Asro Pun’ Blog

Process Equipment Control : (4) Boiler Control

Posted by asro pada 30 Januari 2009

Boiler merupakan salah satu peralatan proses yang berfungsi memproduksi steam/uap. Steam yang dihasilkan tersebut akan digunakan untuk berbagai macam keperluan, antara lain sebagai penggerak turbine dan sebagai media pemanas dalam unit proses.

Seperti terlihat pada gambar berikut, air (feedwater) dimasukkan ke Boiler dan dipanaskan, dalam hal ini oleh panas hasil pembakaran fuel sehingga menghasilkan steam. Fuel yang digunakan bisa fuel gas atau fuel oil atau keduanya (selain dari hasil pembakaran fuel, panas yang digunakan juga bisa berasal dari sumber lainnya, seperti pembakaran batu bara, kayu/ampas, atau media pemanas lainnya).

boiler-control-11

Secara umum, tujuan sistem kontrol pada boiler adalah agar produk steam yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang dikehendaki  sambil tetap menjaga agar boiler dapat beroperasi dengan efisien dan aman.  Secara garis besar, sistem kontrol pada boiler ini terdiri dari:  1) Drum level control; 2) Combustion control; 3) Atomizing control; 4) Blowdown control; 5) Steam temperature control.

Drum Level Control.  Tujuan drum level control adalah menjaga agar level drum (tinggi permukaan air dalam drum) tetap pada setpoint-nya walaupun terjadi perubahan beban ataupun gangguan/disturbance lainnya.  Level drum yang terlalu rendah bisa menyebabkan terjadinya panas berlebih (overheated) pada boiler tubes sehingga tubes bisa menjadi rusak/bengkok/bocor. Sebaliknya level drum yang terlalu tinggi akan menyebabkan pemisahan air dan steam dalam drum tidak sempurna sehingga kualitas steam yang dihasilkan kurang (banyak mengandung air/basah).

Ada tiga alternative/jenis drum level control, yaitu:  1) Single element drum level control; 2) Two-element drum level control; 3) Three-element drum level control.

Single-element drum level control.  Ini merupakan konfigurasi drum level control yang paling sederhana, yaitu hanya menggunakan feedback level control. Disebut single-element karena hanya level drum saja yang dikontrol. Konfigurasi kontrol ini umumnya digunakan pada boiler berkapasitas rendah (<150,000 pounds-per-hour), pressure rendah (<250 pounds-per-square-inch), dan dengan beban yang relative tetap/stabil. Kekurangan konfigurasi control ini adalah sulit mempertahankan level pada setpointnya jika terjadi perubahan beban secara terus menerus.

 boiler-control-2

Two-element drum level control. Konfigurasi ini digunakan untuk mengatasi kekurangan konfigurasi single-element dalam menangani fluktuasi beban, yaitu dengan jalan menambah steam flow control (yang mewakili beban boiler) sebagai feedforward control. Jadi, dalam konfigurasi ini, terdapat dua controller, yaitu level control sebagai feedback dan steam flow control sebagai feedforward control, sehingga disebut dengan two-element control. Konfigurasi ini cocok untuk single drum boiler dengan kondisi pressure/flow feedwater yang relative konstan.

 boiler-control-3

Three-element drum level control. Ini merupakan konfigurasi yang paling lengkap, yang dibentuk dengan menambah feedwater flow control dalam konfigurasi cascade. Penambahan feedwater flow control ini dimaksud untuk mengantisipasi fluktuasi pada flow/pressure feedwater, yang umumnya terjadi pada feedwater line yang menggunakan beberapa pompa (multiple pump) untuk melayani beberapa boiler sekaligus (multiple boiler).

 boiler-control-4

Combustion Control. Tujuan combustion control adalah untuk menjaga pressure steam yang dihasilkan boiler agar selalu sesuai dengan yang dikehendaki (sesuai setpoint-nya). Oleh karena itu, dalam konfigurasi combustion control, steam pressure (biasanya diambil dari steam header) digunakan sebagai master control, outputnya di-cascade dengan fuel flow control dan combustion air flow control (air di sini maksudnya udara). Jika terjadi kenaikan beban (yang ditandai dengan turunnya pressure steam dari setpoint-nya), maka fuel flow control dan combustion air flow control akan bereaksi membuka control valve.  Sebaliknya,  apabila terjadi penurunan beban (yang ditandai dengan kenaikan pressure steam dari setpoint-nya), maka kedua control tersebut akan bereaksi menutup control valve.

Fuel flow control dan combustion air flow control di-interkoneksi untuk menjamin agar combustion air/udara selalu cukup tersedia untuk membakar habis fuel pada kondisi berapapun perubahan flow fuel. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi akumulasi fuel yang tidak terbakar di dalam ruang bakar karena sangat membahayakan (bisa menimbulkan ledakan).  Interkoneksi fuel flow control dan combustion air flow control ini dilakukan melalui selector switch (high dan low), seperti pada gambar berikut.

 boiler-control-5

Dalam konfigurasi ini, apabila terjadi kenaikan beban, maka yang terlebih dahulu bereaksi untuk membuka control valve adalah combustion air flow control baru kemudian fuel flow control. Sebaliknya, apabila terjadi penurunan beban, maka yang terlebih dahulu bereaksi untuk menutup control valve adalah fuel flow control baru kemudian combustion air flow control.

Master control.  Seperti yang dijelaskan di atas, yang menjadi master dalam combustion control adalah pressure steam.  Apabila lebih dari satu boiler digunakan secara paralel, maka perlu ada pembagian beban/load ke masing-masing boiler. Untuk keperluan pembagian beban ini, maka sinyal/informasi yang berasal dari master control akan dikirim ke loading station di masing-masing boiler, seperti pada gambar berikut.  Dengan loading station, operator dapat memberikan bias ke master control. Output loading station akan dikirim ke steam flow control masing-masing boiler.

 boiler-control-6

Kadang kala, untuk pertimbangan efisiensi,  suatu boiler diopresikan pada beban tetap, sedangkan beban boiler lainnya dibiarkan berubah-ubah secara otomatis untuk disesuaikan dengan perubahan total beban.  Untuk keperluan ini, boiler berbeban tetap tersebut dioperasikan berbasiskan beban (based load), dimana sebagai master bukan steam pressure control, tetapi steam flow control.

Fuel flow – air flow control.  Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa salah satu hal yang paling penting dalam combustion control adalah menjaga agar perbandingan fuel flow/combustion air flow (fuel/air ratio) selalu terpenuhi untuk pembakaran yang sempurna.  Data fuel/air ratio diperoleh dari operation test.   Indicator terjadinya pembakaran yang sempurna adalah jika terdapat excess air (oksigen) secukupnya dalam gas sisa pembakaran.  Excess air yang berlebih menyebabkan operasi boiler tidak efisien karena sebagian panas akan diserap oleh kelebihan udara tersebut.  Excess air yang kurang juga mengurangi efisiensi karena sebagian fuel tidak terbakar. Yang lebih berbahaya adalah terakumulasinya fuel yang tidak terbakar dalam ruang bakar karena dapat menyebabkan ledakan.

Fuel/air ratio bisa berubah, antara lain disebabkan oleh perubahan kandungan panas (btu content) dari fuel atau perubahan suhu udara.  Untuk itu maka dalam combustion control perlu ada fasilitas untuk merubah nilai perbandingan ini, seperti diperlihatkan pada gambar berikut.

 boiler-control-7

Perubahan fuel/air ratio bisa dilihat dari perubahan excess air di gas buangan hasil pembakaran.  Dari informasi mengenai perubahan excess air ini (melalui pengukuran dengan O2 analyzer), operator merubah ratio ini dengan cara memberikan bias seperti pada gambar diatas.

Apabila fuel yang digunakan adalah fuel gas, maka sebaiknya dilengkapi dengan pressure compensation untuk mengatasi fluktuasi pressure pada supply fuel gas.  Jika menggunakan fuel oil, maka diperlukan atomizing control agar pembakaran fuel oil bisa lebih sempurna.  Atomizing control akan dibahas pada topik tersendiri.

 boiler-control-8

Apabila menggunakan dua jenis fuel (fuel gas dan fuel oil), maka hasil pengukuran fuel gas flow dan fuel oil flow dijumlahkan dulu baru dikirim ke total fuel flow control sebagai measurement/process variable (PV) dan ke combustion air high selector switch, seperti diperlihatkan dalam gambar diatas.  Selanjutnya, output total fuel flow control dikirim ke masing-masing flow control fuel oil dan fuel gas melalui pembagi (FY2) dan FY3).  Besarnya porsi fuel oil dan fuel gas di-set oleh operator melalui hand control (HC).  Penggunaan high selector (>) sebelum control valve dimaksud untuk mengantisipasi fluktuasi pressure pada line fuel.

Oxygen control.  Seperti yang sudah dijelaskan bahwa untuk mengatasi perubahan fuel/air ratio, operator memberi/mengubah bias secara manual dengan berpedoman pada excess air hasil pengukuran O2 analyzer.  Jika kandungan panas (btu content) dalam fuel berfluktuasi secara terus menerus, maka akan lebih baik jika adjustment fuel/air ratio tersebut tidak dilakukan secara manual, melainkan secara otomatis.  Hal ini dapat dilakukan dengan menambah/menggunakan O2 control, seperti gambar berikut.

 boiler-control-9

Nilai optimal excess air pada operasi boiler tidak tetap, tetapi bergantung pada beban boiler, pada beban rendah nilai optimal excess air tinggi, sebaliknya pada beban tinggi nilai optimal excess air rendah.  Nilai optimal excess air pada suatu boiler diperoleh dari plant/operational test, salah satu contohnya seperti diperlihatkan pada tabel berikut.

 boiler-control-10

Setpoint untuk O2 control (AC) akan mengikuti nilai pada tabel tersebut sesuai perubahan beban, seperti terlihat pada konfigurasi kontrol di atas (dijalankan di AY).

Fuel/air ratio juga diperoleh dari plant/operational test.  Tabel berikut adalah contoh fuel/air ratio dari hasil test tersebut.

 boiler-control-111

Fungsi fuel/air ratio ini akan dijalankan/dieksekusi di FY1 (lihat gambar di atas).   Automatic bias untuk fuel/air ratio dilakukan di FY2 dengan menggunakan formula berikut:  Bias air flow = (air flow/(0.4 x output oxygen control + 80)) x 100.

Atomizing Control.  Pada boiler yang menggunakan fuel oil, diperlukan proses atomizing untuk memecah-mecah molekul fuel oil sehingga proses pembakaran berjalan dengan sempurna. Salah satu jenis proses atomizing ini adalah dengan menggunakan steam atomizing, yaitu dengan cara memberi tekanan (dengan menggunakan tekanan steam) pada nozzle penyemprot fuel oil.  Agar proses atomizing ini selalu berjalan dengan sempurna pada berbagai kondisi tekanan/pressure fuel oil maupun steam atiomizing , maka digunakan sistem kontrol yang disebut atomizing control.  Tujuan konfigurasi atomizing control adalah menjaga beda tekanan (pressure differential) antara atomizing steam dan  fuel oil yang menuju burner agar tidak berubah, seperti diperlihatkan pada gambar di bawah ini.

 boiler-control-12

Blowdown Control.   Blowdown system dalam boiler berguna untuk mengontrol kandungan solid dalam feedwater agar tidak berlebih.  Kandungan solid dalam feedwater akan terikut ke steam yang diproduksi, sehingga apabila kandungan solid dalam feedwater tinggi, maka kandungan solid di steam juga akan tinggi, sehingga bisa menurunkan kwalitas steam yang dihasilkan.  Selain itu, kandungan solid dalam feedwater yang berlebih juga akan menyebabkan terjadinya kerak/scale pada pipa/tube/drum sehingga selain peralatan tersebut cepat rusak,  juga efisiensi boiler menurun karena kehadiran kerak tersebut akan mengurangi area perpindahan panas (heat transfer area).

Ada dua jenis blowdown, yaitu intermittent blowdown dan continuous blowdown.  Intermittent blowdown dioperasikan secara manual oleh operator, berdasarkan hasil pengukuran kwalitas feedwater (pengukuran electrolytic conductivity dalam feedwater) atau hasil pengukuran steam purity dengan menggunakan sodium analyzer. Sedangkan continuous blowdown akan membuang air yang mengandung solid dalam drum secara terus menerus dengan besarnya aliran buangan dikontrol berdasarkan hasil pengukuran/perkiraan jumlah kandungan solid dalam feedwater di boiler drum.

Ada dua jenis sistem kontrol yang digunakan pada continuous blowdown, yaitu conductivity control dan ratio control. Dalam konfigurasi conductivity control, electrolytic conductivity feedwater diukur menggunakan conductivity meter secara online, kemudian sinyal hasil pengukuran ini dikirim ke controller (AC) untuk menggerakan control valve, seperti pada gambar berikut. Semakin tinggi electrolytic conductivity hasil pengukuran conductivity meter, semakin besar bukaan control valve continuous blowdown (semakin banyak air yang dibuang/dikuras), begitu pula sebaliknya.

 boiler-control-13

Continuous blowdown juga dapat dikontrol dengan menggunakan ratio control, yaitu ratio antara blowdown flow dan feedwater flow, seperti diperlihatkan pada gambar berikut. Setpoint untuk ratio control ini ditentukan/diberikan secara manual berdasarkan hasil pengukuran kwalitas feedwater (electrolytic conductivity) atau kwalitas steam (steam purity).

 boiler-control-14

Steam Temperature Control.  Untuk boiler yang menghasilkan steam dengan tekanan tinggi (HP steam), biasanya dilengkapi dengan Superheater – Desuperheater.  Superheater berfungsi menaikan temperature steam yang dihasilkan boiler (saturated steam). Sedangkan Desuperheater digunakan untuk menstabilkan temperature steam yang keluar dari Superheater, dengan jalan menyemprotkan steam tersebut dengan water (feedwater). Untuk menjaga temperature steam selalu stabil pada berbagai beban, maka Desuperheater dilengkapi dengan temperature control, seperti gambar berikut.

 boiler-control-15

Temperature steam yang keluar dari Desuperheater diukur, hasil pengukuran digunakan oleh temperature control (TC) untuk menggerakan control valve pada feedwater line yang  masuk ke Desuperheater.  Bila temperature steam lebih tinggi dari setpoint, control valve membuka untuk menaikan aliran feedwater yang masuk ke Desuperheater, sebaliknya jika temperature steam lebih rendah dari setpoint-nya maka control valve akan menutup.

Perlu diketahui bahwa, dalam prakteknya belum tentu semua  jenis kontrol yang dibahas diatas digunakan, karena penggunaan jenis kontrol tersebut bergantung pada kebutuhan.  Sehingga sering kita temukan  suatu boiler memiliki sistem kontrol yang lebih lengkap dibandingkan dengan boiler lainnya, seperti dua contoh berikut ini.

boiler-control-16

 

boiler-control-171

About these ads

50 Tanggapan to “Process Equipment Control : (4) Boiler Control”

  1. Kidkusti said

    Terima kasih, atas deskripsinya menarik sekali dan menambah ilmu sekali. Sedikit tambahan mungkin masalah yang lain kenapa harus pakai 2/3 element control adalah karean pengaruh “Swell” effect (level cenderung untuk naik untuk sementara waktu, ketika load beban naik) and “Shrink” effect (level cenderung turun untuk sementara waktu ketika feedwater masuk), please CMIIW.

  2. asro said

    Betul, Feedforward kontrol (2/3 element control) dapat sedikit mengatasi “Swell/Shrink effect”, tetapi tidak tuntas. Mengapa? Karena “Swell effect” dan “Shrink effect” memiliki dinamika yang berbeda (tidak simetris) sehingga sulit melakukan tunning pada aksi feedforward.

  3. aji said

    Terima kasih pak deskripsinya. Mau tanya referensinya dari mana ya pak? Buat baca-baca lebih lanjut.

  4. asro said

    Buat Aji, Referensi tulisan ini saya ambil dari berbagai sumber, diantaranya API RP 550, Part IV dan User Manual & Technical Document Boiler yang terpasang di tempat saya bekerja.

  5. dery said

    mas, ada artikel yang memuat spesifik ttg pengendalian di feedwater tidak mas?? terima kasih.

  6. Getux said

    Pak, sequence nya boiler kan banyak sekali, yang diatur menggunakan logic. Nah,bisa jelaskan untuk sequence startingnya ga pak? Trus, kan juga ada five elemen control dan seven elemen control pada control boiler, yang dipakai ketika kita menginginkan respon yang lebih cepat. terima kasih ya pak, sukses selalu.

  7. asro said

    Buat Getux, sequence starting boiler atau biasa disebut burner management, penjelasannya cukup panjang. Saya sudah merencanakan untuk saya bahas pada serie SIS, jadi tunggu saja.

    Mengenai, five dan seven element control pada boiler, saya baru dengar. Ditempat saya konfigurasi ini tidak ada, mungkin ada yang bisa bantu?

  8. Getux said

    Oke pak, trims… Saya orang baru pak di instrument dan kontrol, karena basic saya power system. Namun saya pengen belajar tentang kontrol boiler ini.

    Maaf pak, Saya baru tahu juga pak jika ada five dan seven element control, kemudian saya coba telusuri ternyata memang ada. Kita share aja pak, yang baru saya dapatkan kemarin bahwa untuk five element control, terdapat tambahan elemen untuk feed water control nya. Control utamanya tetap three elemen control, namun pada steam flow measurement ditambahkan temperature compensated, sedangkan untuk level drum measurement dikompensasi dengan pressure. Saya rasa ini masuk akal juga pak, gimana?

    kemudian untuk seven elemen, itu kombinasi five elemen ditambah blow down flow dan sootblower flow. Tapi saya blum paham yang ini… mungkin bapak bisa bantu logikanya gimana.

    Kmudian saya mau tanya pak, jika untuk starting boiler tersebut memakai HFO, kmudian setelah steady maka bahan bakarnya diubah ke coal, pengaturan coalnya gimana pak? apa sama dengan fuel oil?

    Makasih pak.. itu dulu.. Sukses selalu..

  9. saifur said

    weh .. salam kenal mas asro, asyik juga baca blog sampeyan.

    cuman mo nambahin sedikit, akan lebih baik jika tunning saat 1 elemnet dan 3 element di bedakan. AGar action controlnya lebih stabil. serta perlu juga di perhatikan efek bumpless ketika perpindahan dari 1 ke 3 element.

  10. puput said

    bisa bantu saya bagaimana sistem kontrol level air (air kondensasi uap heaternya) pada HPH.
    tempat kerja baru, tapi banyak kesulitan soal itu.
    maklum, pemula.
    terimakasih banyak

  11. Gusti said

    @ Mbak puput : bedakah dengan kontrol level drum diatas??

  12. antic said

    saya orang baru pak,,di instrument&control, basic saya mechanical..thanks a lot tulisannya nambah wawasan banget..

  13. Gusti said

    Tanya pak..

    Bias air flow = (air flow/(0.4 x output oxygen control + 80)) x 100. 0,4 dan 80 dari mana ya pak? makasih…

  14. asro said

    Buat Puput, bisa dijelaskan konfigurasi level controlnya seperti apa? Karena saya belum punya gambaran level control di HPH.

    Buat Gusti, penjelasan untuk rumus di atas adalah sbb: Pada saat excess air sama dengan setpoint O2 control (AC), output AC sekitar 50%, Bias flow air = air flow.
    Jika output AC > 50% karena excess air kurang, Bias air flow < air flow sehingga combustion air dinaikan. Begitu pula sebaliknya.
    Angka 0.4 dan 80 diperoleh dari kondisi saat output AC = 50% (excess air = setpoint AC).

  15. Ramdhan said

    Sore Pak ,
    Mau tanyakan nih , bisakah temperature magnet untuk dipasangkan di Boiler ???
    Atau ada pilihan tertentu untuk temperature di system Boiler …

  16. asro said

    Buat Ramdhan, saya belum pernah menggunakan temperature tipe magnet di boiler.

  17. Gusti said

    Salam pak,

    Pak.. dalam gambar bapak diatas, FY itu apakah flow indikator? Saya bisa minta tolong jelaskan sedikit tentang flow compensation di dalam control combustion air ya pak… Thanks. Sukses selalu….

    best regards,

    • asro said

      FY itu flow calculation, suatu blok kalkulasi yang digunakan untuk perhitungan. Flow compensation yang mana? Bisa diperjelas?

      • Gusti said

        Flow calculation? oo…mungkin berarti sama dengan yang saya maksud flow compensation. Kita liat di Excess air contol saja pak, kan ada FY1 dan FY2.. Isi nya apa pak? Kan dari AC (PID) signalnya MV, terus dikirim ke FY2 yang disana juga sudah ada signal FY1 berupa PV kan?

  18. Gusti said

    Flow calculation? oo…mungkin berarti sama dengan yang saya maksud flow compensation. Kita liat di Excess air contol saja pak, kan ada FY1 dan FY2.. Isi nya apa pak? Kan dari AC (PID) signalnya MV, terus dikirim ke FY2 yang disana juga sudah ada signal FY1 berupa PV kan?

    • asro said

      Saya kira sudah jelas di gambar diatas, AY berisi fungsi yang ada di tabel pertama, FY1 berisi fungsi yang ada di tabel kedua, sedangkan FY2 berisi fungsi “Bias air flow = (air flow/(0.4 x output oxygen control + 80)) x 100″.

      • Gusti said

        Oh.. iya pak.. jelas sekarang .. makasih..
        Kalo boleh tau angka 0.4 dan 80 itu parameter apa ya pak??

      • Gusti said

        Tambahan pak, Saya blum mengerti kata2 ini : “Penggunaan high selector (>) sebelum control valve dimaksud untuk mengantisipasi fluktuasi pressure pada line fuel.”

        thanks and sukses selalu…

  19. rendra said

    bisa bantu saya, bagaimana rumus untuk menentukan kendali PID guna mengatur temperatur pada pembuatan diameter gelas yang berbentuk pipa.
    thanks.

    • asro said

      Mengaplikasikan PID untuk pengontrolan bisa dilakukan dengan banyak alternative, misalnya dengan menggunakan single loop controller atau multiloop controller seperti DCS atau PLC. Algoritma PID sudah tersedia pada semua perangkat controller tsb, jadi kita tinggal menggunakan/mengaktifkan saja.
      Kita juga bisa membuat algoritma PID sendiri untuk dijalankan di mikroprosesor atau PC. Jika itu yang ditanyakan oleh Rendra maka bisa menggunakan algoritma yang sudah saya bahas di beberapa tulisan di blog ini.

  20. suhaeri said

    salam kenal pak,,
    wah lagi pusing nyari2 data ttg DCS, eh kebetulannya nemuin blog bapa,, pa saya minta data2 aplikasi DCS ya,, minta dikirim ke email… kulo nuwun enjih..

  21. asro said

    Data aplikasi DCS seperti apa? Mungkin lebih spesifik.

  22. Indar said

    siang pak, saya kebetulan seorang karyawan baru di power plant, tadi saya melihat bawah ada 3 elemne yg biasa digunakan untuk menentukan bukaan cv pada feedwater, yang ingin saya tanyakan, pada 2 element drum level control, kenapa yang digunakan floe transmitter, bukannya pessure transmitter, mengingat yang dikejar pada keluaran steam drum merupakan pressure steam, dan kenapa dijadikan sebagai feedforward, yang digabung bersama level control sebagai feedback…???
    mohon penjelasannya, terima kasih…

    • asro said

      Fungsi control ini adalah untuk menjaga level steam drum dengan mengatur aliran air (feedwater) yang masuk ke steam drum, sehingga feedback controlnya adalah level steam drum. Pertanyaannya mengapa flow steam yang digunakan sebagai feedforward dan bukan press steam? Seperti yang ada pada tulisan sebelumnya mengenai feedforward control, fungsi feedforward adalah untuk mempertahankan kinerja kontrol dari adanya gangguan pada beban (perubahan beban). Dalam sistem ini, yang menjadi beban adalah jumlah kebutuhan steam, sehingga lebih terwakili jika menggunakan flow steam dari pada pressure, walaupun demikian, kadang-kadang ada yang menggunakan pressure steam sebagai feedforward.

  23. Indar said

    terima kasih atas penjelasannya pak, pertanyaan lain, jika dalam combustion chamber digunakan steam flow sebagai master control apakah bisa? lalu jika terjadi perubahan beban (dalam hal ini MW yang dihasilkan) apakah juga akan mengakibatkan perubahan flow steam, jika iya perubahan seperti apa? apakah steam flow akan menurun jika beban bertambah dan sebaliknya, ataukah steam flow akan meningkat jika beban betambah?
    dalam penjelasan bapak, bapak mengatakan bahwa jika terjadi kenaikan beban, maka steam pressure akan menurun dari SP nya, bagaimana itu bisa terjadi, mohon penjelasannya?
    maaf jika terlalu banyak bertanya…

  24. hestu said

    terima kasih pak penjelasan diatas.kebetulan saya sedang menyelesaikan KKW di pertamina RU2.

  25. hendra said

    salam kenal pak asro..

    bagaimana hubungan masa steam dengan kalori yang dibutuhkan untuk mengubah BFW menjadi steam produk?

  26. Sodikin said

    Om,dalam konfigusi combustion control di atas dijelaskan, kalau t’jadi kenaikan beban,maka yg terlebih dahulu bereaksi untuk membuka control valve adalah combustion air flow control baru kemudian fuel flow control. Sebaliknya,apabila terjadi penurunan beban,maka yg terlebih dahulu bereaksi untuk menutup control valve adalah fuel flow control baru kemudian combustion air flow control.
    Nhah,yg mau saya tanyakan mengapa kok disetting demikian?
    Misalkan dibalik apa yg akan terjadi?
    Dan bagaimana setting konfigurasi tersebut?

  27. sodikin said

    om, mo nanya nih,. Dalam konfigurasi combuston control di atas, apabila terjadi kenaikan beban, maka yang terlebih dahulu bereaksi untuk membuka control valve adalah combustion air flow control baru kemudian fuel flow control. Sebaliknya, apabila terjadi penurunan beban, maka yang terlebih dahulu bereaksi untuk menutup control valve adalah fuel flow control baru kemudian combustion air flow control.
    mengapa demikian om???aku kurang paham,.dan itu bagaimana konfigurasinya???
    mohon bantuannya ya om….
    kirim ke email aku juga boleh,,.

  28. sodikin said

    maksudnya gini om,kenapa saat beban naik, harus combustion air flow controlnya dulu yang buka??
    dan saat beban turun, kenapa harus fuel flow controlnya yang duluan nutup???

    • asro said

      Kalau fuel flow control valve dulu yang buka (pada kasus beban naik) atau combustion air dulu yang tutup (pada kasus beban turun), maka bisa saja terjadi jumlah fuel akan lebih banyak dari combustion air, sehingga masih ada sejumlah fuel yang tidak terbakar, inilah yang dihindari.

  29. Hendro said

    Pak Asro, adakah buku teks yang menjelaskan mengapa air flow control duluan baru fuel control?

  30. ita said

    mau tanya ne apa sih bedanya superheater dan desuperheater?

  31. Fajar said

    bpk punya pemodelan matematis utk boiler 400 or 600MW tidak?

    biasanya saya dpt dari jurnal ieee yg berkapasitas 160MW saja!

    trus ada metode yg mudah tdk utk penurunan model matematis dari suatu boiler? trima kasih pak!

  32. juansyah said

    Saya pernah baca tree element control pada buku yokogawa, tapi kurang ngerti hubungan antara flow steam untuk input menjadi fungsi f(x) untuk apa keluaran dari fungsi tersebut ? Makasih pak untuk sharingnya.

  33. halim said

    Dear Pak Asro,,
    Saya punya tugas untuk Telaah Staff (syarat pengangkatan karyawan). Tema yang saya ambil adalah sistem monitoring and controlling kadar oksigen pada feedwater (air pengisi buat boiler). Sistem removing oksigennya ditempat saya menggunakan Hydrazine, tapi pada feedwater tidak dilengkapi dengan sensor oksigen (yang ada hanya sensor untuk kadar hydrazine tersebut). Nah saya berencana menambah sensor oksigen agar oksigen terkontrol dan hydrazine bisa dipake secara efisien. Yang saya tanyakan bagaimana sistem instrumentasi sistem monitoring and controlling tersebut (bagaimana P&IDnya)? Jenis kontrol apa yang biasa digunakan? bagaimana cara kerjanya? Kalau produk sensor dan transmitter yang Bapak rekomendasikan kira-kira apa yah?
    Sekiranya Bapak punya data pendukung terkait masalah diatas, jika bapak tidak keberatan mohon di kirim ke email saya..
    Terima kasih banyak Pak sebelumnya,,:D

  34. argadiawan ganda said

    Pak boleh minta alamat emailnya bapak ? saya butuh diskusi banyak ttg matkul saya pak . trims .

  35. FAZLIE said

    adakah selamat sekiranya didalam boiler hanya terdapat satu sahaja controller yang mengawal paras air dalam drum iaitu water level controller. boleh terangkan kepada saya bagaimana installation untuk feed water pump recirculation valve dan kelebihan penggunaannya dengan lebih terperinci.

  36. FAZLIE said

    boleh tunjukkan kpd saya controller valve jenis mekanikal(tidak menggunakan tenaga pneumatik or electrik) dan drawing installationnya pada feed water pipeline. tima kasih bangat.

  37. karir4u said

    blog yang informatif dan kaya pengalaman. Apakah ada pembahasan sistem SCADA Boiler ?

  38. thanks semua infonya

  39. Jatmiko said

    Nice info, very help to me.

  40. Septian said

    Terima Kasih , Sangat berguna sekali pak …

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: