Asro Pun’ Blog

Updating the Lang Factor and Testing its Accuracy, Reliability and Precision as a Stochastic Cost Estimating Method

Posted by asro pada 8 Mei 2015

The Lang factor is a one of the factored estimating techniques that is recommended by AACE International for class 4 and class 5 estimates. This method was proposed by Hans J. Lang in 1940’s use a simple formula: consist of a set of factor multiplied by the Total Equipment Cost (TEC) to obtain the Total Plant Cost (TPC). These factors are 3.10 for solid plant, 3.63 for solid-fluids plant and 4.74 for fluids plant.

Over the ensuing decades, several people tried to calculate the Lang factor by using their current data.

In this paper, the fluid plant Lang factor is updated and tested its accuracy, precision and reliability by using historical project data from a major Indonesian national oil company.

The result of updating and testing show that while the Lang factor is appropriate for use for Class 4-5 estimates, because it exhibits such a high degree of variability; it is not recommended for creating high accurate, reliable or precise of cost estimates.

Click here to download the paper.

Posted in My Paper | Leave a Comment »

Gross Negligence & Willful Misconduct

Posted by asro pada 5 Desember 2014

Dalam sebuah contract/agreement, para pihak biasanya berusaha untuk membatasi tanggung jawab (liability) mereka terhadap pihak lainya. Para pihak selalu mengeluarkan dari batasan tanggung jawab tersebut kerusakan yang disebabkan oleh gross negligence (kelalaian yang disengaja atau ada juga yang menerjemahkannya sebagai kelalaian nyata atau kelalaian berat) atau willful misconduct (tindakan pelanggaran yang disengaja atau diterjemahkan sebagai perbuatan tercela yang disengaja atau perbuatan kecerobohan).

Pertanyaannya adalah apa definisi dari gross negligence dan willful misconduct itu? Sebenarnya tidak ada definisi yang pasti untuk keduanya, bergantung pada definisi yang dibuat dalam setiap contract atau apabila tidak didefinisikan dalam contract maka bergantung pada hukum mana yang dipakai. Sebagai gambaran, berikut akan diberikan salah satu contoh.

Gross negligence is a conscious and voluntary disregard of the need to use reasonable care, which is likely to cause foreseeable grave injury or harm to persons, property, or both. It is conduct is extreme when compared with ordinary negligence, which is a mere failure to exercise reasonable care. Ordinary negligence and gross negligence differ in degree of inattention, while both differ from willful and wanton conduct, which is conduct that is reasonably considered to cause injury. This distinction is important, since contributory negligence – a lack of care by the plaintiff that combines with the defendant’s conduct to cause the plaintiff’s injury and completely bar his or her action – is not a defense to willful and wanton conduct but is a defense to gross negligence. In addition, a finding of willful and wanton misconduct usually supports a recovery of punitive damage – monetary compensation awarded to an injured party that goes beyond that which is necessary to compensation the individual for losses and that is intended to punish the wrongdoer, whereas gross negligence  does not. [legal-dictionary]

Pada contoh di atas, gross negligence diartikan sebagai “dengan sengaja (dalam hal ini dengan sadar dan sukarela) mengabaikan (atau tidak melakukan) tindakan yang semestinya dilakukan, yang (jika tidak dilakukan) kemungkinan besar akan menyebabkan cedera serius atau membahayakan orang, harta atau keduanya“. Sedangkan willful misconduct (istilah lain dari willful misconduct adalah willful and wanton conduct seperti pada contoh di atas) diartikan sebagai “prilaku yang bisa menyebabkan cedera“. Dalam contoh di atas juga dijelaskan perbedaan antara gross negligence dan ordinary negligence, dimana jika gross negligence itu dengan sengaja mengabaikan tindakan yang mesti dilakukan, maka ordinary negligence adalah gagal melakukan tindakan yang mesti dilakukan, dalam hal ini tindakan tersebut sudah dilakukan tetapi gagal.

Berikut diberikan satu contoh pasal dalam contract yang membatasi tanggung jawab para pihak, kecuali gross negligence atau willful misconduct.

Unless a result of gross negligence or willful misconduct, the liability of either party to the other for any type of damage is limited to the amount of total fee under this agreement. [shakelaw.com].

 

Posted in Contract | Leave a Comment »

Termintation Clause

Posted by asro pada 23 September 2014

Pada umumnya, hampir semua  kontrak mengandung pasal tentang pemutusan kontrak (termination clause) oleh salah satu pihak (umumnya owner) apabila  terjadi beberapa kondisi tertentu yang terkait dengan pelanggaran (breach) yang dilakukan oleh pihak lainnya (dalam hal ini contractor). Pemutusan kontrak berdasarkan pasal ini biasa disebut dengan termination for cause. Pasal pemutusan kontrak jenis ini juga berisi definisi jenis-jenis kelalaian atau pelanggaran yang dilakukan oleh contractor sehingga owner dapat memutuskan kontrak, dan juga menguraikan tentang hak contractor untuk mengatasinya terlebih dahulu sebelum kontrak diterminasi.

Berikut contoh pasal termination for cause.

Termination for Cause: If the CONTRACTOR fails to fulfill its obligations under this Contract properly and on time, or otherwise violates any provision of the Contract, the Department may terminate the Contract. Prior to terminating this contract, the DEPARTMENT shall give the CONTRACTOR thirty (30) days prior  written notice of such default and if the CONTRACTOR has not cured such default within the thirty (30) day period, the DEPARTMENT may, by written notice, not less than five (5) days after expiration of this period, terminate the Contract. The notice shall specify the acts or omissions relied on as cause for termination. All finished or unfinished supplies and services provided by the CONTRACTOR shall, at the DEPARTMENT’s option, become the State’s property. The DEPARTMENT shall pay the CONTRACTOR fair and equitable compensation for satisfactory performance prior to receipt of notice of termination, less the amount of damages caused by the CONTRACTOR’s breach. If the damages are more than the compensation payable to the CONTRACTOR, the CONTRACTOR will remain liable after termination and the DEPARTMENT can affirmatively collect damages. Termination hereunder, including the determination of the right and obligations of the parties, shall be governed by the provisions of COMAR 21.07.01.11B. 1)

Selain termination for cause, kontrak pada umumnya juga mengandung sebuah pasal yang mengijinkan owner untuk memutuskan kontrak berdasarkan pertimbangan kemanfaatan/kenyamanannya sendiri, tanpa adanya kelalaian dari contractor. Pemutusan kontrak jenis ini disebut dengan termination for convenience.

Berikut contoh pasal termination for convenience.

Termination for Convenience: The performance of work under this Contract may be terminated by the DEPARTMENT in accordance with this clause in
whole, or from time to time in part, whenever the DEPARTMENT shall determine that such termination is in the best interest of the State. The DEPARTMENT will pay all reasonable costs associated with this Contract that the CONTRACTOR has incurred up to the date of termination and all reasonable costs associated with termination of the Contract; provided, however, that the CONTRACTOR shall not be reimbursed for any anticipatory profits which have not been earned up to the date of termination. Termination hereunder, including the determination of the rights and obligations of the parties, shall be governed by the provisions of COMAR 21.07.01.12A(2). 2)

Atau

 “Owner may at any time and for any reason terminate Contractor’s services and work at Owner’s convenience. Upon receipt of such notice, Contractor shall, unless the notice directs otherwise, immediately discontinue the work and placing of orders for materials, facilities and supplies in connection with the performance of this Agreement.

Upon such termination, Contractor shall be entitled to payment only as follows: (1) the actual cost of the work completed in conformity with this Agreement; plus, (2) such other costs actually incurred by Contractor as are permitted by the prime contract and approved by Owner; (3) plus ten percent (10%) of the cost of the work referred to in subparagraph (1) above for overhead and profit. There shall be deducted from such sums as provided in this subparagraph the amount of any payments made to Contractor prior to the date of the termination of this Agreement. Contractor shall not be entitled to any claim or claim of lien against Owner for any additional compensation or damages in the event of such termination and payment.”3)

Posted in Contract | Leave a Comment »

Survival Clauses

Posted by asro pada 20 Oktober 2013

Kadang-kadang dalam sebuah kontrak (atau perjanjian) kita jumpai pasal yang menyatakan bahwa beberapa pasal dalam kontrak tersebut tetap berlaku  (baik dalam periode tertentu maupun selamanya) walaupun kontrak tersebut sudah berakhir. Pasal seperti ini dikenal dengan sebutan pasal survival (survival clause).

Survival clause digunakan untuk menjelaskan  pasal (atau pasal-pasal) dalam sebuah kontrak yang tetap berlaku (atau tetap valid) sesudah berakhirnya kontrak tersebut. Sebuah survival clause diperlukan apabila  para pihak (atau minimal salah satu dari mereka) menghendaki  ada pasal-pasal dalam kontrak  tetap berlaku sesudah kontrak tersebut berakhir atau terminasi; 1).

Berikut adalah pasal-pasal yang umumnya survive walaupun kontrak sudah berakhir, 1) , 2):

  • Confidentiality.
  • Data protection.
  • Limitation and exclusions of liability.
  • Indemnity.
  • Insurance.
  • Applicable law and jurisdiction
  • Payment  (terkait dengan pembayaran terhadap pekerjaan atau material yang sudah dilaksanakan atau dipasok sebelum terminasi kontrak).
  • Serta pasal-pasal lainnya yang menetapkan apa-apa yang terjadi setelah terminasi kontrak.

Namun demikian barangkali tidak semua pasal-pasal tersebut  relevan dengan kontrak yang dibuat. Untuk itu sebelum dimasukan dalam daftar pasal yang survive, perlu dicek satu persatu masing-masing pasal tersebut untuk meyakinkan bahwa pasal-pasal yang dipilih tersebut memang betul-betul diperlukan untuk survive.2)

Berikut diberikan beberapa contoh survival clauses:

As a condition to his employment pursuant to this agreement, executive shall sign the confidentiality agreement. Executive hereby represents and warrants to the company that he will comply with all obligations under the confidentiality agreement and further agrees that the provisions of the confidentiality agreement shall survive any termination of this agreement or of executive’s employment or subsequent service relationship with the company, if any. 3).

 The obligations set forth in the provisions of Article 8 (Confidentiality), Article 9 (Applicable law) and Article 10 (Arbitration) shall survive the expire or termination of this Agreement. (Diambil dari salah satu draft kontrak yang kami tangani).

Posted in Contract | Leave a Comment »

Counterparts Clauses

Posted by asro pada 11 Juni 2013

Tidak jarang untuk suatu alasan tertentu dimana diperlukan proses penandatanganan kontrak yang cepat karena keadaan yang mendesak sementara para pihak yang berkontrak berada pada lokasi yang berjauhan (misalnya berlainan negara), mereka bersepakat untuk menandatangani kontrak pada lembar naskah/duplikat yang terpisah. Untuk mengikat kesepakatan ini,  diperlukan counterparts clause (pasal counterparts).

Counterparts clause berisi ketentuan bahwa para pihak tidak perlu menadatangani kontrak pada naskah yang sama sebagaimana yang biasa dilakukan, tetapi pada duplikat yang terpisah, dan tiap-tiap dari duplikat tersebut dinyatakan sebagai asli, tetapi semua duplikat tersebut secara bersama-sama merupakan kontrak yang satu dan sama.

Berikut adalah contoh-contoh counterparts clause yang diambil dari contractstandards.com .

This Agreement may be executed in counterparts, each of which shall be deemed to be an original but all of which taken together shall constitute one and the same agreement and shall become effective when one or more counterparts have been signed by each of the parties and delivered to the other party.

This Agreement may be executed in two or more counterparts, and by facsimile, all of which shall be considered one and the same agreement and shall become effective when one or more counterparts have been signed by each of the parties and delivered to the other party, it being understood that all parties need not sign the same counterpart.

This Agreement  may be executed in two or more counterparts, each of which together shall be deemed an original , but all of which together shall constitute one and the same instrument. In the event that any signature is delivered by facsimile transmission or by e-mail delivery of “.pdf” format data file, such signature shall create a valid and binding obligation of the party executing (or on whose behalf such signature is executed) with the same force and effect as if such facsimile or “.pdf” signature page were an original thereof.

This Agreement may be executed in any number of counterparts, each of which when so executed and delivered shall be an original hereof, and it shall not be necessary in making proof of this Agreement to produce or account for more than one counterpart hereof.

Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa counterparts clause paling kurang berisi hal-hal sbb:

  • Pernyataan bahwa kontrak dibuat dalam bentuk counterparts dalam beberapa duplikat dimana masing-masing duplikat dianggap asli, tetapi semuanya secara bersama-sama merupakan kontrak yang satu dan sama.
  • Pengaturan tentang kapan kontrak tersebut mulai berlaku efektif.

Berikut contoh lainnya yang diambil dari cleggssolicitors.com:

This Agreement may be executed in any number of counterparts, each of which when executed and delivered shall constitute an original of  this Agreement, but all the counterparts shall together constitute the same  agreement. No counterparts shall be effective until each party has executed at least one counterpart.

dan yang diambil dari lexology.com

This Agreement may be executed in any number of counterparts, each of which when executed and delivered shall constitute  a duplicate original, but all counterparts together shall constitute a single agreement.

Ada dua alasan utama mengapa counterparts clause ini digunakan. Pertama, untuk menegaskan bahwa tiap-tiap pihak tidak perlu menandatangani lembar yang sama agar kontrak tersebut berkekuatan mengikat. Alasan kedua adalah untuk menghindari masalah terkait keaslian dari kontrak yang ditandatangani oleh setiap pihak pada lembar duplikat yang berbeda.

Counterparts clause utamanya digunakan pada kondisi berikut:

  • Dalam transaksi besar yang melibatkan banyak pihak dimana tidak semua pihak secara fisik dapat hadir pada saat penandatanganan kontrak, sehingga tidak memungkinkan semua pihak memberikan tandatangannya secara bersama-sama dalam satu naskah kontrak.
  • Dalam transaksi tertentu seperti transaksi penjualan properti dimana para pihak saling bertukar lembar tandatangan (biasanya melalui kuasa hukumnya), dan satu pihak hanya menyimpan halaman tandatangan yang diterimanya dari pihak lainnya.
  • Dalam transaksi lainnya dimana keadaan tidak memungkinkan satu naskah kontrak ditandatangani oleh seluruh pihak pada tanggal penandatanganan.

Sebenarnya tidak adanya counterparts clause tidak dengan sendirinya membatalkan sebuah kontrak yang dibuat dalam bentuk counterparts yang terpisah. Akan tetapi sebuah counterparts clause dapat membantu  mencegah klaim dari suatu pihak kepada pihak lainnya dengan alasan bahwa kontrak tersebut tidak mengikat karena tidak ada naskah tunggal yang ditandatangani oleh seluruh pihak atau karena mereka tidak mengetahui bahwa mereka mengikatkan diri dalam kontrak dengan menandatangani suatu naskah kontrak yang tidak ditandatangani juga oleh pihak lainnya.

Pada kondisi tertentu, para pihak dalam kontrak membutuhkan lebih dari satu duplikat kontrak asli untuk berbagai keperluan, misalnya untuk keperluan perpajakan, kelengkapan dokumen sesuai peraturan perundangan atau keperluan administrasi lainnya. Pada kondisi seperti ini counterparts cluase sangat berguna untuk memastikan bahwa setiap duplikat kontrak tersebut adalah asli.

Tidak setiap kontrak harus dibuat secara counterparts. Berikut adalah beberapa kondisi dimana kontrak tidak perlu dibuat counterparts:

  • Seluruh pihak hadir pada saat penandatanganan dimana setiap pihak akan menandatangani naskah asli kontrak bersama-sama sebanyak yang diperlukan, misalnya dibuat dua atau tiga rangkap.
  • Naskah asli kontrak ditandatangani pada waktu yang berbeda oleh para pihak, dengan cara semua naskah asli dikirim ke setiap pihak untuk ditandatangani secara bergantian, dengan kontrak diberi tanggal dan berlaku efektif pada tanggal penandatanganan terakhir.
  • Hanya satu naskah kontrak asli yang dibuat, sedangkan untuk keperluan para pihak dibuat salinan yang dilegalisir.

Posted in Contract | Leave a Comment »

Lembaga Keuangan

Posted by asro pada 8 November 2012

Seperti diketahui bersama bahwa modal merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan suatu bisnis. Oleh karena itu, peran Lembaga Keuangan sebagai  sumber pemodalan menjadi sangat penting. Secara umum fungsi utama Lembaga Keuangan adalah intermediasi finansial dan penyediaan finansial, yaitu menjembatani kebutuhan dana antara unit ekonomi surplus (surplus spending unit) dan unit ekonomi defisit (deficit spending unit). Dalam hal ini, Lembaga Keuangan meminjam uang dari unit ekonomi surplus, kemudian meminjamkan uang tersebut kepada unit ekonomi defisit.  Di Indonesia, Lembaga Keuangan dibedakan menjadi : Lembaga Keuangan Bank, Lembaga Keuangan Bukan Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya.

Lembaga Keuangan Bank diatur dengan UU No 7 Tahun 1992 dan disempurnakan dengan UU No 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.  Dalam UU tersebut Bank didefinisikan sebagai  badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dalam hal ini  fungsi utama bank adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat. Sedangkan tujuannya adalah menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatkan kesejahteraan rakyat banyak.  Menurut jenisnya, bank terdiri dari  Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat.

1. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalulintas pembayaran.

Usaha Bank Umum antara lain meliputi: 1) menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu; 2) memberi kredit; 3) menerbitkan surat pengakuan hutang; 4) membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya: wesel, surat pengakuan hutang dan kertas dagang lainnya, kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah, SBI, obligasi, surat dagang berjangka 1 thn, dsbnya; 5) memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun nasabah; 6) menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya; 7) menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga; 8) menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga; 9) melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak; 10) melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek; 11) melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat; 12) menyediakan pembiayaan dan atau melakukan kegiatan lain berdasarkan prinsip syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia; 13) melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia; 14) melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau perusahaan lain di bidang keuangan, seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi, serta lembaga kliring penyelesaian dan penyimpanan, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia; 15) melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia; 16) bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan dana pensiun yang berlaku.

Bank Umum dilarang: 1) melakukan penyertaan modal lain, kecuali dimaksud dalam butir no. 14 dan 15  di atas; 2) melakukan usaha perasuransian; 3) melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha yang diijinkan seperti di jelaskan di atas.

2. Bank Pengkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Usaha Bank Pengkreditan Rakyat meliputi: 1) menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu; 2) memberi kredit; 3) menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia; 4) menempatkan dananya dalam bentuk SBI, deposito berjangka, sertifikat deposito, dan/atau tabungan pada bank lain.

Bank Perkreditan Rakyat dilarang untuk: 1) menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran; 2) melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing; 3) melakukan penyertaan modal; 4) melakukan usaha perasuransian; 5) melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha seperti disebutkan di atas.

Bentuk hukum suatu Bank Umum dapat berupa Perseroan Terbatas, Koperasi atau Perusahaan Daerah. Sedangkan bentuk hukum suatu Bank Perkreditan Rakyat dapat berupa Perusahaan Daerah, Koperasi, Perseroan Terbatas atau bentuk lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Lembaga Keuangan Bukan Bank adalah badan usaha yang melakukan kegiatan di bidang keuangan yang secara langsung atau tidak langsung menghimpun dana dengan jalan mengeluarkan  surat berharga dan menyalurkannya ke dalam masyarakat guna membiayai investasi perusahaan-perusahaan. Berbeda dengan Lembaga Keuangan Bank, Lembaga Keuangan Bukan Bank dilarang menarik dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan seperti tabungan, giro dan deposito serta yang sejenis dengan itu.

Ada beberapa tipe Lembaga Keuangan Bukan Bank, yaitu : Development Type adalah Lembaga Keuangan Bukan Bank yang memberikan kredit jangka menengah (1-5 thn) dan jangka panjang (lebih dari 5 tahun);  Investment Type adalah Lembaga Keuangan Bukan Bank yang bertindak sebagai perantara dalam penerbitan dan menjamin serta menanggung terjualnya surat-surat berharga, dan tidak diperkenankan memberikan kredit; Housing Type adalah Lembaga Keuangan Bukan Bank yang bertujuan untuk memberikan kredit pembelian rumah jangka menengah dan jangka panjang dengan maksimum 20 tahun.  Ada beberapa jenis perusahaan yang masuk dalam kategori  Lembaga Keuangan Bukan Bank, yaitu: 1) Perusahaan Asuransi; 2) Dana Pensiun; 3) Perusahaan Pegadaian; 4) Pasar Modal;.

1. Asuransi diatur dalam KUHD (Pasal 246 s/d 308). Asuransi atau pertanggungan menurut Pasal 246 KUHD adalah suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tentu. Selain KUHD, Asurasi juga diatur dalam UU No 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Menurut Pasal 1 UU No 2 Tahun 1992, Asuransi (pertanggungan) adalah perjanjian dua pihak, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum pada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. Dari kedua definisi ini, ada 3 unsur dalam Asuransi, yaitu: 1) Penanggung, yang merupakan pihak yang berjanji membayar jika peristiwa pada unsur ke-3 terlaksana/terjadi; 2) Tertanggung, yaitu pihak yang berjanji membayar uang kepada pihak Penanggung; 3) Suatu peristiwa yang belum tentu akan terjadi/tak tentu.

Usaha perasuransian merupakan kegiatan usaha yang bergerak di bidang: 1) Usaha aruransi, yaitu usaha jasa keuangan yang dengan menghimpun dana  masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti atau terhadap hidup atau meninggalnya seseorang; 2) Usaha penunjang asuransi, yang menyelenggarakan jasa keperantaraan, penilaian kerugian asuransi dan jasa akturia.

Usaha asuransi terdiri dari : 1) Usaha asuransi kerugian yang memberikan jasa dalam penaggulangan risiko atas kerugian, kehilangan manfaat, dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga, yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti; 2) Usaha asuransi jiwa yang memberikan jasa dalam penanggulangan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan; 3) Usaha reasuransi yang memberikan jasa dalam pertanggungan ulang terhadap risiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi kerugian dan atau perusahaan asuransi jiwa.

Usaha penunjang asuransi terdiri dari: 1) Usaha pialang asuransi yang memberikan jasa keperantaraan dalam penutupan asuransi dan penanganan penyelesaian ganti rugi asuransi dengan bertindak untuk kepentingan tertanggung; 2) Usaha pialang reasuransi yang memberikan jasa keperantaraan dalam penempatan reasuransi dan penanganan penyelesaian ganti rugi reasuransi dengan bertindak untuk kepentingan perusahaan asuransi; 3) Usaha penilai kerugian asuransi yang memberikan jasa penilaian terhadap kerugian pada obyek asuransi yang dipertanggungkan; 4) Usaha konsultan akturia yang memberikan jasa konsultasi akturia; 5) Usaha agen asuransi yang memberikan jasa keperantaraan dalam rangka pemasaran jasa asuransi untuk dan atas nama penganggung.

Usaha perasuransian hanya dapat dilakukan oleh badan hukum yang berbentuk Perusahaan Perseroan, Koperasi  atau Usaha Bersama. Namun demikian usaha konsultan akturia dan usaha agen asuransi dapat dilakukan oleh perusahaan perorangan.

2. Dana Pensiun diatur dalam UU No 11 Tahun 1992  tentang Dana Pensiun dan PP No. 77 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun Lembaga Keuangan. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun. Dalam hal ini badan hukum tersebut dengan atau tanpa iuran mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan sejumlah uang yang pembayarannya dikaitkan dengan usia tertentu. Dana Pensiun terdiri dari 2 jenis yaitu Dana Pensiun Pemberi Kerja dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan.

Dana Pensiun Pemberi Kerja adalah Dana Pensiun yang dibentuk oleh orang atau badan yang mempekerjakan karyawan, selaku pendiri, untuk menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti atau Program Pensiun Iuran Pasti, bagi kepentingan sebagian atau seluruh karyawan sebagai peserta, dan yang menimbulkan kewajiban terhadap pemberi kerja. Sedangkan Dana Pensiun Lembaga Keuangan adalah Dana Pensiun yang dibentuk oleh bank atau perusahaan asuransi jiwa untuk menyelenggarakan Program Pensiun Iuran Pasti bagi perorangan, baik karyawan maupun pekerja mandiri yang terpisah dari Dana Pensiun Pemberi Kerja bagi karyawan bank atau perusahaan asuransi jiwa yang bersangkutan.

Program Pensiun Manfaat Pasti adalah program pensiun yang menfaatnya ditetapkan dalam peraturan Dana Pensiun atau program pensiun lain yang bukan merupakan Program Pensiun Iuran Pasti. Sedangkan Program Pensiun Iuran Pasti adalah program pensiun yang iurannya ditetapkan dalam peraturan Dana Pensiun dan seluruh iuran serta hasil pengembangannya dibukukan pada rekening masing-masing peserta sebagai manfaat pensiun.

Dana Pensiun memiliki status sebagai badan hukum dengan syarat dan tata cara yang diatur dalam UU No 11 Tahun 1992.

3. Pegadaian diatur dalam KUHPerdata pasal 1150 s/d 1160 tentang Gadai dan PP No  103 Tahun 2000 tentang Perum Pegadaian. Gadai menurut KUHPerdata pasal 1150 adalah suatu hak yang diperoleh seseorang  yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak . Barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh seseorang yang mempunyai utang atau oleh seorang lain atas nama orang yang mempunyai utang.  Sesorang yang mempunyai utang tersebut memberikan kekuasaan kepada orang berpiutang untuk menggunakan barang bergerak yang telah diserahkan untuk melunasi utang apabila pihak yang berutang tidak dapat memenuhi kewajibannya pada jatuh tempo. Perusahaan Umum Pegadaian sesuai yang diatur dalam PP No 103 Tahun 2000 merupakan satu-satunya badan usaha di Indonesia yang secara resmi mempunyai izin untuk melaksanakan kegiatan lembaga keuangan berupa pembiayaan dalam bentuk penyaluran dana ke masyarakat atas dasar hukum gadai seperti yang dimaksud dalam KUHPerdata pasal 1150. Perum Pegadaian berbentuk Badan Usaha Milik Negara.

Usaha Perum Pegadaian: 1) penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai. 2) penyaluran uang pinjaman berdasarkan jaminan fidusia, pelayanan jasa titipan, pelayanan jasa sertifikasi logam mulia dan batu adi, unit toko emas, dan industri perhiasan emas,  serta usaha-usaha lainnya dengan persetujuan Menteri Keuangan. Untuk mendukung pembiayaan kegiatan usahanya, dengan persetujuan Menteri Keuangan Perum Pegadaian dapat : 1) melakukan kerjasama usaha dengan badan usaha lain; 2) membentuk anak perusahaan; 3) melakukan penyertaan modal dalam badan usahan lain.

Modal (awal) Perum Pegadaian seluruhnya berasal dari penyertaan modal Negara (kekayaan negara di luar APBN) . Selanjutnya penghimpunan dana dilakukan melalui pinjaman jangka pendek dari perbankan dan pihak lainnya, serta dari penerbitan obligasi.

4. Pasar Modal diatur dalam UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, serta peraturan pelaksana lainnya. Sesuai pasal 1 UU No 8 Tahun 1995, Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek. Penawaran Umum merupakan penawaran Efek yang dilakukan oleh Emiten (Pihak yang melakukan Penawaran Umum) untuk menjual Efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam UU No 8 Tahun 1995. Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersil, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyerta kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek dan setiap derivatif Efek.

Pihak yang terkait dengan penyelenggaraan Pasal Modal, antara lain:  1) Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal)  adalah badan yang melakukan pembinaan, pengaturan dan pengawasan sehari-hari kegiatan Pasar Modal;  2) Bursa Efek merupakan Pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli Efek Pihak – Pihak lain dengan tujuan memperdagangkan Efek di antara mereka. Yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai Bursa Efek adalah Perseroan yang telah memperleh izin usaha dari Bapepam;  3) Lembaga Kliring dan Penjamin adalah Pihak yang menyelenggarakan jasa kliring dan penjaminan penyelesaian Transaksi Bursa. Yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai Lembaga Kliring dan Penjamin adalah Perseroan yang telah memperoleh izin usaha dari Bapepam.  4) Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian adalah Pihak yang menyelenggarakan kegiatan Kustodian sentral bagi Bank Kustodian, Perusahaan Efek dan Pihak Lain. Yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian adalah Perseroan yang telah memperoleh izin usaha dari Bapepam.

Lembaga penunjang Pasar Modal  terdiri dari : 1) Kustodian adalah Pihak yang memberikan jasa penitipan Efek dan harta lain yang berkaitan dengan Efek serta jasa lain, termasuk menerima dividen, bunga, dan hak-hak lain, menyelesaikan transaksi Efek, dan mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya. Yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai Kustodian adalah Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Perusahaan Efek atau Bank Umum yang telah mendapat persetujuan Bapepam. 2) Biro Administrasi Efek adalah Pihak yang berdasarkan kontrak dengan Emiten melaksanakan pencatatan pemilikan Efek dan pembagian hak yang berkaitan dengan Efek. Yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai Biro Administrasi Efek adalah Perseroan yang telah memperoleh izin usaha dari Bapepam. 3) Wali Amanat adalah Pihak yang mewakili kepentingan pemegang Efek yang bersifat utang. Kegiatan ususaha sebagai Wali Amanat dapat dilakukan oleh Bank Umum dan Pihak lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Produk Pasar Modal adalah berupa: 1) Reksa Dana; 2) Saham; 3) Saham Preferen; 4) Obligasi; 5) Obligasi Konversi; 6) Waran; 7) Right Issue.

Lembaga Keuangan Lainnya, merupakan Lembaga Keuangan di luar Lembaga Keuangan Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank. Yang termasuk jenis Lembaga Keuangan ini adalah Lembaga Pembiayaan. Lembaga Pembiayaan diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 9 Tahun 2009  tentang Lembaga Pembiayaan. Dalam peraturan tersebut Lembaga Pembiayaan didefinisikan sebagai badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal. Lembaga Pembiayaan meliputi: 1) Perusahaan Pembiayaan;  2) Perusahaan Modal Ventura; dan 3) Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur.

1.  Perusahaan Pembiayaan. Kegiatan usaha Perusahaan Pembiayaan meliputi: 1) Sewa Guna Usaha; 2) Anjak Piutang; 3) Usaha Kartu Kredit; 4) Pembiayaan Konsumen. Perusahaan Pembiayaan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan. Dalam peraturan tersebut, Perusahaan Pembiayaan didefinisikan sebagai badan usaha di luar Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha Lembaga Pembiayaan.

Sewa Guna Usaha (Leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (Finance Lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (Operating Lease) untuk digunakan oleh Penyewa Guna Usaha (Lessee) selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara angsuran. Kegiatan Sewa Guna Usaha dilakukan dalam bentuk pengadaan barang modal bagi Penyewa Guna Usaha, baik dengan maupun tanpa hak opsi untuk membeli barang tersebut setelah perjanjian berakhir.  Dalam kegiatan ini, pengadaan barang modal dapat juga dilakukan dengan cara membeli barang dari Penyewa Guna Usaha yang kemudian disewagunausahakan kembali kepada Penyewa Guna Usaha. Sepanjang perjanjian Sewa Guna Usaha, hak milik atas barang modal yang disewagunausahakan berada pada Perusahaan Pembiayaan.

Anjak Piutang (Factoring) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian piutang dagang jangka pendek (jangka 1 tahun) suatu perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam bentuk Anjak Piutang tanpa jaminan dari Penjual Piutang (Without Recourse)  dimana Perusahaan Pembiayaan menanggung seluruh risiko tidak tertagihnya piutang dan Anjak Piutang dengan jaminan dari Penjual Piutang (With Recourse) dimana Penjual Piutang menanggung risiko tidak tertagihnya sebagian atau seluruh piutang yang dijual kepada Perusahaan Pembiayaan.

Usaha Kartu Kredit (Credit Card) adalah kegiatan pembiayaan untuk pembelian barang dan/atau jasa dengan menggunakan Kartu Kredit. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk penerbitan kartu kredit yang dapat dimanfaatkan oleh pemegangnya untuk pembelian barang dan/atau jasa.

Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance) adalah kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk penyediaan dana untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen (antara lain pembiayaan kendaraan bermotor, alat-alat rumah tangga, barang-barang elektronik, serta perumahan) dengan pembayaran secara angsuran.

2.  Perusahaan Modal Ventura (Venture Capital Company) adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan/penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan (investee Company) untuk jangka waktu tertentu dalam bentuk penyertaan saham, penyertaan melalui pembelian obligasi konversi, dan/atau pembiayaan berdasarkan pembagian atas hasil usaha. Sesuai dengan definisi ini,   kegiatan usaha Perusahaan Modal Ventura meliputi : 1) Penyertaan saham (equity participation); 2) Penyertaan melalui pembelian obligasi konversi (quasi equity participation); 3) Pembiayaan berdasarkan pembagian atas hasil usaha (profit/revenue sharing).

3. Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur adalah badan usaha yang didirikan khusus untuk melakukan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana pada proyek infrastruktur. Kegiatan usaha Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur meliputi: 1) Pemberian pinjaman langsung (direct lending) untuk pembiayaan infrastruktur; 2) Refinancing atas infrastruktur yang telah dibiayai pihak lain; 3) Pemberian pinjaman subordinasi (subordinated loans) yang berkaitan dengan pembiayaan infrastruktur. Untuk mendukung kegiatan usaha tersebut, Perusahaan Pembiayaan Infrastuktur dapat pula melakukan: 1) Pemberian dukungan kredit (credit enhancement) termasuk penjaminan untuk pembiayaan infrastruktur; 2) Pemberian jasa konsultasi; 3) Penyertaan modal (equity investment); 4) Upaya mencarikan swap market yang berkaitan dengan pembiayaan infrastruktur.

Perusahaan Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur dapat berbentuk Perseroan Terbatas atau Koperasi.

Referensi:

  1. Miranda Nasihin; Segala Hal Tentang Hukum Lembaga Pembiayaan; Buku Pintar; 2012.
  2. KUHPerdata.
  3. KUHD
  4. UU No 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian
  5. UU No 7 Tahun 1992 dan disempurnakan dengan UU No 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.
  6. UU No 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun
  7. UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.
  8. PP No 103 Tahun 2000 tentang Perusahaan Umum Pegadaian.
  9. PP No. 77 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun Lembaga Keuangan
  10. PP No. 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan
  11. Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan

 

Posted in Umum | 2 Comments »

Penggunaan Mata Uang Asing Dalam Kontrak

Posted by asro pada 27 April 2012

Sehubungan dengan disahkannya Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang,  dimana konon  undang-undang tersebut mengharuskan penggunaan mata uang Rupiah di wilayah Republik Indonesia, maka banyak pertanyaan yang muncul terkait penggunaan mata uang asing dalam Kontrak/Perjanjian khususnya jika Kontrak/Perjanian tersebut dilaksanakan dengan mitra asing. Wajar jika muncul banyak pertanyaan karena  adanya kekwatiran akan pelanggaran terhadap undang-undang ini yang  konon ada sangsi hukumnya berupa sangsi  kurungan. Sehubungan dengan hal tersebut, berikut ini disampaikan jawaban Hukum Online atas beberapa pertanyaan mengenai keharusan penggunaan mata uang Rupiah terkait adanya undang-undang tersebut.

Pertanyaan : Teman saya menyewa apartemen di Indonesia. Apartemen tersebut memiliki manajemen asing dan bertarif dollar. Sedangkan saat ini telah diberlakukan UU Mata Uang yang mewajibkan pembayaran dengan menggunakan Rupiah. Sewa sudah berjalan selama 2 tahun, dan selama 2 tahun ini teman saya membayar dengan dolar. Jangka waktu sewanya telah disepakati dalam perjanjian adalah 5 tahun. Bagaimana teman saya menyikapinya? Apakah teman saya tetap harus membayar sewa apartemen tersebut dengan Rupiah?

Jawaban : Dengan berlakunya UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang (“UU Mata Uang”), pada dasarnya setiap transaksi pembayaran maupun transaksi keuangan apapun yang dilakukan di Wilayah Republik Indonesia wajib menggunakan Rupiah. Ketentuan mengenai hal ini diatur dalam Pasal 21 ayat (1) UU Mata Uang. Selanjutnya, dalam ketentuan Pasal 23 UU Mata Uang diatur bahwa:  1) Setiap orang dilarang menolak untuk menerima Rupiah yang penyerahannya dimaksudkan sebagai pembayaran atau untuk menyelesaikan kewajiban yang harus dipenuhi dengan Rupiah dan/atau untuk transaksi keuangan lainnya di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, kecuali karena terdapat keraguan atas keaslian Rupiah. 2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan untuk pembayaran atau untuk penyelesaian kewajiban dalam valuta asing yang telah diperjanjikan secara tertulis.  Mengenai pertanyaan Anda, kita bisa merujuk pada penjelasan yang diberikan Wakil Ketua Komisi XI DPR RIAchsanul Qosasi dalam Seminar Hukumonline berjudul “Menghindari Risiko Pidana Penggunaan Mata Uang Asing Dalam Transaksi Bisnis di Indonesia” (14/7). Dalam kesempatan itu menurut Achsanul Kosasi jika perjanjian sewa-menyewa apartemen tersebut dibuat secara tertulis sebelum berlakunya UU Mata Uang (sebelum 28 Juni 2011), maka biaya sewa apartemen tersebut dapat dilanjutkan pelunasannya menggunakan mata uang asing (dalam hal ini dolar). Jadi, pembayaran atau penyelesaian kewajiban ini termasuk yang dikecualikan sebagaimana diatur dalam Pasal 23 ayat (2) UU Mata Uang.  Namun, jika perjanjian sewa-menyewa apartemen itu dibuat setelah diberlakukannya UU Mata Uang ini, maka pembayaran atau penyelesaian kewajiban dalam perjanjian itu harus menggunakan mata uang Rupiah.   Selain mengatur kewajiban menggunakan Rupiah dalam transaksi di Indonesia, UU Mata Uang juga mengatur sanksi bagi orang yang melanggar kewajiban tersebut. Berikut ketentuan pidana menurut Pasal 33 ayat (1) UU Mata Uang;  “Setiap orang yang tidak menggunakan Rupiah dalam:  a. setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran; b. penyelesaian kewajiban lainnya yang harus dipenuhi dengan uang; dan/atau  c. transaksi keuangan lainnya,  sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).”

Pertanyaan : Dengan berlakunya UU Mata Uang yang baru, di situ diwajibkan penggunaan Rupiah untuk segala transaksi keuangan yang terjadi di Indonesia. Bagaimana apabila saya sudah membuat perjanjian yang isinya memuat transaksi dengan menggunakan mata uang asing. Apakah perjanjian tersebut harus direvisi dan disesuaikan dengan tujuan UU tersebut? Apakah diatur dalam aturan peralihannya? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

Jawaban : Mengutip ketentuan Pasal 23 UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang (“UU Mata Uang”)1) Setiap orang dilarang menolak untuk menerima Rupiah yang penyerahannya dimaksudkan sebagai pembayaran atau untuk menyelesaikan kewajiban yang harus dipenuhi dengan Rupiah dan/atau untuk transaksi keuangan lainnya di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, kecuali karena terdapat keraguan atas keaslian Rupiah. 2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan untuk pembayaran atau untuk penyelesaian kewajiban dalam valuta asing yang telah diperjanjikan secara tertulis. Mengamati ketentuan dalam pasal tersebut di atas, perjanjian yang telah dibuat secara tertulis sebelum diundangkannya UU Mata Uang dapat diselesaikan/diteruskan pemenuhan transaksinya dengan menggunakan mata uang asing sebagaimana telah diperjanjikan. Perlu digarisbawahi bahwa pengecualian ini hanya berlaku bagi perjanjian yang telah ada dan berjalan sebelum UU Mata Uang ini diundangkan. Sedangkan untuk perjanjian yang dibuat setelah berlakunya UU Mata Uang ini (setelah 28 Juni 2011), maka tidak ada larangan untuk menentukan jumlah transaksi menggunakan mata uang asing dalam perjanjian. Akan tetapi, pemenuhan transaksinya (pembayarannya) harus tetap dilakukan dengan menggunakan Rupiah sesuai ketentuan Pasal 21 ayat (1) UU Mata Uang. Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi XI DPR Achsanul Qosasi dalam Seminar Hukumonline berjudul “Menghindari Risiko Pidana Penggunaan Mata Uang Asing Dalam Transaksi Bisnis di Indonesia” (14/7).   Seperti diketahui dalam Pasal 21 ayat (1) UU Mata Uang diatur bahwa Rupiah wajib digunakan dalam: a) setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran; b) penyelesaian kewajiban lainnya yang harus dipenuhi dengan uang; dan/atau c) transaksi keuangan lainnya, yang dilakukan di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian menurut hemat kami perjanjian yang isinya memuat transaksi dengan menggunakan mata uang asing tidak perlu direvisi, asalkan nanti pembayarannya dilakukan dengan menggunakan Rupiah. Dan UU Mata Uang sendiri tidak mengatur mengenai hal tersebut dalam ketentuan peralihannya. Demikian jawaban dari kami semoga bermanfaat.

Pertanyaan : Selamat Siang Bung Pokrol. Saya ingin tanya terkait dengan UU Mata Uang yang baru. Apakah benar semua transaksi pembayaran sekarang diharuskan menggunakan mata uang Rupiah? Lalu bagaimana bila suatu PT yang memiliki penghasilan dalam bentuk valas, kemudian pemegang sahamnya ingin menjual ke pihak lain di Indonesia, apakah sahamnya harus dihargai dengan Rupiah?

Jawaban : Melihat pada ketentuan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UUPT”) yang mengatur dalam Pasal 49 ayat (1) UUPT bahwa nilai saham harus dicantumkan dalam mata uang Rupiah. Akan tetapi UUPT ini tidak mengatur apakah bila saham tersebut diperjualbelikan, transaksinya harus menggunakan Rupiah atau tidak.   Akan tetapi, sejak 28 Juni 2011 ada aturan yang secara umum mewajibkan semua transaksi yang dilakukan di Indonesia dan mempunyai tujuan pembayaran, penyelesaian kewajiban yang harus dipenuhi dengan uang dan transaksi keuangan lainnya untuk menggunakan Rupiah (lihat Pasal 21 ayat (1) UU No 7 Tahun 2011 tenatng Mata Uang – “UU Mata Uang”). Dengan demikian jika PT yang Anda sebutkan itu berada di Indonesia baik PT lokal maupun PT Penanaman Modal Asing (“PT PMA”), maka segala transaksi keuangannya harus menggunakan Rupiah berdasarkan UU Mata Uang ini. Kecuali transaksi yang terjadi termasuk hal-hal yang dikecualikan di bawah ini, boleh menggunakan mata uang asing/valuta asing : a) transaksi tertentu dalam rangka pelaksanaan anggaran dan belanja negara; b) penerimaan atau pemberian hibah dari atau ke luar negeri; c) transaksi perdagangan internasional; d) simpanan di bank dalam bentuk valuta asing; atau e) transaksi pembiayaan internasional. (lihat Pasal 21 ayat (2) UU Mata Uang).   Dengan demikian, terkait dengan transaksi jual beli saham yang Anda tanyakan, meskipun harga/nilai saham dicantumkan dalam dolar, transaksi jual belinya tetap harus dilakukan dengan menggunakan Rupiah berdasarkan UU Mata Uang yang baru.   Sementara itu, menurut notaris Irma Devita Purnamasari dalam praktik PT PMA yang sebagian pemegang sahamnya asing, biasanya selain dalam Rupiah, nilai sahamnya juga ada ekuivalen dolarnya. Jadi, kalau ada transaksi penjualan saham asing dengan dolar, tetap ada ekuivalen Rupiahnya. Dengan demikian, misalnya dijual seharga USD 3 juta, maka kita harus cari ekuivalen Rupiahnya berapa, misalnya Rp. 25 miliar dengan nilai USd 1 = Rp. 8.623,-. Pihak asing terimanya tetap di Rp. 25 miliar. Karena di PT PMA memang harus ada ekuivalen antara dolar dan Rupiahnya. Sehubungan dengan kewajiban transaksi menggunakan Rupiah, maka jual-beli saham PT PMA juga harus dinyatakan dan diterima dalam Rupiah. Kemudian, setelah terjadi transaksi pihak yang menjual saham tersebut dapat mengkonversi uang hasil penjualan saham tersebut ke dolar.  Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Pertanyaan : Saya bekerja di Pelabuhan Indonesia yang juga memberi pelayanan terhadap kapal-kapal asing. Terhadap pelayanan jasa yang diberikan kami kenakan tarif dengan nilai dolar (USD). Setelah berlakunya UU No. 7 Tahun2011 tentang Mata Uang, apakah kami masih dapat mengenakan tarif USD terhadap kapal-kapal asing yang menggunakan jasa kami?  Apabila kami masih dapat membuat kontrak dengan perusahaan pelayaran asing tersebut dengan nilai transaksi dalam USD?

Jawab : Sejak berlakunya Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang (“UU Mata Uang”) pada 28 Juni 2011, berdasarkan Pasal 21 ayat (1) UU Mata Uang, maka mata uang Rupiah wajib digunakan di Wilayah Republik Indonesia dalam : a) setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran; b) penyelesaian kewajiban lainnya yang harus dipenuhi dengan uang; dan atau c) transaksi keuangan lainnya, yaitu antara lain meliputi kegiatan penyetoran uang dalam berbagai jumlah dan jenis pecahan dari Nasabah kepada Bank. Namun harus dipahami juga bahwa kewajiban penggunaan mata uang Rupiah di Wilayah Republik Indonesia tersebut dikecualikan oleh Pasal 21 ayat (2) UU Mata Uang, yaitu dalam hal : a) transaksi adalah transaksi tertentu dalam rangka pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN); b) penerimaan atau pemberian hibah dari atau ke luar negeri; c) transaksi perdagangan internasional; d) simpanan di Bank dalam bentuk valuta asing; atau e) transaksi pembiayaan internasional. Mencermati syarat transaksi perdagangan internasional yang mengecualikan penggunaan mata uang Rupiah di Wilayah Republik Indonesia, tentu menjadi pertanyaan apa yang dimaksud dengan “perdagangan internasiona”? Dalam hal ini, sangat disayangkan Penjelasan Pasal 21 ayat (2) Huruf c UU Mata Uang hanya menyatakan “cukup jelas”. Mengenai arti dari “perdagangan internasional”, Sumantoro di dalam “Naskah Akademis Peraturan Perundang-undangan RUU tentang Perdagangan Internasional” (Badan Pembinaan Hukum Nasional – Departemen Kehakiman RI, 1997/1998, hlm. 29) tegas mendefinisikan sebagai “the exchange of goods and services between nations”, sehingga jelas sudah bahwa perdagangan jasa (i.c. jasa-jasa pelabuhan yang diselenggarakan oleh Perusahaan Saudara) adalah suatu transaksi perdagangan internasional jika para pihaknya berbeda nasionalitasnya. Dan dalam hal ini pula, UU Mata Uang sama sekali tidak menegaskan bahwa yang dimaksudkan dengan “perdagangan internasional” adalah hanya perdagangan barang internasional (international trade on goods).  Merujuk pada tidak terdapatnya pembatasan oleh UU Mata Uang dan pendapat Sumantoro di atas, maka demikian transaksi jasa pada Pelabuhan di Indonesia antara Perusahaan Saudara dengan Pengusaha kapal berbendera asing (yang merupakan Perusahaan Asing) adalah merupakan perdagangan jasa yang bersifat intenasional (dikualifikasikan sebagai suatu “perdagangan internasional”), sehingga pembayaran harga pembelian jasanya dapat diperjanjikan dan dilaksanakan dalam mata uang selain Rupiah, baik dalam mata uang Dolar Amerika Serikat (United States Dollar) ataupun mata uang asing lainnya yang sah, sesuai Pasal 21 ayat (2) Huruf c UU Mata Uang. Namun, apabila transaksi yang dilakukan adalah transaksi jasa pada Pelabuhan di Indonesia antara Perusahaan Saudara dengan Perusahaan kapal berbendera Indonesia (yang merupakan Perusahaan Indonesia), maka perjanjian pembayaran harga pembelian jasa dan pelaksanaannya wajib menggunakan mata uang Rupiah sesuai ketentuan Pasal 21 ayat (1) Huruf a UU Mata Uang.  Jika hal tersebut dilanggar, maka anggota-anggota Direksi dari Perusahaan Saudara dan Perusahaan Indonesia bersangkutan yang bertanggung jawab dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200 juta (videPasal 33 ayat (1) UU Mata Uang), maupun, Perusahaan Saudara dan Perusahaan Indonesia bersangkutan dapat dipidana pula dengan pidana denda maksimum sebesar Rp. 200 juta (vide Pasal 39 ayat (1) UU Mata Uang).  Berkaitan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 23 UU Mata Uang, apabila perjanjian pembayaran harga pembelian jasa dan pelaksanaannya telah atau kemudian disepakati menggunakan mata uang Rupiah (termasuk dengan Pengusaha kapal berbendera asing),  maka Perusahaan Saudara wajib menerima pembayaran dalam mata uang Rupiah yang telah disepakati tersebut. Jika hal tersebut dilanggar, maka anggota-anggota Direksi dari Perusahaan Saudara yang bertanggung jawab juga dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200 juta (videPasal 33 ayat (2) UU Mata Uang), maupun, perusahaan Saudara dapat dipidana pula dengan pidana denda maksimum sebesar Rp. 200 juta (videPasal 39 ayat (1) UU Mata Uang). Tapi, di dalam Pasal 23 ayat (1) UU Mata Uang diatur pengecualian terhadap kewajiban tersebut yaitu bahwa perusahaan Saudara berhak untuk menolak pembayaran dalam Rupiah dan tidak dapat dipidana berdasarkan Pasal 33 ayat (2)dan Pasal 39 ayat (1) UU Mata Uang, jika Perusahaan Saudara meragukan keaslian dari mata uang Rupiah tersebut.   Last but not least, dalam hal ini pula, tentu adalah baik dan berguna jika Perusahaan Saudara dapat menetapkan (atau menyepakati dengan para pengguna jasa) untuk digunakannya suatu perhitungan kurs tertentu (baku) bagi konversi antar-mata uang bagi keperluan pelaksanaan pembayaran dalam mata uang Rupiah (misalnya, Kurs Tengah BI yang ditetapkan Bank Indonesia, atau Kurs Tengah Pajak yang ditetapkan Direktorat Jenderal Pajak-Kementerian Keuangan RI).  Demikian jawaban ini Saya sampaikan. Semoga bermanfaat.

Dari jawaban-jawaban di atas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Apabila kontrak dibuat sebelum diberlakukannya UU Mata Uang (sebelum tanggal 28 Juni 2011), maka mata uang yang digunakan untuk  transaksi/pembayaran terkait dengan pelaksanaan kontrak tersebut tetap mengikuti apa yang sudah diatur dalam kontrak tersebut. Jadi apabila nilai kontrak menggunakan mata uang Rupiah maka transaksi pembayarannya menggunakan Rupiah, sedangkan apabila nilai kontrak menggunakan mata uang asing  maka transaksi pembayarannya menggunakan mata uang asing (Ref UU Mata Uang Pasal 23 ayat (2)).
  2. Apabila kontrak dibuat setelah tanggal 28 Juni 2011 dengan perusahaan dalam negeri, maka nilai kontraknya bisa Rupiah, bisa juga mata uang asing  (Refer pendapat Wakil Ketua Komisi XI DPR Achsanul Qosasi dalam Seminar Hukumonline berjudul “Menghindari Risiko Pidana Penggunaan Mata Uang Asing Dalam Transaksi Bisnis di Indonesia” 14 Juli 2011, lihat juga  jawaban atas pertanyaan No 1 di atas), tetapi transaksi pembayarannya harus dalam Rupiah (Ref UU Mata Uang Pasal 21 ayat (1)).  
  3. Apabila kontrak dibuat setelah tanggal 28 Juni 2011 dengan perusahaan asing, maka nilai kontraknya bisa Rupiah, bisa juga mata uang asing dan pembayarannya juga bisa dengan menggunakan Rupiah atau mata uang asing (Ref UU Mata Uang Pasal 21 ayat (2) huruf c), karena kontrak ini masuk dalam kategori perdagangan internasional yang dikecualikan dari kewajiban penggunaan mata uang Rupiah Pasal 21 ayat (1)).

Terlepas dari semua penjelasan ini, menurut pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Prof  Hikmahanto Juwana seperti yang ditulis dalam Hukum Online, mengacu pada UU Mata Uang Pasal 47, dapat diartikan bahwa peraturan ini (UU Mata Uang) belum berlaku, karena pasal itu mengamanatkan pembentukan peraturan pelaksana yang harus ada maksimal setahun setelah diundangkan, atau 28 Juni 2012 dan hingga saat ini peraturan pelaksananya belum ada.

Selain itu, menanggapi maraknya kekwatiran banyak pihak, pejabat di Direktorat Pengelolaan Kas Negara Direktorat Jendral Perbendaharaan seperti yang dikutip Hukum Online,  menegaskan  sikap resmi pemerintah terkait dengan UU Mata Uang adalah bahwa yang diatur dalam UU Mata Uang  adalah transaksi tunai (uang kartal). Penjelasan ini berarti bahwa penggunaan mata uang asing di kontrak tidak dilarang, tetapi saat transaksi pembayarannya secara tunai harus menggunakan Rupiah, apabila transaksi kontraknya antar mitra lokal/dalam negeri dan dilakukan di wilayah RI.

Posted in Contract | 1 Comment »

Acceleration Clause

Posted by asro pada 5 April 2012

Kemarin baca-baca salah satu kontrak, ketemu istilah baru :  “acceleration clause” (maklum bukan orang hukum). Terpaksa berselancar dulu, ternyata  banyak  sekali yang menjelaskan tentang istilah ini, tiga diantaranya saya tulis di sini.

Yang pertama saya ambil dari investorwords.com.  Di situ dijelaskan bahwa Acceleration clause; A provision that allows a lender to demand payment of the total outstanding balance or demand addittional collateral under certain circumstances, such as failure to make payments, bankruptcy, nonpayment of taxes on mortgaged property, or the breaking of loan covenants.

Terjemahan bebasnya : Pasal akselerasi merupakan ketentuan dalam kontrak yang memungkinkan pemberi pinjaman menuntut pembayaran seluruh sisa utang atau menuntut tambahan jaminan, jika terjadi kondisi tertentu seperti gagal melakukan pembayaran, bangkrut, tidak melunasi utang/pajak pada penggadaian barang atau melanggar persyaratan pinjaman.

Yang kedua dari WikipediaAn acceleration clause, in the law of contracts, is a term that fully matures the performance due from a party upon a breach of the contract. Such clauses are most prevalent in mortgages and similar contracts to purchase real estate in installments. Suppose, for example, the contract wa for A to purchase Blackacre from B for $100,000, to be paid in 5 monthly installments of $20,000. If A makes the first two payments, but fails to make the third payment, an acceleration clause would require that A must immediately pay B the entire balance of $60.000, or lose his right to purchase Blackacre (without getting a refund of his $40.000). A sample acceleration clause reads like this: In the event of default in the payment of any of the said installments or said interest when due as herein provided, time being of the essence hereof, the holder of this note may, without notice or demand, declare the entire principal sum then unpaid immediately due and payable.

Terjemahan bebasnya: Dalam hukum kontrak, klausul akselerasi merupakan suatu istilah yang menggambarkan jatuh temponya seluruh pembayaran dari salah satu pihak karena terjadi pelanggaran kontrak. Klausul tersebut umumnya digunakan dalam kontrak penggadaian atau kontrak pembelian real estate dalam bentuk cicilan. Sebagai contoh, sebuah kontrak dimana A membeli sebidang tanah dari B seharga $100.000 yang akan dicicil setiap bulan selama 5 kali, dengan besar cicilan $20.000. Apabila A sudah membayar 2 cicilan pertama, tetapi gagal membayar cicilan ke-3, maka klausul ekselerasi akan mengharuskan A untuk membayar dengan segera seluruh sisa cicilan sebesar $60.000 kepada B atau jika tidak maka A akan kehilangan haknya atas sebidang tanah yang dibeli tersebut, tanpa mendapat pengembalian $40.000 yang sudah dibayar sebelumnya. Salah satu contoh klausul akselerasi: Dalam hal terjadi kelalaian dalam pembayaran terhadap salah satu angsuran atau bunga tersebut pada saat jatuh tempo sebagaimana dinyatakan dalam surat perjanjian ini, pemegang surat ini bisa, tanpa pemberitahuan atau permintaan, menyatakan bahwa  jumlah seluruh pokok yang belum dibayar dengan segera akan  jatuh tempo dan harus segera dibayarkan.

Yang ketiga dari Kamus Keuangan Online. Klausul akselerasi merupakan pasal dalam kontrak yang menyatakan bahwa penjual dapat menuntut pembayaran penuh dengan segera dari sisa yang belum dibayar jika pembeli gagal membayar angsuran yang masih terhutang.

Dari ketiga definisi di atas dapat disimpulkan bahwa klausul akselerasi adalah klausul dalam kontrak, umumnya kontrak penggadaian atau kontrak pinjam-meminjam atau kontrak pembelian dengan cicilan atau kontrak sejenis lainnya, yang memberi hak kepada pihak penggadaian atau pemberi pinjaman atau penjual untuk menuntut pembayaran seluruh sisa hutang dengan segera jika terjadi  pelanggaran kontrak misalnya gagal melakukan pembayaran cicilan atau utang atau bunga atau pelanggaran terhadap syarat kontrak lainnya. Apabila pihak berhutang gagal memenuhi tuntutan/kewajiban ini maka pada umunya ia akan kehilangan haknya atas barang yang digadaikan atau barang agunan/jaminan atau barang yang akan dibeli tanpa mendapatkan pengembalian cicilan yang sudah dibayar sebelumnya.

Posted in Contract | Leave a Comment »

Kontrak (5) : Syarat Sahnya Perjanjian

Posted by asro pada 31 Oktober 2011

Seperti yang dijelaskan pada seri sebelumnya bahwa setiap orang/badan hukum bebas melakukan perjanjian dengan siapapun tentang hal apapun (asas kebebasan berkontrak) dan perjanjian yang dibuat tersebut akan mengikat mereka yang membuatnya (asas kepastian hukum). Walaupun demikian, sebebas apapun mereka membuat perjanjian tentunya ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar perjanjian yang dibuat tersebut sah di mata hukum.  Adapun syarat-syarat tersebut seperti yang diatur dalam KUHPerdata Pasal 1320, adalah: (1) Ada kesepakatan dari mereka yang mengikatkan dirinya; (2) Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian; (3) Mengenai suatu hal tertentu; dan (4) Suatu sebab yang halal/legal.

Kedua syarat pertama disebut juga dengan syarat subyektif  dimana apabila dilanggar maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan (dimintakan pembatalannya kepada hakim melalui pengadilan). Sedangkan kedua syarat terakhir disebut dengan syarat objektif dimana apabila dilanggar maka perjanjian tersebut batal demi hukum (batal dengan sendirinya).

Kesepakatan.  Kesepakatan merupakan suatu proses dalam rangka mendapatkan titik temu dari dua kepentingan yang berlawanan.  Proses ini umumnya diawali dengan pemberitahuan tentang maksud oleh satu pihak  kepada pihak yang lainnya (intent), kemudian pihak lainnya akan membalas dengan mengajukan  penawaran (offer).  Apabila penawaran tersebut disetujui maka pihak yang ditujuh penwaran tersebut akan menerimanya (acceptance).  Proses kesepakatan ini harus dilakukan secara bebas tanpa adanya kekhilafan atau paksaan, ataupun  penipuan (Lihat KUHPerdata Pasal 1321).  Apabila sebaliknya terjadi dimana suatu kesepakatan diberikan secara tidak bebas maka kesepakatan itu menjadi tidak sah dan perjanjiannya  menjadi dapat dibatalkan (tidak terpenuhi syarat subjektif).

Kecakapan.  Sehubungan dengan syarat kecakapan ini, undang-undang  (KUHPerdata Pasal 1329) beranggapan bahwa pada dasarnya setiap orang adalah cakap untuk membuat perjanjian kecuali ia oleh undang-undang  dinyatakan tidak cakap (general legal presumption) .  Mengenai ketidakcakapan ini KUHPerdata Pasal 1330 menyatakan bahwa orang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah “orang-orang yang belum dewasa, mereka yang ditaruh di bawah pengampuan,  perempuan yang telah kawin dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang dan semua orang-orang yang telah dilarang oleh undang-undang untuk membuat perjanjian-perjanjian tertentu“. Selanjutnya sesuai KUHPerdata Pasal 330, yang dimaksudkan dengan orang yang belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai usia 21 tahun dan tidak kawin sebelumnya. Berdasarkan pengertian ini maka apabila seorang yang belum berusia 21 tahun menikah maka ia dinyatakan telah dewasa, begitu juga apabila ia bercerai pada usia belum genap 21 tahun maka ia tetap dinyatakan telah dewasa. Sedangkan yang masuk dalam golongan orang-orang ditempatkan dalam pengampuan sesuai KUHPerdata Pasal 433  adalah setiap orang dewasa yang selalu berada dalam keadaan dungu, gila atau mata gelap, sekalipun ia kadang-kadang cakap menggunakan pikirannya. Seorang dewasa boleh juga ditempatkan di bawah pengampuan karena keborosannya. Mengenai ketidakcakapan perempuan yang telah kawin dapat dilihat pada KUHPerdata Pasal 108 yang berbunyi ” Sang istri, sekalipun dia kawin di luar harta bersama, atau dengan harta benda terpisah, tidak dapat menghibahkan, memindahtangankan, menggadaikan, memperoleh apa pun, baik secara cuma-cuma maupun dengan beban, tanpa bantuan suami dalam akta atau izin tertulis. Sekalipun suami telah memberi kuasa kepada istrinya untuk membuat akta atau perjanjian tertentu, si istri tidaklah berwenang untuk menerima pembayaran apa pun, atau memberi pembebasan untuk itu tanpa izin tegas dari suami” dan Pasal 110 yang berbunyi “Istri tidak boleh tampil dalam pengadilan tanpa bantuan suaminya, meskipun dia kawin tidak dengan harta bersama, atau dengan harta terpisah, atau meskipun dia secara mandiri menjalankan pekerjaan bebas”. Akan tetapi berdasar Surat Edaran MA No. 3 tahun 1961 kedua pasal tersebut tidak berlaku lagi. Dengan demikian maka perempuan yang telah kawin tidak lagi masuk dalam kategori orang yang tidak cakap dalam membuat Perjanjian.

Suatu hal tertentu. Yang dimaksud dengan suatu hal tertentu di sini adalah merupakan objek dari suatu perjanjian atau yang  disebut juga dengan prestasi.  Menurut KUHPerdata Pasal 1332, hanya barang yang dapat diperdagangkan saja yang dapat menjadi objek perjanjian.  Selanjutnya KUHPerdata Pasal 1333 menyatakan bahwa suatu perjanjian harus mempunyai objek  berupa  suatu barang yang paling sedikit dapat ditentukan jenisnya. Jumlah barang tersebut tidak perlu pasti, asal saja jumlah itu kemudian dapat ditentukan atau dihitung. Selain itu, terkait dengan barang yang menjadi objek perjanjian ini, KUHPerdata Pasal 1334 menyatakan bahwa barang yang baru ada pada waktu yang akan datang, dapat menjadi pokok suatu Perjanjian. Akan tetapi seseorang tidak diperkenankan untuk metepaskan suatu warisan yang belum terbuka, ataupun untuk menentukan suatu syarat dalam perjanjian mengenai warisan itu, sekalipun dengan persetujuan orang yang akan meninggalkan warisan yang menjadi objek perjanjian itu.

Sebab yang halal. Penjabaran mengenai sebab yang halal dapat dijumpai dalam KUHPerdata Pasal 1337 yang menyatakan bahwa suatu sebab adalah tidak halal,  jika sebab itu dilarang oleh undang-undang atau bila sebab itu bertentangan dengan kesusilaan atau dengan ketertiban umum.

Posted in Contract | 2 Comments »

Kontrak (4) : Sekali Lagi Tentang Perjanjian, Perikatan dan Kontrak

Posted by asro pada 14 Oktober 2011

 Perjanjian, Perikatan dan Kontrak adalah istilah dalam hukum kontrak yang sering membingungkan  dan sulit untuk dibedakan pengertiannya antara satu dan  lainnya.

Perjanjian vs PerikatanPerjanjian sesuai dengan KUHPerdata Pasal 1313 didefinisikan  sebagai “suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih“. Sedangkan mengenai Perikatan, KUHPerdata tidak secara tegas mendefinisikannya, akan tetapi dalam KUHPerdata Pasal 1233 dinyatakan bahwa: Perikatan, lahir karena suatu perjanjian  atau karena undang-undang. Dari kedua Pasal ini terlihat bahwa pengertian dari Perjanjian dapat meliputi pengertian dari Perikatan, karena Perikatan dapat lahir dari Perjanjian itu sendiri (Lihat Buku Teknik Perancangan Kontrak Bisnis karangan Ricardo Simanjuntak hal 29).

Sementara itu, Prof Subekti mendefinisikan Perikatan dan Perjanjian sbb: Perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak , berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Sedangkan Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau  dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Dari kedua definisi ini terlihat bahwa perbedaan yang tegas antara Perikatan dan Perjanjian adalah terletak pada hubungan atau konsekwensi hukumnya. Pada Perikatan, masing-masing pihak mempunyai hak hukum untuk menuntut pelaksanaan prestasi dari pihak lainnya yang sudah sepakat untuk terikat. Seadangkan pada Perjanjian tidak ditegaskan tentang hak hukum yang dimiliki oleh masing-masing pihak yang berjanji apabila salah satu pihak yang berjanji tersebut ternyata ingkar janji (Lihat Bukunya Bang Ricardo Simanjuntak di atas). Akan tetapi, apabila kita hubungkan pendapat Prof Subekti ini dengan KUHPerdata Pasal 1233 dimana dinyatakan bahwa perikatan juga lahir dari suatu perjanjian, berarti bahwa Perjanjian di sini harusnya juga memiliki konsekwensi hukum. Jadi dari sini bisa disimpulkan bahwa Perjanjian dapat dibagi dua, yang pertama adalah suatu hubungan yang tidak memiliki konsekwensi hukum dan yang kedua adalah suatu hubungan yang melahirkan perikatan yang memiliki konsekwensi hukum.

Kontrak Adalah Perjanjian Yang Memiliki Konsekwensi Hukum. Sesuai Black’s Law Dictionary, Kontrak adalah suatu perjanjian antara dua orang atau lebih yang menciptakan kewajiban untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu hal yang khusus.  (Contract : An agreement between two or more persons which creates an obligation to do or not to do a peculiar thing). Dari definisi ini terlihat bahwa Kontrak merupakan  Perjanjian yang menciptakan kewajiban, ini berarti dalam Kontrak ada konsekwensi hukumnya. Dengan kata lain  Kontrak merupakan Perjanjian para pihak yang mempunyai konsekwensi hukum yang mengikat. Apabila Perjanjian menyangkut hubungan baik yang memiliki konsekwensi hukum mapun tidak memiliki konsekwensi hukum, maka pengertian Kontrak tidak seluas Perjanjian, karena hanya menyangkut hubungan yang memiliki konsekwensi hukum saja. Dalam hal ini Kontrak lebih tepat disetarakan dengan Perikatan (Lihat Buku Teknik Perancangan Kontrak Bisnis karangan Ricardo Simanjuntak hal 34 s/d 38). Jadi dapat disimpulkan bahwa Kontrak adalah Perjanjian yang memiliki konsekwensi hukum yang  juga dapat disetarakan/disamakan dengan Perikatan.

MoU dan LoI adalah Perjanjian Yang Tidak Memiliki Konsekwensi Hukum. Seperti yang dijelaskan di atas bahwa  Kontrak merupakan Perjanjian yang memiliki konsekwensi/kekuatan hukum yang mengikat para pihak. Umumnya perjanjian jenis ini dilakukan dalam kegiatan-kegiatan bisnis yang berhubungan dengan hukum kekayaan dari masing-masing pihak. Bilamana salah satu pihak melakukan inkar janji (wan prestasi) maka ia akan dituntut ganti kerugian dari harta kekayaan miliknya. Seperti yang dijelaskan di atas juga bahwa selain berkekuatan hukum, Perjanjian juga bisa dilakukan tanpa adanya konsekwensi hukum. Perjanjian jenis ini umumnya dilakukan dalam kegiatan-kegiatan non bisnis (keluarga atau sosial). Pada perjanjian jenis ini tidak ada sangsi hukum yang mengikat, yang ada hanyalah sangsi moral. Walaupun Perjanjian tanpa  memiliki konsekwensi hukum ini umumnya untuk kegiatan-kegiatan non bisnis, akan tetapi bisa saja Para Pihak memiliki kemauan (party intention) untuk membuat perjanjian tanpa konsekwensi hukum dalam kegiatan bisnis mereka. Memorandum of  Understanding (MoU) dan  Letter of Intent (LoI)   yang sering kita jumpai dalam kegiatan bisnis adalah merupakan contoh Perjanjian tanpa konsekwensi hukum, walaupun dalam prakteknya terkadang  sengaja disusupi ketentuan-ketentuan yang memiliki konsekwensi hukum.

Memorandum of Understanding (MoU) dalam pengertian idealnya sebenarnya merupakan suatu bentuk Perjanjian atau kesepakatan awal menyatakan langkah pencapaian saling pengertian antara kedua belah pihak untuk melangkah kemudian pada penandatanganan suatu Kontrak (Lihat Buku Teknik Perancangan Kontrak Bisnis karangan Ricardo Simanjuntak hal  45).  Jadi bisa dikatakan MoU sebagai kesepakatan Prakontrak, yaitu kesepakatan dimana Para Pihak melakukan pejajakan untuk saling mengenal dalam membangun kesamaan pengertian sebelum masuk kedalam ikatan bisnis secara lebih formal melalui Kontrak. Selain itu, MoU juga terkadang dibuat sebagai wadah untuk bernegosiasi sebelum masuk ke Kontrak sesungguhnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa MoU bukanlah merupakan Kontrak karena memang masih merupakan kegiatan Prakontrak, sehingga di dalamnya sengaja tidak dimasukkan “intention to create legal relation” oleh Para Pihak. Walaupun per-definisi MoU merupakan Perjanjian tanpa konsekwensi hukum, akan tetapi dalam prakteknya terkadang Para Pihak dengan berbagai pertimbangan sengaja memasukan ketentuan konsekwensi hukum dalam sebuah MoU. Pertimbangan-pertimbangan tersebut antara lain : 1) Untuk menghindari tidak adanya niat baik atau ketidak seriusan salah satu Pihak dalam pelaksanaan Perjanjian Prakontrak seperti misalnya secara sewenang-wenang membatalkan sendiri rencana tanpa alasan yang kuat; 2) Untuk menghindari kerugian baik finansial maupun non finansial yang telah dikeluarkan Para Pihak selama kegiatan Prakontrak; 3) Menjaga kerahasiaan dari data/informasi yang diberikan selama kegiatan Prakontrak. Apabila sebuah MoU sudah mengandung unsur konsekwensi hukum seperti ini, maka walaupun berbentuk MoU namun Perjanjian tersebut sudah merupakan sebuah Kontrak.

Letter of Intent (LoI) secara teori dimaksudkan sebagai kesepakatan yang tidak mempunyai konsekwensi hukum yang mengikat. Dengan kalimat lain LoI ini sering digunakan sebagai langkah awal untuk memulai negosiasi untuk menuju kepada pembentukan kontrak. LoI pada dasarnya hanyalah pernyataan keinginan dari satu pihak kepada pihak lain (calon mitra berkontraknya) dimana keinginan tersebut baru akan ditindak lanjuti dalam bentuk penawaran (offer) apabila syarat-syarat yang diajukan bersamaan dengan keinginan tersebut dapat dipenuhi oleh Pihak yang dituju. Jadi LoI bukanlah offer tetapi merupakan pra Offer.  (Lihat Buku Teknik Perancangan Kontrak Bisnis karangan Ricardo Simanjuntak hal  52 – 56).  LoI merupakan pra-Offer yang pada umumnya akan ditindaklanjuti dengan Offer yang biasanya berbentuk Purchase Order (PO) setelah persyaratan-persyaratan yang diajukan bersamaan dengan LoI tersebut disetujui oleh Pihak lainnya. Apabila pihak yang dituju sepakat dengan seluruh ketentuan yang disebut dalam PO maka ia akan menerimanya (Acceptance), dan pada saat itu PO berubah menjadi Kontrak. Akan tetapi dalam prakteknya sering terjadi LoI diperlakukan sebagai PO, dimana di dalam LoI juga berisi perintah-perintah yang setara dengan pemesanan atau dengan mencantumkan ketentuan bahwa dalam hal persyaratan-persyaratan dalam LoI terpenuhi, LoI tersebut dapat dianggap sebagai PO. Dalam hal seperti ini, maka secara hukum LoI tersebut  dapat disamakan dengan PO yang berkekuatan sebagai Offer, dimana apabila pihak yang dituju menerimanya (Acceptance) akan berubah menjadi Kontrak yang mengikat dan harus dipenuhi oleh masing-masing pihak.

Perjanjian sama artinya dengan Persetujuan.  Ada satu lagi istilah yang sering dipakai/dijumpai dalam hukum kontrak yaitu  “Persetujuan”. Menurut Prof. Subekti, tidak ada perbedaan pengertian antara “Persetujuan” dan “Perjanjian” karena “Perjanjian” dan “Persetujuan” sama-sama mempunyai pengertian bahwa kedua belah pihak tersebut setuju untuk melakukan sesuatu yang telah disepakati bersama.

Posted in Contract | 1 Comment »