambil langkah yang lain, yaitu dengan lebih mengasa potensi yang ada pada diri kita  menjadi lebih unik (dan tentunya lebih unggul) lagi dibanding dengan yang lain, sambil berharap (juga sambil jangan lupa berdoa tentunya)  siapa tahu ada perubahan karakteristik managemen yang lebih mendekati komposisi kecerdasan pribadi kita.

 .
Profesionalisme.

Sobat …, bagi saya profesionalisme tidak ada hubungannya dengan kedudukan seseorang. Seorang cleaning servicer yang setiap hari masuk kantor tepat waktu, lingkungan kator selalu bersih sebagai cermin dari kwalitas hasil kerjanya yang selalu terjaga , suasana kantor selalu ceria karena kehadirannya akan lebih profesional dibandingkan dengan seorang manajer yang kerjanya hanya marah melulu, menganggap dirinya paling pintar dan paling benar, tidak bisa mengarahkan bawahannya sehingga pada akhir tahun nilai KPI/SMK fungsinya selalu merah.

Sobat  …., bagi saya profesional lebih terhormat dari hanya sekedar kedudukan atau jabatan.

Oleh karena itu Sobat …, jadilah profesional dibidang anda, jangan pernah berhenti  mengasa potensi anda sehingga menjadi manusia yang lebih unik (juga lebih unggul tentunya) dengan demikian anda akan menjadi orang yang lebih profesional, orang yang lebih terhormat.

Akhirnya, Sobat …., jangan pernah putus asa, sebaliknya terus berjuang, tampilkan yang terbaik karena ..You are a one in a million, not a one of a million

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: