Asro Pun’ Blog

Arsip untuk ‘Si Kuncup’ Kategori

Si Kuncup : (12) Selamat Tinggal

Posted by asro pada 9 Juni 2009

Mami tersayang,

Surat saya yang terakhir ini hanya buat Mami. Surat ini bukan untuk menghukum Mami melainkan memberi ampun. Memang sangat menyedihkan harus memberi ampun kepada ibu sendiri! Mungkin karena itulah maka Yesus yang Mahakuasa menginginkan seorang ibu yang tak tercela, yang tidak memerlukan pengampunan.

Saya menulis kepada Mami untuk mengucap Selamat Tinggal!

Semoga Mami dapat hidup bahagia banyak tahun lagi meskipun saya sangsikan apakah mungkin. Semoga Mami dapat melupakan peristiwa sedih ini dalam hidup Mami selanjutnya.  Kini datang saat-saat kegelisahan bagi Mami. Saya dapat mendengar isak tangis Mami. Saya dapat merasakan gejolak hati Mami.

Tetapi itu semua baru titik awal dari sekian banyak air mata yang akan Mami curahkan secara diam-diam, tanpa diketahui oleh orang lain. Air mata itu merupakan  air mata penyesalan, air mata tobat dan kesedihan. Seorang ibu tak dapat melupakan buah kandungannya sendiri. Mami tak akan sanggup melupakan Si Kuncupnya Mami. Mustahil; itu melawan kondrat. Jika Mami mempunyai anak-anak yang lain, setiap kali Mami memandang mereka, Mami akan memandang wajahku, wajah yang tak pernah Mami lihat. Setiap kali Mami mencium mereka, akan terlintas dalam pikiran Mami tentang mencium saya, seorang anak yang keburu dimatikan.

Mami, saya ampuni Mami; saya doakan Mami; saya masih cinta akan Mami. Selamat Tinggal!

SI KUNCUP

Ditulis dalam Si Kuncup | Tinggalkan sebuah Komentar »

Si Kuncup : (11) Yesus Tercinta

Posted by asro pada 24 April 2009

Saya telah menulis surat kepada beberapa orang. Sekarang saya menulis juga kepadaMu. Engkau tahu, besok saya harus mati dan akan bergegas ke hadapanMu. Usiaku baru dua bulan. Saya belum terlalu banyak tahu tentang Engkau.

Saya telah menulis kepada beberapa orang untuk menuntut hakku, memprotes ketidakadilan yang besar ini. Tetapi sia-sia. Suaraku terlalu lemah. Saya tidak dapat berteriak di jalan-jalan; saya tidak dapat memimpin demonstrasi protes; saya tak dapat menggunakan kekerasan; saya tak dapat pergi ke pengadilan.

Tak ada harapan. Saya harus mati, jadi korban pendewaan diri dan kemunafikan keluargaku, keserakahan dokter, dan kekejaman masyarakat yang tak berperikemanusiaan.

Maka kini, saya naik banding. Saya ajukan perkaraku ke hadapanMu. Saya tahu bahwa semuanya harus tampil ke hadapanMu. Engkau akan menunjukkan keadilan dan membasmi setiap ketakadilan. Orang kaya tak dapat menyuap dan menakut-nakuti Engkau; orang cerdik pandai tak dapat lolos dari padaMu; dan kaum munafik tidak dapat bersembunyi dari hadapanMu.

Dalam beberapa hari ini saya telah mengeluh tentang nasibku, tentang ketakadilan besar terhadapku dan tentang akan lenyapnya hidupku. Tetapi sakarang terangMu mulai menyinari aku. Saya mengerti bahwa Engkau memiliki keadilan yang tak ada akhirnya untuk menampakkan kebenaran. Itu sebabnya Engkau begitu tenang dan kadang-kadang kelihatan seperti tidak mau peduli! Engkau dapat menggantikan ketakadilan terhadapku dengan hidup yang tak kenal akhir bersamaMu, suatu hidup yang penuh gembira, tidak dijamah oleh kecemasan dan kepahitan. Saya masih kecil tetapi Engkau bersabda: “Biarkanlah anak-anak datang kepadaKu”. Kita akan bermain bersama-sama dalam rumahMu yang indah, dalam taman-tamanMu yang besar.  Jutaan anak kecil seperti saya telah berada di sana. Mereka menantikan kedatangan saya.  Maka saya bahagia dapat datang kepadaMu dan tinggal denganMu selama-lamanya.  Orang ceritakan bahwa Engkau sangat baik terhadap anak-anak kecil, bahwa Engkau mencintai mereka lebih dari semua orang lain!

Batapa bahagianya bila besok siang saya berlari menemuiMu. Penuh Cinta Engkau akan memeluk aku dan menggendong aku agar dapat memberikan ciuman pertemuan bersamaMu. Kita akan bermain-main selama-lamanya. Saya tahu Engkau punya banyak kerja tetapi Engkau mencintai anak-anak kecil dan meluangkan waktu untuk mereka.

Satu hal lagi yang mau saya katakan kepadaMu, Yesus tercinta. Janganlah terlampau keras menghukum semua mereka yang terlibat dalam kematianku. Mereka buta dan tidak tahu akan apa yang mereka perbuat. Mereka sangka, mereka akan dapat meluputkan diri dari keadilanMu, pada hal tidak mungkin. Betapa mereka akan merasa sedih karena jatuh ke dalam tanganMu, Engkau pembela kaum tak terbela, Engkau Bapa para yatim piatu! Betapa ngerinya neraka! Meskipun mereka melakukan banyak kejahatan terhadapku, semoga Engkau mengampuni mereka, seperti Engkau telah mengampuni algojo-algojoMu dari atas kayu salib.

Yesus tercinta, saya cinta akan Dikau; saya rindu melihat terang wajahMu, melihat senyumMu. Terlalu gelap di sini! Saya tak pernah melihat wajah seorangpun!

SI KUNCUP

Ditulis dalam Si Kuncup | Tinggalkan sebuah Komentar »

Si Kuncup : (10) Jadilah Suara Bagi Yang Tak Bersuara

Posted by asro pada 3 April 2009

Pater yang terhormat,

Pater adalah pastor paroki saya meski pun Pater belum mengenal saya dan rupanya tidak akan mengenal saya.  Mungkin sekali Pater akan mendengar perihal saya secara rahasia sewaktu ibuku membuat pengakuan.  Ia akan melukiskan malapetaka besar yang telah dihadapinya dan mohon pengampunan, ketenteraman dan kedamaian hati melalui Pater.  Kesalahannya telah terbayar mahal.  Saya harap Pater tidak terlalu keras terhadapnya.  Ia lebih sabagai korban dari pada sebagai penjahat.  Tak seorang pun rela menunjukkan pengertian, simpati, bantuan dan cinta kepadanya.

Begitu banyak orang menekan beliau, padahal ia masih begitu  muda dan goyah!

Hanya engkau Pater, yang mempunyai kuasa ilahi dalam tanganmu.  Pater adalah Yesus yang kelihatan di antara kami.  Pater mewakili dan melayani kebaikan, belas kasih dan pengampunanNya.  Pater, bapa yang lebih dari setiap bapa di bumi;  Pater pelayan Allah yang mahakuasa.

Kiranya Pater tidak terlalu keras terhadapnya!  Mungkin Pater juga tidak sampai mengerti benar keadaannya.  Bila Pater sampai berbalik dari padanya ia dapat tenggelam dalam putus asa dan hancur berantakan.

Tetapi Pater, saya masih punya permintaan yang lain.  Kami tidak punya suara, tetapi suaramu berwibawa, suaramu dapat bergema sebagai suara Allah di dunia.

Pater, jadilah suara kami, suara orang yang tak bersuara, pembela terhadap mereka yang paling tak terbela, PARA BAYI YANG DIGUGURKAN.  Teriakkan kepada setiap orang bahwa membasmi kami adalah pembunuhan, bahwa pengguguran adalah pembunuhan yang keji.  Lebih dari semua orang lain Pater adalah penegak hukum ilahi!  Jangan takut dan putus asa bila ada yang tidak mau mengerti, menentang dan menertawakan Pater.  Mereka tiran-tiran yang menuntut bagi dirinya hak membunuh kami yang tidak bersalah sedikitpun.  Mereka akan menertawakan Pater yang dianggapnya tidak mengerti tuntutan zaman, kolot; mereka akan mengatakan kepada Pater bahwa Pater tidak berhak menyampaikan pandangan dan pendapat agama dan keyakinan Pater kepada mereka.  Jangan terpengaruh oleh mereka.  Ini bukan melulu suatu perkara agama, melainkan suatu problem manusia.  Hak hidup adalah hak semua manusia, apa pun agama dan kepercayaannya.  Jika mereka menolak hak ini bagi kami, bukan saja mereka tidak  memiliki hak untuk didengarkan, tetapi juga mereka sendiri pun tidak punya hak untuk hidup.

Mengapa hidup mereka dianggap lebih baik daripada hidup kami?

Kehidupan tetap kehidupan! Jika kami tidak punya hak untuk hidup, mereka dan setiap orang lain pun tidak.  Kita kembali kepada hukum rimba, dimana yang memiliki hak hanyalah yang berkuasa dan agar supaya dapat hidup, kalian harus membenci, membunuh dan mengkhianati.  Dalam hukum rimba, yang lemah harus binasa.  Kami para YANG DIGUGURKAN, merupakan barisan pertama yang akan membuka pawai kematian.  Lalu menyusul orang-orang yang selalu sakit-sakitan, tidak mampu, gangguan mental, orang-orang tua dan semua yang dapat dianggap sebagai beban bagi keluarga dan masyarakatnya.

Pater terhormat, Pater imam Allah, pelayan gereja, pembela kaum lemah, suara mereka yang tak bersuara, penegak hukum ilahi dan karenanya juga pelindung peradaban yang benar.  Angkatlah suaramu pada waktu yang tampan atau tidak tampan untuk membela kehidupan, untuk membela anak-anak yang paling kecil, kami YANG DIGUGURKAN.

SI KUNCUP.

Ditulis dalam Si Kuncup | Tinggalkan sebuah Komentar »

Si Kuncup : (9) Dokter Yang Terhormat

Posted by asro pada 20 Maret 2009

Dok, hari ini saya menulis kepadamu.

Dok tahu, hidupku hanya tinggal beberapa hari lagi. Hidupku ada dalam tanganmu. Dok punya kemampuan untuk membunuh atau menyelamatkan saya. Dok seperti Allah, berurusan dengan hidup manusia. Betapa agung profesimu!

Pendahulu-pendahulumu dari zaman baheula telah memberikan suatu garisan tentang tugasmu yang agung itu. Mereka katakan: “Yang paling utama bagimu ialah jangan merusak”. Saya sangka setiap kali tanganmu beraksi, Dok gemetar karena suatu kehidupan sedang dipertaruhkan dalamnya. Demikian pun setiap kali bila Dok telah berhasil menyelamatkan suatu kehidupan, Dok pasti diliputi suatu kegembiraan yang istimewa. Dari segi ini memang sangat patut dimengerti mengapa Dok harus belajar dan berkurban begitu banyak biar pun Dok hanya harus menyelamatkan satu hidup saja. Dok engkau “ilahi”!

Dok, hari ini saya datang kepadamu dengan satu pertanyaan. Dok, katakan kepadaku hanya satu hal ini saja: “Mengapa sekarang Dok tega mau membunuh saya?”

UANG!?

Uang dianggap sangat penting dan telah menelan begitu banyak hidup manusia sebagai korbannya. Uang mengubah figur anda dari seorang yang berjasa untuk kemanusiaan menjadi seorang prajurit sewaan untuk membunuh; anda beralih menjadi pribadi murahan yang tidak berperikemanuasiaan.

Ingat, itu uang darah!

Dengan uang yang berlimpah-limpah anda dapat membeli semua hiburan dan kelezatan hidup tetapi anda tidak dapat membeli kebahagiaan.

Oh yaaaaa, anda akan mendermakan sebagian uang kepada gereja dan tempat-tempat ibadah. Anda akan membantu panti-panti asuhan. Bahkan anda akan turut serta membangun organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan kemanusiaan, anda dianggap sebagai promotor dan pahlawan. Setiap orang akan tunduk kepadamu karena anda berduit.

Namun apakah andah mengira anda dapat menipu Allah sebagaimana anda menipu manusia? Hidup manusia milik Allah: Allah memberi, Allah akan mengampilnya kembali.

Pada hal anda menjadikan diri sebagai Allah, anda merebut hak-hak ilahi bagi dirimu, di atas satu dasar saja: UANG.

Uang adalah dewa yang paling berkuasa bagi mereka yang tidak berTuhan.

Tangisan-tangisan yang membisu dari sekian banyak bayi yang digugurkan olehmu tidak menyentuh bathinmu. Anda pun tahu bagaimana mengelakkan hukum dan merahasiakannya. Apa yang harus saya katakan kepadamu? Tunggu saja! Akan datang juga akhir bagimu, hari perhitungan itu!

Kita akan mengadakan perhitungan di tempat di mana suaramu akan tak didengarkan, dimana uangmu tidak bernilai lagi.

SI KUNCUP

Ditulis dalam Si Kuncup | Tinggalkan sebuah Komentar »

Si Kuncup : (8) Melalui Jalan Mana Si Kuncup Harus Pergi?

Posted by asro pada 24 Februari 2009

Mami tersayang,

Hari ini Mami kembali ke dokter. Dokter menggambarkan kepada Mami bermacam-macam cara yang dapat ditempuh untuk membunuh saya. Melalui jalan mana si Kuncup harus pergi? Saya pasti menderita, melalui cara apapun. Kini pilihan tergantung pada Mami.

Cara pertama ialah “Metode Vacuum Suction- penyedotan kandungan”. Dokter akan memasukkan suatu alat seperti pengisap debu untuk menghilangkan kotoran ke dalam rahim Mami. Alat itu akan menyedot saya . Saya akan keluar berkeping-keping dan dibuang ke dalam panci. Itulah akhir yang tak patut dibanggakan dari si Kuncupmu. Atau dokter dapat mengiris saya di sini dalam kandungan Mami dengan gunting dan menarik saya  keluar sepotong demi sepotong. Betapa saya diperlakukan jauh lebih kejam dari penjahat-penjahat yang paling jahat. Mereka dibunuh atas cara yang sekurang mungkin menimbulkan rasa sakit. Hanya pemakan-pemakan manusia yang paling biadablah yang mengerat-ngerat daging musuh mereka.

Juga dokter dapat membuka perut Mami melalui operasi dan menarik saya keluar hidup-hidup. Ia akan menenggelamkan atau mencekik saya atau membiarkan saya mati karena tak diberi  perlindungan. Sesudahnya kerap kali kami digunakan untuk percobaan ilmiah.

Cara keempat ialah menyemprotkan  larutan garam ke dalam cairan tempat saya berenang. Saya diracuni dengan larutan garam, membengkak lalu mati. Kulitku terbakar karena garam. Setelah itu Mami setiap saat dapat mengeluarkan saya dari kandungan Mami dalam keadaan mati lebam.

Akibat yang sama diperoleh dengan penyuntikan prostaglandin atau dengan memotong tali pusat saya dan membiarkan saya mati karena perdarahan.

Bagi si Kuncupnya Mami, semua cara itu sangat kejam. Tubuhku yang mungil akan dibuang sebagai sampah lalu dibakar. Saya tidak boleh meninggalkan jejak. Tak seorang pun boleh tahu tentang saya. Tak seorang manusia pun akan ingat dan mendoakan saya. Saya dianggap memalukan sehingga harus segera dibasmi dan dilupakan.

Namun, apa dosaku? Siapa-siapa yang telah saya sakiti? Yang dianggap sebagai kesalahan saya satu-satunya hanyalah karena saya ada, karena saya tercipta akibat dosa orang lain, karena kehadiranku diangggap tidak menyenangkan beberapa orang.

Tetapi saya ada dan akan tetap ada. Tak seorangpun dapat melenyapkan saya. Akan tiba saatnya, kita berjumpa lagi: saya, Mami, pembantu-pembantu Mami, orang tua Mami, dokter, dan seluruh masyarakat yang munafik ini. Kita akan bertemu di depan Allah dan segala sesuatu akan dibeberkan. Setiap orang akan mendapat haknya, setiap kemunafikan akan ditindak.

Saya menantikan hari itu.

Ditulis dalam Si Kuncup | Tinggalkan sebuah Komentar »

Si Kuncup : (7) Saya Akan Menjadi Suara Bathinmu!

Posted by asro pada 6 Februari 2009

Mami tersayang.

Mami agaknya masih sangat bingung. Juga saya. Orang tua Mami baru saja menghantar Mami kembali dari dokter. Bersama-sama, kalian telah menjatuhkan putusan tentang diri saya. Minggu ini saya harus pergi. Memang, Mami tidak bicara sepatah kata pun. Dengan wajah pucat karena malu, Mami menatap lantai. Mereka berdiskusi dan mengambil keputusan seolah-olah pendapat Mami tidak perlu didengarkan. Mami tidak berani membuka mulut untuk membela hak saya.

Tinggal beberapa hari lagi saya akan dihukum mati. Saya hanya akan menulis beberapa surat lagi, lalu suaraku akan membungkem selama-lamanya. Hanya Mami dan beberapa kawan dekat Mami yang akan tahu bahwa saya pernah ada. Saya tidak meratapi nasibku; saya meratapi nasib Mami. Mami, dengarkan baik-baik apa yang kini mau saya sampaikan. Meskipun saya tidak akan menulis surat-surat lagi, suaraku tidak akan lenyap. Suaraku akan terus bergema dalam diri Mami, suaraku akan menjadi suara bathin Mami. Saya tahu siapa-siapa yang akan membunuh si Kuncup; saya tidak pernah akan melihat senyuman mereka lagi. Oh, mereka akan menyesal; penyesalannya akan sangat dalam! Mereka akan pergi ke tempat pengakuan; mereka akan menggunakan waktu berjam-jam berlutut di dalam gereja dan tempat-tempat ibadah, tetapi tidak pernah akan terkikis dari ingatan mereka, fakta bahwa mereka telah membunuh buah kandungan mereka, bahwa mereka adalah pembunuh anak sendiri. Mereka harus mengalaminya. Kain membunuh saudaranya. Sesudah itu tidak ada ketenangan dan damai dalam dirinya. Untuk selama-lamanya ia lari dari Allah sebagai buronan. Tetapi ia tidak dapat melarikan diri dari dirinya sendiri. Karena itu dapatkah seorang ibu yang membunuh anaknya memiliki ketentraman dan damai?

Mendapat gelar “Mami” indah dan sedap. Tetapi setiap kali mendengar panggilan itu hati Mami akan terluka. Mami akan merasa diri bukan sebagai seorang Mami sesungguhnya, melainkan sebagai seekor binatang buas, binatang aneh dari hutan yang kerjanya hanya merusak dan membinasakan.

Sedih dan kesal akan menyayat hati Mami. Mami tidak mampu melupakannya. Hidup Mami akan jadi sebagai neraka. Bukankah hidup tanpa ketentraman bathin adalah neraka?

Coba bayangkan berapa banyak waktu yang kelak Mami gunakan untuk berhadapan dengan diri Mami sendiri dan tenggelam dalam perasaan putus asa. Mami ingin mati saja tetapi Mami takut mati dan takut menghadap Hakim, menghadap kebenaran yang sekian jelas.

Mami katakan, semuanya akan lewat! Perhatikanlah wanita tua yang selalu ada di gereja dan yang selalu mempersembahkan karangan bunga kepada Perawan Tersuci. Semua orang katakan dia sangat saleh dan baik. Memang benar! Tetapi pernahkah Mami melihat dia tersenyum? Pernahkan ia nampak bahagia? Ia tiga kali melakukan pengguguran. Ia coba memperbaikinya dengan harta kekayaannya. Tetapi sekarang meskipun ia berbuat banyak kebaikan dan berdoa, tokh ia tidak dapat menemukan kebahagiaan itu.

Mami, saya sayang Mami, saya masih mencintai Mami!

SI KUNCUP

Ditulis dalam Si Kuncup | Tinggalkan sebuah Komentar »

Si Kuncup : (6) Dibuang?

Posted by asro pada 31 Desember 2008

Mami tersayang,

Malam ini Mami tak dapat tidur. Saya mendengar keluhan-keluhan Mami. Saya rasakan air mata Mami. Saya juga tak dapat tidur, meskipun di sini selalu malam, selalu gelap. Betapa saya rindu melihat terang, melihat benda-benda, melihat aneka warna, bermain-main dengan barang-barang mainan, mempunyai kawan bermain, berbicara dan bercinta!

Betapa indah tentunya dapat bergerak, merenggangkan tangan dan kaki, berjalan-jalan dan memperhatikan hal yang indah-indah dan benda-benda yang diciptakan Allah untuk kita! Betapa aku rindu meneliti sekian banyak benda-benda ajaib, bersahabat dengan manusia lain, mengenal dunianya dan mencintai mereka! Terlebih -lebih betapa saya rindu melihat wajahmu, matamu, senyummu dan senyum kembali kepadamu, Mami!.

Saya ingin hidup. Pasti indah kehidupan itu! Orang ceritakan bahwa sesudah hidup ini kita akan pergi ke suatu negeri yang indah, jauh ……………………. sangat jauh di atas awan, tempat diam banyak anak kecil.

Mereka bermain-main di bawah sinar matahari yang lembut, di taman-taman yang permai, di antara bunga-bungaan yang beranekawarna. Juga burung-burung sangat jinak dan bernyanyi untuk anak-anak serta bermain-main dengan mereka. Di sana anak-anak dapat memperoleh semua permainan yang mereka suka; di sana berdiamlah seorang Bapa Pengasih yang menjaga dan membahagiakan mereka sebahagia-bahagianya. Mami, saya harap suatu waktu Mami akan menghantar saya ke taman yang indah itu. Di sana Mami menemani saya bermain.

Tetapi mengapa Mami menangis?

Saya mengerti! Mami kebetulan menangkap isi bisikan orang tua Mami. Mereka membicarakan sesuatu yang ngeri. Mereka merencanakan membunuh si Kuncup agar ia tidak lagi menulis surat kepada Mami.

Mereka merencanakan melakukannya sekarang justeru ketika si Kuncup masih sangat kecil, masih belum dikenal oleh dunia, masih tidak dapat dibela dan berteriak kepada seorang pun untuk mengatakan bahwa si Kuncup ingin hidup, si Kuncup punya hak untuk hidup, si Kuncup manusia biasa seperti kalian, seperti mereka, seperti semua orang lain yang merasa hidupnya penting dan perlu dipelihara.

Semula si Kuncup sangka bahwa kakek-nenek si Kuncup akan senang dan menerima kedatangan si Kuncup dengan gembira, bahwa dunia yang akan si Kuncup masuki adalah dunia cinta, dunia persaudaraan, dunia keadilan, suatu dunia manusia. Tetapi kini Kuncup mulai sadar bahwa dunia itu bagaikan hutan rimba, tempat binatang-binatang buas. Kiranya sampaikan kepada orang tua Mami bahwa Kuncup tidak mau mati, bahwa Kuncup mau melihat terang, bahwa Kuncup ingin menjadi besar, kuat, bijaksana dan baik.

Mami, kerahkanlah kekuatanmu dan sampaikan kepada mereka bahwa mereka juga akan menjadi tua, kesepian dan membutuhkan Mami. Mereka akan sakit, tidak berdaya dan lemah ingatan. Mereka akan membutuhkan Mami. Mereka akan membutuhkan cinta dan perawatan yang baik. Mereka pasti tidak akan mau dianggap sebagai beban yang membosankan Mami. Tetapi jika sekarang mereka mengajar Mami dan memaksa Mami membunuh anak Mami karena ia dapat menjadi beban dan memberi malu kepada mereka dan kepada Mami, tanpa sadar mereka mengajar Mami agar suatu saat Mami boleh membunuh mereka juga. Betapa mudah!

Apakah mereka lebih berhak untuk hidup daripada saya?

Apakah Mami lebih mencintai orang-tua daripada anak Mami sendiri? Sekali orang telah menuntut hak mengambil hidup manusia dalam tahap permulaannya, dengan hak apa hidup itu dapat dipertahankan pada tahap-tahap selanjutnya? “Pembunuhan bayi” membuka jalan kepada “Pembunuhan orang-orang dewasa”. Inilah suatu masa depan yang mencemaskan yang Mami ciptakan untuk diri Mami sendiri. Mami menghancurkan cinta dan kepercayaan antara keluarga-keluarga terdekat; Mami mendatangkan kebencian dan kecurigaan yang dalam; Mami melenyapkan kegembiraan dan kebahagiaan.

Ketakutan akan meracuni hidup Mami.

Ketakutan bahwa keluargamu, dokter-dokter, negara boleh merencanakan kematianmu bila hidupmu tidak berguna lagi, bila kalian dianggap telah menjadi beban bagi orang lain. Sekali bila kalian telah membinasakan keluhuran hidup manusia, setiap kehidupan manusia, kalian tidak punya hak lagi untuk dihormati dan dicintai justeru karena kalian adalah manusia. Kalian dihargai hanya kalau dianggap masih berguna, masih menarik atau masih dapat memberikan sesuatu. Kalian dianggap kehilangan hak untuk hidup dan dicintai hanya atas dasar dirimu sendiri. Suatu pendewaan diri sendiri akan disisipkan ke dalam pergaulan antar manusia. Kalian sangka, kalian hanya membinasakan saya tetapi kenyataannya kalian tengah membinasakan diri dan masyarakan kalian sendiri. Izinkan saya mengutip kata-kata seorang pujangga: “Jangan pernah bertanya untuk siapa bunyi lonceng. Lonceng berbunyi untuk anda juga“.

SI KUNCUP.

Ditulis dalam Si Kuncup | 2 Komentar »

Sikuncup : (5) Beranilah!

Posted by asro pada 11 Desember 2008

Mami tersayang,

Sungguh-sungguh saya tak dapat mengerti.   Sangat gelap di sini!   Saya dapat merasakan Mami.   Saya dapat menyentuh Mami dari segala sudut.   Saya dapat membaca hati dan pikiran Mami.   Tetapi saya tidak dapat memandang wajah Mami.   Betapa gembiranya bila saya sanggup membayangkan wajah  Mamiku tersayang.   Berapa lama lagi saya harus menanti dalam kegelapan ini?

Betapa intimnya kita menghayati hidup ini bersama-sama!   Tak pernah saya begitu merasa jadi milikmu seperti hari ini!   Jantung-jantung kita berdenyut dalam satu nada;   darah Mami mengalir ke dalam urat-urat nadiku.   Saya milik Mami dan Mami milikku.   Setiap yang memacu denyut jantung Mami, memacu denyut jantungku pula.   Perasaan-perasaan Mami menjadi perasaan-perasaanku, hidup kita terlebur jadi satu.

Pagi tadi saya melihat Mami bicara dengan oma.   Dengan ragu-ragu, Mami duduk dekat oma sementara beliau membaca di sofa.   Kalian berdua sendirian.   Ayahnya Mami, opaku, telah pergi kerja.   Mami bersandar pada bahu oma, menyembunyikan wajah di belakangnya dan berbisik : “Mami, saya harus menyampaikan sesuatu kepadamu ………………… saya hamil…………………..”.

Segera setelah rahasia yang lama terpendam itu lepas dari bibir Mami, Mami hampir pingsan.   Begitu cepat denyutan jantung Mami.   Mata Mami menyuram!   Beberapa saat setelah mata Mami bertemu dengan mata oma, Mami merasa hancur berantakan.   Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut oma.   Tetapi Mami dapat membaca dalam mata itu rasa sedih dan terkejut, seolah-olah sebilah belati telah ditancapkan pada jantungnya.   Kalau dapat rasanya Mami mau lenyap ke perut bumi.

Lalu oma menutup wajahnya dengan kedua belah tangan sementara Mami sia-sia menantikan sepatah kata, hanya satu kata saja.   Jantung Mami membeku dan Mami tenggelam dalam gelap serta tidak sadarkan diri.   Betapa mengerikan, menghina cinta orang tua, menghancurkan kebanggaan dan harapan-harapan mereka!   Oma sekian terpukul sehingga ia tidak mampu mengucapkan sesuatu, bahkan sepatah kata saja sebagai tanda pengertian yang sekian Mami perlukan di saat itu.

Saya yakin, sore ini oma akan berbicara dengan opa tentang Mami dan saya.   Saya sangat sedih karena menjadi pangkal sekian banyak kesusahan dan kesedihan.   Tetapi Mamiku tersayang, beranilah!   Kita berdua masih muda.   Kita nekad mau hidup.   Masih banyak hari menantikan kita : kita masih dapat berbahagia karena saling bercinta.   Mami akan mengalami salah satu dari kegembiraan-kegembiraan terbesar dalam mendekapkan kedadamu, seorang anak, milikmu sendiri, yang akan meneruskan hidup Mami.   Ia belahan Mami sendiri.

Mami harus mampu mengatasi pengalaman yang mengerikan ini.   Mami harus mampu bertahan.   Mami lihat, kini orang-tua Mami sekian terkejut dan sedih sehingga dapat saja mereka terdesak untuk mengambil suatu keputusan yang gegabah yang kelak pasti mereka sesalkan.   Jika Mami mampu menolak rencana mereka justeru pada saat ini dan berani menanggung akibat-akibat kesalahan Mami, suatu hari mereka tentu bangga akan Mami.   Setiap kita kadang-kadang melakukan kesalahan.    Begitulah manusia, tak seorangpun akan heran.   Tetapi membunuh anak sendiri hanya dengan maksud untuk menutup-nutupi kesalahan adalah suatu kemunafikan besar, suatu cinta diri yang berlebihan, suatu kekecutan hati yang memalukan, suatu kejahatan yang keji.   Beranilah Mami.   Masih ada cinta dan hormat terhadapmu.   Puteramu akan mencintai Mami selama-lamanya!

SI KUNCUP

Ditulis dalam Si Kuncup | 1 Komentar »

Si Kuncup : (4) Malu?

Posted by asro pada 3 Desember 2008

Mami tersayang,

Kini saya mengerti mengapa Mami begitu bingung.  Mami katakan, Mami malu.  Ketika pertama kali saya menulis kepada Mami bahwa saya ada di sini, Mami tenggelam dalam lautan kebingungan dan kegelisaan.  Semuanya disebabkan karena Mami malu.  Malu karena apa?  Mami katakan bahwa saya datang ke dunia ini melalui jalan yang salah, bahwa saya tidak punya ayah.  Mami katakan juga bahwa semuanya jadi disaat Mami dalam kelemahan, ketika Mami lengah, tatkala  Mami lupa bahwa Mami adalah seorang gadis dari keluarga baik-baik dan terhormat, bahwa hingga saat itu Mami terhitung anak yang terpuji.  Memang Mami tak pernah menyangka bahwa hal itu akan terjadi.  Bahwa Mami tidak tahu pasti apa arti semuanya itu.  Mami hanya sekedar  ingin mendapat  pengalaman tentang apa yang kerap didengar dari kawan-kawan dalam percakapan dan obrolan yang bersifat rahasia, terlarang tetapi nikmat.  Namun yang manis segera berubah menjadi pahit.  Kemurnian, ketenangan dan perasaan damai Mami lenyap.  Tambahan lagi kawan lelaki yang sangat bermulut manis itu menghilang dan akhirnya seperti tidak tahu-menahu tentang keadaan Mami.

Kini Mami malu menceritakan semuanya kepada orang tua Mami.  Apa reaksi oma dan opa?  Apa yang akan mereka katakan?  Apakah mereka akan mengusir Mami?  Apakah mereka masih akan mencintai Mami?  Berapa banyak kali Mami berada dekat oma dan coba meluapkan segala sesuatu kepadanya, tetapi batal.  Mami tidak punya keberanian!  Kata-kata tak dapat keluar dari Mulut Mami;  Mami mencahari langit yang hampa; Mami kembali kedalam diri sendiri dan mulai tenggelam dalam lorong yang gelap menuju tempat di mana Mami dapat sibuk dengan diri sendiri.

“Bagaimanapun juga”,  pikir Mami, “tidak akan jadi apa-apa; saya harus mengatasinya dan melupakannya.”

Tetapi tidak mungkin! Sesudah menerima suratku yang pertama, Mami jadi pasti.  Dan sekarang?  Mami harus sampaikan kepada mereka, Mami tidak bisa lagi menghindar.  Mami tidak tahu apa reaksi mereka, penyelesaian apa yang mereka pilih dan usulkan, apa yang akan terjadi atas diri Mami.  Mami malu karena menodai kehormatan keluarga Mami.  Seandainya Mami sanggup, satu-satunya jalan ialah melarikan diri, lenyap dari pandangan orang, hilang tak berbekas.  Dengan itu mungkin semuanya teratasi.  Namun dapatkah melarikan diri dari diri Mami sendiri?  Dapatkah menjinakkan suara bathin Mami?

Mami tersayang, lupakan masa lalu dan marilah bersama kita berkayuh ke depan.  Kita sama-sama akan berbagi rasa, berbagi kegembiraan dan juga rasa malu;   Mami malu karena menjadi ibu yang tidak syah, saya malu karena menjadi anak yang tidak diakui.  Kita akan saling bercinta.  Kita akan bersama-sama membangun dunia kecil kita.  Jika sesewaktu kita harus menderita, kita akan sembunyikan airmata kita dari dunia ramai karena masyarakat tidak mampu mengerti.  Air mata kita akan berubah menjadi butir-butir mutiara di hadapan Allah.

Mereka katakan kepada Mami bahwa yang terpenting ialah menyelamatkan diri Mami karena  yang paling berharga adalah kehormatan diri dan kehormatan keluarga Mami.  Harus dihindarkan sedapat-dapatnya menjadi malu di depan umum.  Jika berhasil Mami akan menjadi lebih baik, lebih suci, lebih murni, lebih sopan dan menawan.  Seandainya tidak, akan timbul kemunafikan yang sangat hebat dan terbeberlah perbuatan tak adil yang kejam itu.

Saya telah membaca pikiran yang memalukan itu dalam benak Mami.  Saya gemetar.  Tetapi saya lebih suka  tidak percaya.  Tidak, sekali lagi tidak!  Tak mungkin Mamiku tersayang merencanakan kejahatan itu!

KUNCUP

Ditulis dalam Si Kuncup | Tinggalkan sebuah Komentar »

Si Kuncup : (3) Ada Apa?

Posted by asro pada 26 November 2008

Mami tersayang,

Malam tadi, ketika saya sampaikan berita besar kepadamu tentang kehadiranku dekat jantungmu, saya kira saya tengah membawakan suatu kegembiraan yang paling besar yang dapat dimiliki seorang wanita di atas bumi.  Bukankah menjadi ibu adalah sesuatu yang agung?  Tidak indahkah menjadi sumber hidup seorang manusia baru, menjadi partner Allah dalam menciptakan sesuatu yang sangat bernilai di bumi ini?  Apakah Mami memiliki sesuatu yang lain yang lebih berharga dari pada hidup?  Bayangkanlah kembali tentang kegembiraan masa kecil Mami; tentang cinta oma dan opa; tentang semua yang indah-indah yang Mami nikmati; tentang impian kebahagiaan ketika Mami sebagai seorang anak kecil terbaring di atas tempat tidur dengan mata terbeliak lebar menghitung bintang-bintang di loteng kamar Mami dan tersenyum kepada oma yang dengan penuh cinta membungkuk membelai Mami.  Mami adalah kesayangan oma.  Mami merasa begitu yakin seolah-olah langit adalah milik Mami sendiri.  Sayapun mengimpikan, suatu hari akan menikmati kebahagiaan yang sama, jadi kesayangan Mami.

Tetapi ada apa?  Betapa mengecutkan hati ketika melihat bahwa Mami menangis sepanjang malam di tempat tidur, tanpa lelap sekejap pun.  Saya melihat Mami sekian bingung dan gelisah.  Mami menahan tangis  dengan menekan ujung selimut menutup mulut Mami.  Saya merasakan kebingungan Mami, kekecewaan, kegelisahan dan keputusasaan.  Sekarang Mami demam dan tak dapat bangun.  Saya sangat menyesal karena menjadi biang-keladi penyakit Mami.  Tetapi saya tidak mengerti , mangapa!

Maafkan saya, Mami!  Mami tahu, saya mencintai Mami lebih dari diriku sendiri.  Saya rela mempertaruhkan hidupku demi kebahagiaan Mami.  Orang katakan hidup saya belum terlalu penting.  Siapa tahu mungkin kelak saya akan menjadi seorang suci atau penjahat, seorang pahlawan atau pengkhianat atau barangkali hanya seorang dari manusia-manusia biasa yang tak terbilang jumlahnya, seorang di tengah massa yang dikenal oleh beberapa teman saja, tidak diketahui oleh banyak orang, sekedar memenuhi salah satu kolom statistik?

Tetapi biar pun demikian, saya mencintai anugerah kehidupan, saya rindu terang, rindu kebahagiaan, rindu mencintai.  Mungkin hidupku akan memiliki keindahan hal-hal kecil, hal-hal biasa, hal-hal yang nyata, hal-hal yang hanyalah butir-butir kebahagiaan.

Biarkanlah hidupku hanya jadi salah satu dari mereka: suatu butir kebahagiaan yang dapat dinikmati bersama orang lain.

Mengapa Mami menangis?  Mengapa cemas?  Allah akan memelihara saya!

Mami, katakanlah kepadaku satu hal ini saja : Ada apa, Mami??

SI KUNCUP.

Ditulis dalam Si Kuncup | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.