Asro Pun’ Blog

Arsip untuk ‘Umum’ Kategori

Selamat Idul Fitri 1432 H

Posted by asro pada 26 Agustus 2011

Selamat Idul Fitri 1432 H.

Maaf Lahir Dan Bathin

Ditulis dalam Umum | Tinggalkan sebuah Komentar »

Selamat Tinggal Dumai – Selamat Datang Jakarta

Posted by asro pada 7 Juni 2010

Hari ini 4 Juni 2010 merupakan hari terakhir kami masuk kantor di RU II Dumai. Mulai Senin 07 Juni 2010 kami sudah berkantor di Engineering Center – Dit Pengolahan Jakarta.  Sesuai dengan Surat Mutasi  yang kami terima, terhitung 1 Juni 2010 yang lalu kami pindah ke Engineering Center sebagai Asisten Administrasi Kontrak. Pada kesempatan yang baik ini, kami sekeluarga dengan kerendahan hati memohon maaf kepada Bapak dan Ibu keluarga besar RU II atas segala kekurangan dan kesalahan yang terjadi baik di Kantor maupun dalam pergaulan kita sehari-hari selama hampir 19 tahun kami di Dumai. Semoga hubungan dan kerjasama kita yang baik selama ini tetap terjalin.

Anak Timor Main Sesando – Anak Melayu Main Rebana – Sudah Sembilan Belas Tahun Kita Besamo – Kini Saatnya Kita Berpisah.

Jalan-Jalan Ke Sungai Rokan – Singgah Sebentar di Bukit Timah – Dengan Tulus Kami Pohonkan – Agar Dimaafkan Kilaf dan Salah.

Kota Dumai Indah Permai – Letaknya Di tepian Selat Malaka – Go Go OPI – Semoga Kilang Putri Tujuh Semakin Jaya.

Ditulis dalam Umum | 10 Komentar »

System Dynamics

Posted by asro pada 15 Januari 2010

Sudah lama saya ingin mempelajari lagi topik ini, tapi nggak pernah terlaksana. Mengapa saya ingin? Ada 3 alasan, pertama untuk bernostalgia, dulu waktu kuliah di Lab LSPK ITB, saya ikut kuliahnya Pa. Tasrif mengenai topik ini. Waktu itu simulasinya masih  pakai Micro Dynamo berbasis DOS, tugasnya waktu itu membuat model untuk Star War. Jadi dengan mempelajari System Dynamics rasanya seperti masa kuliah dulu. Alasan kedua adalah, System Dynamics melatih kita untuk berpikir yang lebih komprehensif (secara kesisteman), hal ini disebabkan dalam pemodelan System Dynamics semua hal yang terkait diperhitungkan.  Alasan ketiga, karena System Dynamics masih saudara dekat dengan bidang pekerjaan yang saya geluti saat ini, yaitu Process Control.  Dalam Process Control yang kita pelajari adalah dinamika dari suatu unit proses, kemudian berusaha untuk mengontrolnya sehingga kondisi operasi yang diinginkan tetap terjaga. Jadi (mungkin) Process Control merupakan bagian dari System Dynamics. Sebagai bagian dari System Dynamics mestinya teknik/metode yang dipakai System Dynamics bisa juga diterapkan untuk Process Control (kalau nggak salah hal ini pernah disampaikan oleh Pa. Tasrif waktu kuliah dulu) atau sebaliknya, metode yang ada di Process Control bisa digunakan pada System Dynamics.

System Dynamics yang terkadang disebut juga sebagai System Thinking pertama kali diperkenalkan oleh Prof Jay W Forrester dari MIT pada tahun 1960-an.  Saat ini System Dynamics digunakan diberbagai bidang, dari industri hingga manajemen; dari sejarah hingga musik.

Ditulis dalam Umum | Tinggalkan sebuah Komentar »

Selamat Idul Fitri 1430 H

Posted by asro pada 18 September 2009

Labaran 2009Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H.

Maaf Lahir & Bathin.

 

 

 

.

Ditulis dalam Umum | Tinggalkan sebuah Komentar »

Selamat Pagi

Posted by asro pada 27 April 2009

selamat-pagi-1

Selamat pagi, selamat memasuki hari baru,  dengan kesegaran baru.

Ditulis dalam Umum | Tinggalkan sebuah Komentar »

Biji Yang Mati

Posted by asro pada 13 April 2009

paska-2009

Biji tetaplah  sebuah biji jika ia tidak mati, tetapi bila ia mati akan menghasilkan buah berlimpah.

Selamat Paskah bagi yang merayakannya.

Ditulis dalam Umum | Tinggalkan sebuah Komentar »

Semana Santa

Posted by asro pada 8 April 2009

 mater-dolorosa

O Vos Omnes Qui Transitis, Per viam Attendite Et Videte, Si Est Dolor Sicut Dolor Meus .

(”Wahai sekalian Kamu yang melintasi Jalan Ini, Pandanglah dan Lihatlah, apakah ada kedukaan seperti Kedukaan-Ku”)

Ditulis dalam Umum | Tinggalkan sebuah Komentar »

Penggunaan Metoda DS/AHP dalam Proses Evaluasi Usulan Investasi

Posted by asro pada 10 Februari 2009

Metoda Dempster – Shafer/Analytic Hierarchy Process (DS/AHP) merupakan suatu teknik yang mendukung proses pengambilan keputusan, pertama kali diperkenalkan oleh Beynon, Curry dan Morgan di tahun 2000 dan dikembangkan lebih lanjut oleh Beynon, Cosker dan Marshall di tahun 2002.  Dalam metoda ini, criteria dan alternative keputusan disusun dalam bentuk hirarki (hierarchical decision structure), seperti pada metode AHP. Pembobotan terhadap decision alternative/group alternative (DA) dilakukan terhadap seluruh alternative, kemudian penggabungan alternative antar criteria dilakukan dengan menggunakan dempster-shafer theory (DST).

Dalam setiap proses pengambilan keputusan selalu ada minimal satu criteria dan lebih dari satu alternative keputusan (decision alternative). Untuk mendapatkan suatu keputusan, setiap alternative keputusan diberi nilai/bobot. Jika  criteria yang digunakan lebih dari satu, maka pembobotan juga dilakukan untuk masing-masing criteria. Total nilai suatu alternative diperoleh dengan menjumlahkan bobot alternative tersebut yang berasal dari seluruh criteria.

Dalam memberikan bobot baik untuk alternative maupun criteria, tentunya harus  didasarkan pada data/informasi/pengetahuan yang memadai. Pada kenyataannya,  data/informasi/pengetahuan tidak selalu kita miliki, sehingga bobot yang diberikan juga tidak berdasar, asal-asalan yang pada akhirnya hasil/keputusan yang diambil tidak tepat. Metoda DS/AHP dikembangkan untuk mengatasi permasalahan ini.  Dalam DS/AHP,  ketiadaan data/informasi/pengetahuan juga dimodelkan/diberi bobot, yaitu dengan jalan  mengikut sertakan kumpulan seluruh criteria/alternative sebagai salah satu item dalam pembobotan.

Langkah-langkah/prosedur pengambilan keputusan dengan menggunakan DS/AHP adalah sbb:

 ds-ahp-11

Selanjutnya akan diberikan contoh penggunaannya, yaitu dalam proses evaluasi usulan investasi di salah satu perusahaan, katakan perusahaan ABCD. Dalam hal ini, DS/AHP digunakan untuk menentukan urutan/ranking prioritas usulan.

Sebagai sebuah perusahaan yang ingin terus berkembang, perusahaan ABCD juga selalu berusaha untuk mempertahankan asset yang dimilikinya saat ini agar tetap berdaya guna dan pada saat yang sama melakukan inovasi-inovasi untuk mengembangkan bisnisnya.  Realisasi dari rencana usaha ini pada umumnya dilakukan melalui proyek-proyek investasi.

Sebelum suatu investasi dilaksanakan, ia harus melalui proses pengusulan dari fungsi pengusul, dievaluasi oleh fungsi perencana, jika dianggap layak akan diusulkan ke direksi untuk dibawah ke RUPS untuk mendapatkan persetujuan.  Jika sudah disetujui, baru proyek investasi tersebut dapat dilaksanakan.  Rangkaian proses ini, terutama proses pengusulan dan evaluasi, diatur dalam suatu Sistem Tata Kerja.

Proses pengusulan dan evaluasi terhadap usulan investasi dilakukan secara berjenjang dimulai di tingkat unit operasi, tingkat direktorat sampai ke tingkat koorporat jika nilai usulan investasi tersebut melebihi otorisasi direktur.

Sesuai sistem tata kerja tersebut, setidaknya ada 4 aspek yang dijadikan criteria dalam evaluasi usulan investasi, yaitu : 1) Teknis/operasional; 2) Parameter keekonomian; 3) Analisa sensitivitas; dan 4) Peta portofolio.

Akan tetapi dalam contoh ini, saya menambahkan satu criteria lagi, yaitu Tingkat Urgensi, sehingga total-nya menjadi 5 criteria. Mengapa ada tambahan criteria tingkat urgensi?  Untuk  diketahui, bahwa selain untuk tujuan ekonomi, investasi di perusahaan ABCD juga bertujuan sosial/meningkatkan citra atau untuk memenuhi regulasi, dimana jenis investasi  ini secara ekonomis umumnya tidak menguntungkan.  Selain itu, ada juga jenis usulan investasi yang memiliki tingkat urgensi yang tinggi terkait dengan kelangsungan operasi/existing sehingga harus segera dilaksanakan walaupun tidak menguntungkan secara ekonomis, hal ini biasanya terkait dengan investasi penggantian. Kriteria tingkat urgensi bertujuan untuk mengakomodir kedua jenis usulan investasi ini.

Dalam contoh ini, usulan investasi yang akan dievaluasi berjumlah 4 buah, sebut saja A, B, C dan D.  Dari prespektif DS/AHP, dalam contoh ini terdapat 5 criteria dan 4 alternative.  Peranan DS/AHP dalam proses evaluasi ini adalah dalam menentukan  urutan prioritas dari usulan investasi tersebut berdasarkan criteria yang ada.

Berikut adalah prosedur evaluasi usulan dengan metoda DS/AHP tersebut.

ds-ahp-2

Dari hasil evaluasi ini, usulan yang memiliki  nilai/prioritas paling tinggi adalah A, disusul B, D dan terakhir C.

Ditulis dalam Project Management, Umum | 3 Komentar »

Selamat Natal 2008 & Tahun Baru 2009

Posted by asro pada 19 Desember 2008

kartu-natalHendaklah langit bersuka cita dan bumi bersorak sorai di hadapan Wajah Tuhan,  karena Dia sudah datang.

Ditulis dalam Umum | 1 Komentar »

Knowledge Management System (KMS)

Posted by asro pada 29 Oktober 2008

Tulisan ini disadur dari buku Knowledge Management Audit, karangan Ningky Munir, terbitan Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Maret 2008.

Dalam kegiatan commissioning suatu proyek pemasangan APC (Advanced Process Control) di suatu unit operasi, seorang engineer senior  hanya memerlukan waktu 1 minggu untuk menyelesaikannya. Jika pekerjaan yang sama diberikan kepada seorang engineer muda maka waktu yang diperlukannya akan semakin panjang, bahkan pada kondisi ekstrim jika engineer muda tersebut belum pernah melakukan kegiatan ini bisa saja dia tidak berhasil menyelesaikannya, walaupun sebelum terjun ke lapangan engineer muda ini sudah dibekali dengan training oleh seniornya dan membaca semua buku manual APC serta teori process control yang terkait.  Mengapa demikian? Karena kedua engineer tersebut memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda. Engineer senior tentunya dengan jam terbang yang tinggi memiliki pengetahuan yang lebih tinggi ketimbang engineer muda.

Apa itu Pengetahuan ?    Banyak definisi mengenai pengetahuan (knowledge) yang dapat dilihat di berbagai literatur, salah satunya yang dibuat oleh Turban dkk (2004) adalah pengetahuan merupakan sekumpulan informasi yang telah dianalisis dan diorganisir sehingga dapat dimengerti dan digunakan untuk memecahkan masalah serta mengambil keputusan.  Dari definisi ini (juga definisi dari literatur lainnya) terlihat bahwa komponen utama pengetahuan adalah informasi (information).  Lalu, apa bedanya dengan data  dan keahlian (skill)?  Pertanyaan ini dapat dijawab dengan melihat hirarki pengetahuan (knowledge hierarchy) yang dibuat oleh Liebowitz dan Beckman (1998), seperti terlihat pada gambar berikut. 

 Dalam hirarki tersebut, tingkat paling rendah adalah simbol (symbol) dan yang paling tinggi adalah kapabilitas organisasi (organization capability), semakin keatas pengertiannya semakin mendalam (terjadi proses pengayaan/enrichment).

Simbol hanya berupa kode-kode, seperti 9 , 5 , 0 , 0.

Simbol ini, apabila diberi sintaks akan menjadi Data,  misalnya Rp 9500 yang berarti nilai uang dari negara Indonesia, Rupiah.

Bila Data dikategorisasi atau diberi konteks, maka ia akan menjadi Informasi (Information), misalnya nilai tukar Rupiah terhadap US$ adalah Rp. 9500.

Selanjutnya, apabila serangkaian Informasi saling dikaitkan dan distrukturkan hingga terlihat hubungan sebab akibat atau konsekuensi-konsekuensinya, maka akan diperoleh Pengetahuan (Knowledge),  misalnya: jika nilai tukar Rupiah terhadap US$ mengalami kenaikan, maka akan terjadi kenaikan harga berbagai komoditi/produk terutama produk yang dalam proses produksinya langsung atau tidak langsung memerlukan barang/jasa import. Selanjutnya kenaikan harga produk akan menurunkan daya beli masyarakat.

Diatas Pengetahuan adalah Keahlian (Skill)  yang didefinisikan sebagai penggunaan pengetahuan secara pantas dan tepat untuk memecahkan masalah, meningkatkan kinerja dan mencapai hasil yang luar biasa.  Misalnya: dengan pengetahuan tentang pengaruh nilai tukar Rupiah terhadap daya beli masyarakat yang dimilikinya, seorang manajer bisa membuat keputusan strategik hingga omset penjualan produk perusahaannya tidak menurun walaupun nilai tukar Rupiah terhadap US$ mengalami kenaikan.

Bila keahlian-keahlian dalam organisasi dikombinasikan, maka ia akan menjadi Kemampuan Organisasi (Organization Capabilities). Misalnya : untuk mendukung perencanaan strategik yang sudah dibuat oleh manajemen dalam mengatasi dampak penurunan daya beli masyarakat (sebagai akibat naiknya nilai tukar Rupiah) terhadap US$) terhadap perusahaan, maka fungsi produksi akan mengerahkan keahliannya untuk meningkatkan efisiensi produksi sehingga harga jual produk bisa ditekan, fungsi marketing dengan keahlian yang dimilikinya akan melakukan inovasi-inovasi promosi/penjualan untuk menarik konsumen baru. Kesemuannya ini menunjukan kemampuan perusahaan tersebut untuk meningkatkan (atau paling tidak mempertahankan) keuntungan dalam kondisi daya beli masyarakat yang menurun sebagai akibat kenaikan nilai tukar Ruapiah terhahap US$.

Dari hirarki pengetahuan diatas, juga dapat dilihat bahwa kemampuan suatu organisasi sangat ditentukan oleh pengetahuan anggotanya, mulai dari anggota biasa sampai dengan pimpinannya. Begitu pentingnya pengetahuan dalam organisasi maka ia harus dikelola secara benar. Sistem pengelolaan pengetahuan dalam organisasi ini sering dikenal dengan sebutan Knowledge Management System (KMS).  Sebelum membahas lebih jauh tentang  KMS ini, terlebih dahulu akan diuraikan beberapa hal yang berhubungan dengan pengetahuan, seperti komponennya, jenis-jenisnya, tingkatannya dan  proses konversinya.

Komponen Pengetahuan.  Pengetahuan memiliki beberapa komponen pembentuknya, yaitu: 1) Pengalaman (experience), yang merujuk pada apa yang pernah dilakukan dan/atau dialami dimasa lalu.  2) Kebenaran mendasar  (ground truth), yang merujuk pada apa yang benar-benar terjadi dan apa yang tidak terjadi, jadi bukan berdasarkan pada teori.  3) Penalaran (judgment), seperti dijelaskan diatas, untuk merubah informasi menjadi pengetahuan perlu adanya penalaran untuk mengetahui hubungan sebab akibat atau konsekuensi suatu informasi dengan informasi lainnya. 4) Petunjuk praktis (rule of thumb), adalah panduan tindakan manusia yang terbentuk dari pengalaman coba-coba yang berulang dalam waktu panjang. Petunjuk praktis merupakan solusi jalan pintas untuk masalah-masalah yang mirip dengan masalah terdahulu yang pernah dipecahkan dengan petunjuk praktis ini. 5) Intuisi (intuition), merupakan keahlian yang telah dipadatkan/terpadatkan karena sering dilakukan (jam terbang yang tinggi).  6) Nilai dan Keyakinan (values & beliefs), misalnya nilai dan keyakinan yang menganggungkan keunggulan, kualitas, kejujuran, ketahanan dan lainnya.

 Jenis Pengetahuan.   Ada 2 jenis pengetahuan, yaitu: Pengetahuan Eksplisit (explicit knowledge), yaitu pengetahuan yang dapat ditulis (diekspresikan dengan kata-kata dan angka), dalam bentuk formula ilmiah, spesifikasi, standard-prosedur, bagan, manual dsbnya).  2) Pengetahuan Terbatinkan (tacit knowledge), yaitu pengetahuan yang ada dalam benak manusia, bersifat personal, kontekstual dan sulit dirumuskan.  Dari contoh pelaksanaan commissioning APC diatas, walaupun kedua engineer mungkin sudah memiliki pengetahuan eksplisit yang sama (karena berdasarkan pada sumber yang sama, yaitu buku manual dan teori process control), akan tetapi mengapa engineer senior lebih cepat menyelesaikan tugasnya dari engineer muda? Jawabannya adalah terletak pada pengetahuan terbatinkan, dimana engineer senior memiliki pengetahuan terbatinkan lebih banyak (yang diperoleh dari pengalaman bertahun-tahun) dibandingkan dengan engineer muda.  Karena pengetahuan terbatinkan lebih bersifat personal dan sulit untuk dirumuskan/ditulis, maka juga sulit untuk ditransfer dari suatu individu ke individu lainnya.  Proses transfer pengetahuan terbatinkan yang paling efektif adalah melalui magang kerja atau pendampingan.  Misalnya dalam contoh diatas, jika dalam melakukan commissioning engineer muda tersebut didampingi oleh engineer senior sebagai supervisor-nya, maka penyelesaian pekerjaan menjadi lebih cepat dan proyek berikutnya, mungkin si engineer muda tersebut sudah bisa mandiri.

Tingkat Pengetahuan.   Pengetahuan yang dimiliki oleh suatu organisasi/perusahaan dibagi menjadi 3 tingkat, yaitu:  1) Pengetahuan Inti (core knowledge), merupakan tingkat pengetahuan yang dibutuhkan hanya sekedar agar organisasi/perusahaan tersebut dapat beroperasi dan tidak menjamin organisasi tersebut dapat bersaing.  2) Pengetahuan Lanjut (advanced knowledge), merupakan tingkat pengetahuan spesifik yang dimiliki organisasi/perusahaan sehingga dapat menjadi pemain yang tangguh dalam bidangnya. Dengan pengetahuan yang spesifik tersebut organisasi/perusahaan bisa melakukan diferensiasi.  3) Pengetahuan Inovatif (inovative knowledge), merupakan pengetahuan yang menjadikan organisasi/perusahaan sebagai pemimpin dalam persaingan.  Yang perlu diketahui adalah pengetahuan tidak statis, apa yang menjadi pengetahuan lanjut hari ini, bisa berubah menjadi pengetahuan inti dihari mendatang. Oleh karena itu, suatu organisasi/perusahaan harus selalu belajar dan menciptakan pengetahuan-pengetahuan baru.

Selain pembagian tingkat pengetahuan seperti diatas,  pengetahuan juga dapat dibagi menjadi 5 tingkat, yaitu:  1) Know That, berhubungan dengan pengetahuan proposisi, misalnya kebenaran, kita percaya bahwa sesuatu itu adalah demikian, bukan yang lainnya.  2) Know What, merupakan definisi yang lebih luas dan mengandung banyak know-that.  Jika kita belajar tentang sesuatu maka yang kita pelajari adalah know that atau know what.  3) Know How, merupakan jenis pengetahuan yang paling banyak dimiliki oleh organisasi/perusahaan karena berhubungan dengan kemampuan melakukan sesuatu kegiatan.  Jika kita belajar untuk melakukan sesuatu, maka yang kita pelajari adalah know how.  4) Know Why, merupakan level pengetahuan yang dapat membuat organisasi/perusahaan memanfaatkan pengetahuan di tingkat know what dan know how untuk menghasilkan penyempurnaan dan inovasi.  5) Care Why, merupakan budaya organisasi/perusahaan yang terdiri dari nilai dan keyakinan yang membuat orang bersemangat, fokus dan kreatif.

Konversi Pengetahuan.   Seperti sudah dijelaskan diatas, bahwa terdapat dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan eksplisit dan pengetahuan terbatinkan. Dalam diri setiap individu, kedua jenis pengetahuan ini saling melengkapi.  Selain itu, kedua jenis pengetahuan ini juga bisa dikonversi dari satu jenis ke jenis lainnya. Konversi pengetahuan ini sangat penting dalam proses kreasi dan akusisi pengetahuan dari satu individu ke individu lainnya atau dari satu organisasi/perusahaan ke organisasi/perusahaan lainnya.  Terdapat 4 cara konversi pengetahuan, yaitu: 1) Sosialisasi; 2) Eksternalisasi; 3) Kombinasi; dan 4) Internalisasi.  Ke-4 konversi pengetahuan ini dikenal juga dengan spiral SECI (Socialization – Externalization – Combination – Internalization).

Sosialisasi, merupakan konversi pengetahuan terbatinkan ke pengetahuan terbatinkan. Karena pengetahuan terbatinkan itu seifatnya sangat kontekstual dan melekat pada diri seseorang serta sulit diformalkan, maka konversi dari satu individu ke individu lainnya hanya bisa dilakukan melalui pengelaman dalam kegiatan bersama misalnya melalui kerja magang, pendampingan, on-the-job-training atau kegiatan sejenis lainnya.

Eksternalisasi, merupakan konversi pengetahuan terbatinkan ke pengetahuan eksplisit. Dalam proses eksternalisasi, pengetahuan terbatinkan diekspresikan dan diterjemahkan menjadi metafora, konsep, hipotesis, diagram, model atau prototipe sehingga dapat dimengerti oleh pihak lain. Sebagai contoh menyiapkan bahan presentasi dalam bentuk slide power point. Akan tetapi, karena pengetahuan terbatinkan bersifat kontekstual, maka proses konversinya tidak akan lengkap/sempurna.

Kombinasi, merupakan konversi pengetahuan eksplisit ke pengetahuan eksplisit. Dengan cara ini, pengetahuan dipertukarkan melalui media-media, misalnya melalui majalah, buku, media internet, dsbnya.

Internalisasi, merupakan konversi pengetahuan eksplisit ke pengetahuan terbatinkan.  Salah satu caranya adalah dengan belajar sambil melakukan (learning by doing). Melalui belajar sambil melakukan, pengetahuan eksplisit akan terinternalisasi menjadi pengetahuan terbatinkan.

Proses Pengelolaan Pengetahuan (KMS Process).    Setelah mengetahui apa itu pengetahuan, jenis-jenisnya, tingkatannya serta proses konversinya, maka selanjutnya akan dibahas mengenai proses pengelolaan pengetahuan (Knowledge Management System Process). Pengelolaan pengetahuan dalam organisasi terdiri dari 7 proses, yaitu: 1) Penetapan Sasaran Pengetahuan; 2) Evaluasi Pengetahuan; 3) Akusisi Pengetahuan; 4) Pengembangan Pengetahuan; 5) Distribusi Pengetahuan; 6) Pemanfaatan Pengetahuan; dan 7) Pemeliharaan Pengetahuan.

Penetapan Sasaran Pengetahuan.    Tujuan proses ini adalah menentukan jenis dan tingkat pengetahuan yang diperlukan oleh suatu organisasi. Jenis dan tingkat pengetahuan yang diperlukan tersebut dapat diketahui dengan melihat: 1) Sasaran dan strategi organisasi; 2) Kelemahan organisasi; 3) Key sucess factor organisasi; 4) Value chain organisasi. Penjelasannya adalah sbb: Pada dasarnya setiap organisasi (baik itu berupa perusahaan, unit kerja dalam perusahaan maupun organisasi sosial) memiliki sasaran yang hendak dicapai. Untuk mencapai sasaran tersebut, organisasi menyusun suatu strategi. Agar strategi bisa berjalan, organisasi membutuhkan berbagai sumber daya termasuk sumber daya pengetahuan.  Jadi, pengetahuan yang dibutuhkan oleh suatu organisasi dapat diperoleh dengan melihat sasaran dan strategi organisasi tersebut. Selain itu, pengetahuan yang diperlukan oleh organisasi juga dapat diketahui dengan melihat apa yang menjadi kelemahan organisasi tersebut dibandingkan dengan pesaingnya, hal ini disebabkan pengetahuan yang seharusnya diperlukan tetapi tidak dimiliki organisasi akan menjadi kelemahan organisasi tersebut. Selain itu, identifikasi pengetahuan yang diperlukan oleh organisasi dapat juga dilakukan dengan melihat faktor kunci sukses (key success factor – KSF) dari organisasi tersebut. KSF merupakan faktor-faktor yang harus dimiliki suatu organisasi agar bisa menjadi pemain yang diperhitungkan. Jadi dengan  mengetahui KSF, dapat diidentifikasi ragam pengetahuan yang diperlukan. Pendekatan lainnya untuk mengetahui pengetahuan yang diperlukan organisasi adalah dengan memanfaatkan diagram rantai nilai (value chain) yang dikembangkan oleh Michael Porter. Dalam rantai nilai, terdapat 5 kegiatan utama (primary activities) dan 4 kegiatan pendukung (support activities). Masing-masing kegiatan memiliki indikator kinerja. Kinerja tersebut bisa dicapai jika organisasi tersebut memiliki pengetahuan yang yang diperlukan, sebaliknya jika kinerja tidak tercapai, maka kemungkinan organisasi belum memiliki pengetahuan yang diperlukan.

Evaluasi Pengetahuan.   Proses ini bertujuan mengidentifikasi dan mengevaluasi pengetahuan yang sudah dimiliki organisasi dan sekaligus mengukur tingkat pengetahuan yang dimiliki tersebut.  Hasil evaluasi pengetahuan kemudian dibandingkan dengan pengetahuan yang seharusnya dimiliki organisasi yang diperoleh dari proses sebelumnya (penetapan sasaran pengetahuan), sehingga dapat diketahui apakah organisasi tersebut sudah memiliki pengetahuan yang memadai atau tidak.  Evaluasi pengetahuan yang dimiliki organisasi dapat dilakukan dengan melihat:  1) Kekuatan dan kelemahan organisasi; dan 2) Value chain organisasi.  Kekuatan organisasi menunjukan bahwa ragam pengetahuan yang dimiliki lebih baik dibandingkan dengan pesaingnya, sebaliknya kelemahan akan menunjukan bahwa pengetahuannya masih dibawah pesaingnya. Pada diagram rantai nilai (value chain), setiap kegiatan (baik kegiatan primer maupun kegiatan pendukung) memiliki indikator yang merupakan ukuran keberhasilan yang ditetapkan. Jika kinerja tercapai berarti pengetahuan yang dimiliki organisasi sudah memadai, sebaliknya jika tidak tercapai, maka berarti pengetahuan organisasi masih belum memadai dibandingkan dengan yang dibutuhkan.

Akusisi Pengetahuan.   Melalui penetapan sasaran pengetahuan dan evaluasi pengetahuan, dapat diketahui jenis dan tingkat pengetahuan yang sudah dimiliki organisasi dan pengetahuan yang belum dimiliki namun sangat diperlukan untuk mencapai sasaran organisasi (kesenjangan pengetahuan).  Akusisi pengetahuan merupakan kegiatan untuk memperkecil/menghilangkan kesenjangan ini.  Proses akusisi pengetahuan dapat  dilakukan melalui berbagai cara, antara lain pelatihan, riset, kerja sama dengan organisasi lain, perekrutan tenaga profesional, konsultasi, seminar/workshop, dsbnya.

Pengembangan Pengetahuan.    Perlu diketahui, bahwa tidak semua pengetahuan yang diperlukan organisasi tersedia di lingkungan eksternal. Hal ini umumnya terjadi pada perusahaan yang menjadi pemimpin pasar, atau pada perusahaan yang beroperasi pada lingkungan yang sangat turbulen.  Jika hal ini terjadi, maka organisasi harus mengembangkan sendiri pengetahuan yang diperlukannya tersebut.

Distribusi Pengetahuan.  Seorang karyawan yang baru pulang dari mengikuti pelatihan atau workshop misalnya, seringkali hanya menyimpan saja pengetahuan yang baru dimilikinya tersebut untuk dirinya sendiri dan tidak membaginya dengan karyawan lainnya, sehingga di organisasi tersebut hanya dia sendiri yang mngetahui pengetahuan baru tersebut.  Dibanyak organisasi, kejadian ini sering kali ditemukan, jadi tidak heran jika banyak organisasi yang memiliki anggaran pelatihan yang besar tetapi tidak mampu menunjukan kinerja yang baik.  Dalam proses distribusi pengetahuan, diharapkan setiap karyawan dapat berbagi pengetahuan baru yang dimilikinya.  Dengan distribusi pengetahuan diharapkan agar pengetahuan yang dimiliki oleh seorang karyawan dapat disebarkan ke sebanyak mungkin karyawan lainnya di organisasi.  Distribusi pengetahuan tidak hanya terjadi antara individu karyawan, tetapi bisa juga antara unit kerja.  Banyak organisasi yang memiliki keunggulan pada salah satu unit kerjanya.  Unit kerja yang unggul tersebut dapat menularkan keunggulannya melalui penyebaran pengetahuan dan pengalamannya ke unit kerja lainnya.

Pemanfaatan Pengetahuan.    Pengetahuan yang baru diperoleh baik melalui proses akusisi (eksternal) maupun melalui proses pengembangan dan distribusi (internal) baru akan bermakna jika pengetahuan baru tersebut dimanfaatkan atau diaktualisasikan dalam kegiatan sehari-hari di organisasi.  Proses pemanfaatan pengetahuan ini dilakukan melalui asimilasi/kombinasi pengetahuan baru dengan  pengetahuan/pengalaman yang sudah dimiliki sebelumnya dalam bentuk cara pandang baru, cara kerja baru atau kebijakan baru.

Pemeliharaan Pengetahuan.    Pengetahuan yang sudah dimiliki organisasi baik melalui akusisi maupun pengembangan harus dipelihara sehingga tidak hilang dan terlupakan.  Pengetahuan bisa hilang karena adanya perubahan personil yang memiliki pengetahuan, misalnya karena promosi, mutasi, pensiun, mengundurkan diri atau karena meninggal dunia.  Pengetahuan yang ada juga bisa terlupakan jika tidak ada lagi kegiatan organisasi yang membutuhkan pengetahuan tersebut.  Proses penyimpanan pengetahuan merupakan  kegiatan yang ditujukan untuk memastikan bahwa pengetahuan organisasi selalu terpelihara dan tersimpan dalam bentuk yang mudah diakses, misalnya dalam bentuk electronic file, tata kerja, working file, dsbnya.

KMS dan Teknologi Informasi.     Banyak orang menganggap Pengelolaan Pengetahuan (KMS) identik dengan Teknologi Informasi.  Anggapan ini merupakan kesalahan besar.  Memang benar teknologi informasi dapat sangat mendukung KMS,  akan tetapi tanpa teknologi informasipun proses KMS bisa dijalankan di organisasi.  Begitu pula sebaliknya, adanya teknologi informasi dalam suatu organisasi belum tentu proses KMS sudah dijalankan di organisasi tersebut.  Sehubungan dengan hal ini, kehadiran software aplikasi KMS yang ada seperti Open Source CMS atau Microsoft Sharepoint Portal menurut pendapat saya hanya mendukung sebagian proses KMS yakni proses Distribusi Pengetahuan (Proses No 5) dan Pemeliharaan Pengetahuan (Proses No 7).

Ditulis dalam Umum | 1 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.